
Ini terlalu nikmat untuk dilewatkan pertautan bibir, gigi yang saling beradu lidah yang saling menggelitik saling menarik menimbulkan rasa yang aneh.
Punggungnya seperti digelitik hingga ke tengkuk, meremang, menggetarkan dan mendebarkan. Terlena dan terpaku dibuatnya jatuh dalam gelora yang dibuat oleh pasangan itu. Sekali lagi Faira selalu dibuat lupa oleh Evan walaupun dia sendiri membuat pertahanan diri. Evan berhasil melubangi benteng yang diciptakan dan masuk ke dalamnya. Selalu dan seperti itu.
"Ev ... ," desah Faira tertahan.
"Hemmm, Mom sedang apa kalian?" seru Ello membuyarkan hasrat yang sedang berada di puncak kepala. Mereka berdua melepaskan tautan bibir mereka dan melihat ke arah asal suara. Kendrick terlihat menahan tawanya melihat Tuannya bagai maling kepergok warga.
Wajah Evan yang putih berubah memerah seketika, hal yang sama terjadi pada Faira.
Ello terlihat mendekat sembari meletakkan kedua tangan di pinggangnya. Matanya menatap tajam pada Evan.
"Om tidak boleh dekat dengan Mom," kata Ello protektif. "Dia hanya milikku!"
Haruskah Evan senang dengan sikap Ello yang sangat menjaga ibunya atau kesal karenanya.
***
Setelah kepergok, Ello, Faira dan Evan mendadak menjadi orang asing mereka saling diam tidak saling berbicara hingga mereka masuk ke mobil menyusuri jalanan kota Kansas.
Sesekali Evan melirik ke arah Faira yang sedang memangku Ello yang tertidur lelap. Dia mengusap bibirnya dan mengulas senyum samar yang hampir tidak terlihat.
Dalam hatinya bertanya apakah sambutan ciuman itu artinya adalah Faira menerima hubungan mereka. Sepertinya begitu. Batin Evan.
Dia mulai memutar mobilnya menuju ke arah lain. East Missouri Avenue, itu yang terlihat di sebuah palang pinggir jalan.
"Ini sepertinya bukan ke arah apartemen," kata Faira.
"Bukan ini ke arah rumahku," ucap Evan bersemangat.
"Kau, aku tidak membawa apapun?" kata Faira.
"Kau jangan khawatir karena orangku sudah membawa perlengkapan kita ke rumah itu."
"Kau selalu saja merencanakan sesuatu tanpa bertanya padaku terlebih dahulu."
"Aku tadi sudah bertanya dan aku yakin jika jawabanmu adalah iya," balas Evan tenang sembari mengedipkan mata.
Mobil mereka lalu berhenti di sebuah rumah besar dengan pekarangan luas tanpa pintu gerbang tinggi. Hanya pagar setengah badan berwarna putih yang mengelilingi rumah itu.
Evan meletakkan mobilnya di pinggir jalan lalu keluar, memutari mobil dan membukakan pintu untuk Faira.
Dia lalu mengambil Ello dan menggendongnya. Sedangkan Faira melihat keadaan sekitar tempat itu. Sangat biasa untuk ukuran rumah ayahnya yang luas dan besar. Namun terlihat nyaman dan asri.
Faira lalu keluar dari mobil. Seorang wanita bertubuh tinggi dan besar muncul dari dalam rumah.
"Evan akhirnya kau datang juga dan lihat siapa yang datang," teriak wanita itu dengan girang.
"Wah ... Dad, keluarlah ada Evan dan anaknya," teriak wanita itu.
Seorang pria tua dengan rambut beruban dan sedikit rontok di bagian depannya keluar. Tubuhnya sudah sedikit membungkuk dan kecil tetapi jejak tubuhnya yang gagah tinggi besar masih bisa terlihat walau habis dimakan waktu.
Dia memakai kaos Polo dengan garis vertikal perpaduan warna cream dan coklat. Faira bisa melihat diri Evan semasa dia tua nanti. Pasti akan sama seperti itu.
"Siapa?" tanya pria itu terlihat bingung.
"Evan, cucumu Dad!" kata Bibi Marry memasang alat dengar kakek Evan dengan baik. Faira menatap mereka dengan heran. Bagaimana bisa pria itu menghapus ingatannya tentang Evan cuci kesayangannya.
"Evan ... Evan .... Evan... Oh, Ya, cucuku Evan," teriak Antonio senang dia langsung memeluk Evan tetapi dia hentikan ketika melihat anak kecil di gendongan tangan Evan yang sedang tertidur pulas.
"Alzheimer benar-benar menghapus separuh ingatannya," kata Bibi Marry pelan.
Faira menganggukkan kepalanya mengerti.
"Dia anakku Granpa," beritahu Evan.
"Buyutku," ucapnya senang.
"Dia istrimu?" tanya Antonio lagi.
Evan melihat ke arah Faira dan menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin membuat kecewa orang yang telah menolong dari siksaan ayahnya. Orang yang selalu mendukungnya setiap saat sebelum penyakit pikun membuatnya seperti ini.
"Marry bawa mereka ke dalam," kata Antonio berjalan ke depan terlebih dahulu.
"Rumah kami kecil karena aku ingin fokus melihat ayahku setiap hari, bukannya mengurus rumah yang besar. Sedangkan rumah besar kami telah diberikan pada Albert dan Ayah mengajakku pindah ke rumah ini,'' jelas Marry.
Mereka lalu masuk rumah. Evan langsung ke atas kamarnya yang berada di lantai atas untuk menidurkan Ello sedangkan Faira diajak oleh bibi Marry ke rumah bagian belakang.
Sederhana namun tertata rapi dan indah. Mereka bertiga lalu duduk di latar belakang rumah. Bibi Marry ke dapur untuk mengambil teh dan camilannya. Sedangkan Faira bersama Kakek Antonio yang sedang memerhatikannya dengan teliti sedari tadi.
"Wanita Asia yang cantik," ucapnya membuat wajah Faira berseri.
"Jadi kau adalah istri dari cucuku?" tanya Kakek Antonio penuh wibawa membuat Faira terkejut. Sangat berbeda sekali ekspresi Kakek yang tadi menyambutnya dengan ekspresi kakek sekarang.
"Aku ... ," Faira tidak meneruskan kata-katanya tidak tahu harus menjawab apa.
"Apakah status itu diperlukan Kakek?" tanya Faira balik.
"Jika kau menikah dengan sah maka kau dan anakmu akan berhak mewarisi milik Evan," kata Antonio tenang.
"Kenapa bicara warisan bukankah Evan masih muda dan sehat?" tanya Faira tidak mengerti.
"Daddy jangan membuat Faira bingung," kata Marry.
"Ayah akan berubah ekspresinya jika ingatannya sedang kembali," terang bibi Marry.
Faira lalu melihat Kakek Antonio mencoba menebak sesuatu hal. Semua penuh misteri dan Faira harus membukanya satu persatu.