Affair (Faira)

Affair (Faira)
Suami Impian



Mereka meneruskan lagi memilih buah tangan yang akan dibawa oleh Faira kembali ke Jakarta. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Faira lalu membayar semuanya setelah itu mereka keluar dari toko.


Tiba tiba handphone milik Faira berbunyi. Dahi Faira berkerut. Membuat Cintya melihatnya dengan seksama. Tombol hijau dia tekan.


"Hallo, bisakah saya berbicara dengan keluarga dari tuan Anninditya Maheswara?" ujar suara dibalik telephon itu. 


"Saya istrinya, anda siapa?" tanya Faira dengan wajah yang terlihat cemas.


"Kami dari pihak kepolisian, memberitahu jika tadi pagi suami anda telah mengalami kecelakaan. Beliau kini berada di Rumah Sakit Mayapada. Dan sedang menjalani perawatan yang intensif."  jawab suara dari balik telephon itu. Nampak jelas raut kecemasan dari wajah Cintya. 


"Kecelakaan!?Saya sedang ada diluar kota tapi saya akan segera datang," seru Faira membuat Cintya yang mendengar ikut panik. 


"Ada apa dengan Mas Ditya, Ra." tanya Cintya dengan wajah yang pucat dan khawatir. 


" Mas Ditya mengalami kecelakaan,Ya? Aku harus segera kembali ke Jakarta saat ini juga."


"Bolehkah aku ikut Ra?" 


"Apa kau yakin?" Tanya Faira. Cintya menganggukkan kepalanya. 


"Tapi kita harus kembali lagi ke rumahku untuk mengambil tas dan barang barangku."


"Tidak usah Ya.  Kau tidak usah mengkhawatirkan apa apa, ada aku, kita bisa membelinya diperjalanan. Waktunya sudah sangat mendesak," larang Faira.


"Baiklah kalau begitu," ujar Cintya lemas. Sudut bibir Faira terangkat sedikit. Menyunggingkan senyum yang samar tidak terlihat. 


Akhirnya setelah tujuh jam menempuh perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, Faira dan Cintya kini telah memasuki pelataran rumah sakit. Mereka segera menuju ruangan informasi untuk menanyakan ruangan Ditya.


"Maaf mba, saya mau bertanya, di manakah ruangan pasien atas nama Aninditya Mahendra," tanya Faira dengan wajah khawatir dan cemas.


"Sebentar mba saya lihat terlebih dahulu." Sejenak petugas resepsionis itu melihat data di layar komputer. "Tuan Aninditya Maheswara korban kecelakaan ya bu?  Dia sekarang berada di Ruang Anggrek no 5 kamar VVIP."


"Di sebelah mana ya mba...?" tanya Faira dengan tidak sabar.


"Anda jalan terus melewati lorong itu, kemudian belok kanan setelahnya mengikuti petunjuk arah yang ada di sana," terang perawat yang bertugas.


"Oh ya terimakasih," jawab Faira, dia lalu melihat Cintya yang telah berlari mendahului Faira. 


Faira menghela nafasnya sambil menggelengkan kepala, "Cintamu masih seperti dulu Cintya."


Brakkk.... 


Pintu kamar Ditya tiba tiba terbuka dengan keras. Ditya yang terkejut langsung menoleh ke arah itu. Dia melihat sosok yang diridukannya selama ini kini ada dihadapannya. Matanya berubah menjadi panas dan memerah.


"Cintya kau kah itu?" ujarnya lirih dengan suara bergetar. Nafasnya berhenti sejenak, dia takut mengedipkan mata. Takut jika ini adalah sebuah mimpi dan akan menghilang ketika dia terbangun.


Nafas Cyntia terengah-engah karena berlari. Matanya memerah, nafasnya terasa sesak dan bibirnya bergetar. Ingin mengatakan sesuatu tetapi lidahnya kelu.


Dia menelan saliva-nya dengan susah payah. Menarik nafasnya dan mulai melangkah. Kakinya terasa lemas dan bergetar.


"Apakah kau baik baik saja Ditya?" tanya Cintya menahan tangisnya.


Melihat kerinduan yang sama di mata Ditya membuat Cintya memberanikan diri untuk berlari ke arah Ditya dan memeluknya. Ditya merentangkan tangannya lebar menyambut kedatangan Cintya. Keduanya larut dalam tangisan kerinduan yang terpendam. 


