Affair (Faira)

Affair (Faira)
Patah Hati



Di lain benua dan lain negara. Di sebuah klub malam paling eksotis di ibukota milik salah seorang anak dari anggota dewan yang terhormat.


"Bos aku minta ijin pulang terlebih dahulu, istriku mau melahirkan," ucap salah seorang bartender milik Raka. Raka lalu melihat ke sekeliling. Ini malam Minggu bar sedang terlihat ramai oleh aktifitas pengunjung. Dua bartender saja tidak akan bisa melayani banyaknya pengunjung yang hadir.


"Kau pulang saja Ton, biar aku menggantikan dirimu," kata Raka lalu berjalan ke dalam bar guna melayani pengunjung.


"Tapi," kata Toni bingung.


"Aku memang bosmu tetapi aku juga sahabatmu dari SMU, sesama sahabat harus saling memahami. Cepat sana pergi temui istrimu jangan biarkan dia melahirkan sendiri tanpa ada kau di sisinya," kata Raka.


Toni mengusap setitik air di pelupuk matanya. "Terima kasih sampai saat ini kau tidak berubah walaupun kau sudah menjadi orang besar."


"Sebesar apapun dirimu aku tetap manusia yang sama," balas Raka. Sepeninggal Toni, Raka mulai melayani para tamu.


"Bang, whiskeynya satu," pesan Elsa pada Raka. Raka menganggukkan kepalanya.


"Tan, sudah lupakan saja dia. Dia tidak pantas untukmu," ucapnya.


"Kau lihat mereka," tunjuk Intan pada sepasang muda mudi yang sedang tertawa memadu kasih.


"Lihat, ditanganku saja masih ada cincin pertunangan kami dan dia dengan mudahnya memutuskan hubungan yang telah kita jalani selama tiga tahun. Padahal tiga bulan lagi pernikahan kita akan dilangsungkan," ucap Intan serak berapi-api tetapi dengan suara yang ditahan.


"Haruskah aku menyerah?" tanya Intan menjatuhkan wajahnya ke meja bar.


Raka yang sedang meracik minuman itu melirik ke arah Intan lalu melihat ke arah yang ditunjuk oleh wanita itu. Dia biasanya tidak peduli pada orang disekitarnya, tapi kali ini dia penasaran mendengar penuturan wanita itu.


"Ini Nona." Raka memberikan pesanan minuman pada Elsa. Elsa lalu melirik pada Intan untuk melihat ke arah pria tampan itu namun Intan yang sedang galau tidak memperhatikannya. Akhirnya Elsa tersenyum manis pada petugas bartender yang kelihatan keren secara penampilan dan terlihat tampan pula walau wajahnya tertutupi topi sebagian.


"Minum ini, ini akan membantu moodmu," tawar Elsa pada Intan.


"Ini minuman keras, aku tidak meminumnya," jawab Intan menolak gelas itu.


"Aku pesan soda saja," kata Intan.


"Whatever," kata Elsa meminum pesanannya. Sedangkan Intan meminta soda pada Raka.


"Wanita yang manis," batin Raka. "Sangat langka ada wanita yang datang ke klub malam tanpa minum barang seteguk."


Raka lalu mengambilkan soda pesanan Intan dan memberikannya.


"Aku mau ke belakang," pamit Intan pada Elsa. Elsa menganggukkan kepalanya. Sepeninggal Intan, Elsa lalu melihat ke arah Sofi, wanita yang telah merebut Intan dari Bram. Wanita itu memberi aba-aba.


Elsa diminta oleh Sofi, teman kampus dulu untuk mempermalukan Intan. Wanita itu mau membayar mahal untuk itu. Dia ingin Intan terlihat buruk di mata kekasihnya sehingga Bram merasa jijik dan tidak ingin kembali padanya.


Sedangkan Intan adalah teman Elsa di tempat kerja. Walau Elsa selalu terlihat baik namun dia iri melihat Intan yang sering mendapatkan promosi dari kantor, padahal dia lebih dahulu ada di sana.


Raka menaikkan kedua alisnya ketika melihat Elsa sedang memasukkan sebutir obat ke dalam minuman Intan. Raka bisa mengetahui jenis apa obat itu, dia juga pernah mengkonsumsinya di masa muda. Tetapi hanya coba-coba, dia tidak segila itu untuk menjadi contoh yang buruk bagi adiknya, Faira.


Intan lalu kembali dari toilet dan mulai minum bersama Elsa. Tidak lama kemudian ada pria yang mendekati mereka, Elsa lalu pergi melantai bersama pria itu sedangkan intan lebih memilih diam di sana.


Intan mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Penglihatannya mulai kabur dan dia mulai meracau tidak jelas. Dia mulai minta minuman keras. Raka terlihat tidak tega tetapi dia tetap memberikannya.


"Kau lihat mereka itu," kata Intan pada Raka yang sedang mengelap gelas. "Pria itu adalah tunanganku," Intan menunjukkan cincin di jari manisnya. "Namun siang tadi dia memutuskan hubungan kami begitu saja. Sialnya, aku belum bisa melepaskan hubungan ini." Gadis itu menangis di meja.


Nampak seorang pria ingin mendekat ke arah Intan tetapi Raka memberi isyarat pada anak buahnya untuk mencegah pria itu mendatangi Intan. Sofi yang melihat dari jauh merasa kesal karena keinginannya tidak tercapai. Orang suruhannya pergi jauh dari Intan.


Raka berpikir wanita ini adalah wanita polos seperti adiknya yang dipermainkan oleh seorang pria. Terlihat jelas ketika wanita itu menolak minuman keras tadi. Namun, temannya yang jahat seperti memanfaatkan situasi Intan.


"Kami akan menikah tiga bulan lagi. Jika aku menyerah maka bagaimana dengan nasib ibuku, dia pasti akan mendapat serangan jantung tiba-tiba karena rasa malu," lanjut Intan melihat ke arah Raka sembari menenteng gelasnya. Wanita itu menangis lagi.


"Sebenarnya apa yang membuat Bram memih wanita itu, apakah tidak berarti hubungan kami selama ini?" tanya Intan pada Raka. Pria itu hanya menaikkan bahunya ke atas.


"Jika karena cantik, aku tidak kalah cantik dengan wanita itu. Jika aku bukan wanita baik, tidak mungkin Bram akan menjaga hubungan kami selama tiga tahun. Jika bicara seksi apa yang kurang dariku, ukuran braku 36 walau tidak terlampau besar tetapi itu cukup terlihat menarik. Apa dia memutuskan aku karena aku tidak pernah mau melayani keinginannya yang mau hal lebih sebelum pernikahan?"


"Untung saja aku tidak mau jika sudah aku akan rugi bandar," celoteh wanita itu terus menerus hingga bar sepi dan tidak ada pengunjung lagi


"Ini hampir pagi kau tidak pulang," kata Raka membangunkan Intan yang tidur di meja. Tangan wanita itu malah mendorong tubuh Raka.


"Tinggalkan aku, Bram, aku membencimu," ceracau wanita itu tanpa membuka matanya.


"Bagaimana Bos! Haruskah kita memesan Taxi untuk membawanya pulang?" tanya pegawainya. Raka berpikir jika bisa saja pengemudi Taxi akan melakukan tindakan pelecehan pada wanita ini. Dia bahkan tidak sadar dirinya sedang berada di mana.


"Biar aku yang membawanya pulang," kata Raka lalu mulai mengambil tas Intan dan mengalungkannya ke leher setelah itu, dia mengangkat tubuh Intan.


Wajahnya seperti menahan sesuatu. "Kau terlihat kecil namun terasa berat," gerutu Raka tetapi tetap menggendong gadis itu.


Raka lalu membawa wanita itu ke mobilnya setelah itu mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya. Sudah satu Minggu ini dia tidak membawa wanita pulang ke rumah.


***


Wah... wah ... Raka ambil kesempatan dalam kelonggaran dan ketidak sadaran Intan atau tidak ya? Bahaya!