"Aku merindukanmu sungguh sangat merindukanmu...." ucap Ditya sambil mencium seluruh wajah Cintya melupakan rasa sakit pada telapak tangannya yang digips. 


"Aku tahu, aku pun merasakan hal yang sama," isak Cintya.


"Jangan pergi lagi," kata Ditya dengan suara serak.


"Tapi," ucap Cintya. Dia lalu menoleh mencari keberadaan Faira.


"Kau kemari dengan siapa?" tanya Ditya heran.


"Aku bersama Faira tetapi dimana dia?" kata Cintya.


"Faira?'' gumam Ditya. Ternyata wanita bodoh itu benar-benar membawa Cintya datang. Sebenarnya terbuat dari apa hatinya? Mengapa dia ingin menyakiti dirinya sendiri. Ditya tidak tahu mengapa pikiran Faira senaif itu. Apakah Faira ingin membuktikan jika dia pria brengsek yang menjadi parasit sekaligus suami tidak tahu diri. Ditya mendesah.


"Aku akan mencari Faira?" ucap Cintya yang merasa bersalah dan berdosa pada sahabatnya. Tetapi tangan Ditya menahannya. Dia ingin melihat sampai dimana kesanggupan Faira bertahan.


Faira ingin membuat bara api di rumahnya sendiri dan dia akan menyetujuinya. Apakah Faira akan sadar dengan apa yang dia perbuat atau dia akan tetap terus dengan sifat ingin menang sendiri.


Ditya sudah lelah dengan permainan Faira. Faira menjebaknya dan dia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak dia perbuat.


Faira yang meminta ayahnya sendiri untuk membantu perusahaan Ditya tetapi dia yang dituduh mencari keuntungan dari pernikahan Faira. Setelah itu dia ingin Faira menuntut cerai dan membebaskannya dengan bersikap seolah dia tidak peduli pada wanita.


Tetapi Faira adalah wanita paling keras kepala yang pernah ditemuinya. Dia tetap bertahan walau pernikahan mereka tidak ada cinta hanya, ada penderitaan bagi keduanya.


Kini wanita itu malah mempunyai ide gila untuk menikahkannya dengan pacar lamanya. Kekasih hatinya. Ditya tidak habis pikir. Apakah ini cara Faira agar terlihat sebagai korban dalam pernikahan mereka. Licik.


Faira menatap kedua insan itu dari balik pintu. Air matanya luruh merasakan sakit yang teramat sangat. Tak ada perempuan yang rela diduakan, tapi kenyataan ini tak bisa untuk dihindari. Sakitnya bagai mendapat ribuan sayatan di jantung hati. Dia memegang dadanya yang terasa sesak dan panas, berusaha agar suara tangis tidak keluar dari tenggorokannya. 


"Kak!" panggil Faira ketika melihat kakaknya menghampiri. Kakaknya hanya terdiam dan memeluk adiknya yang sedang patah hati. Dia lalu membawa adiknya pergi menjauh dari neraka yang dia buat sendiri.


"Kau gila merencanakan semua ini, jika ini tidak dilakukan oleh ahlinya kakak tidak bisa menjamin suamimu akan selamat," kata Raka ketika mereka berada dalam mobil.


Faira tersenyum sinis sembari menangis. "Aku tahu kau akan selalu melakukan yang terbaik Kak. Kau tidak pernah mengecewakanku."


"Kau adalah saudaraku satu satunya dan sebagai kakak aku rela melakukan apapun asal kau bisa bahagia," kata Raka.


"Terima kasih karena kau selalu mendukung dan mendampingiku selama ini. Aku sangat menyayangimu, Kak."


"Setelah ini apa lagi yang akan kau lakukan? Kau ingin semuanya seperti cerita novelmu, Ra!" sindir Raka gemas dan jengkel.


"Aku akan membuatnya semuanya berakhir indah untukku, untuk Ditya, dan untuk Cintya. Apakah itu salah?" ungkap Faira mengusap lendir di hidungnya.


"Kau tidak salah hanya saja kau membuat neraka untuk dirimu sendiri,'' cetus Raka mengusap kepala adiknya lembut. Faira lalu bersandar di pelukan Raka.


"Aku ingin mempunyai suami yang menyayangi dan mencintaiku seperti kakak, apakah itu mungkin?" tanya Faira.


"Semoga saja setelah ini berakhir kau akan mendapatkan kebahagiaanmu!"