
"Sapu tangan siapa ini?" tanya Faira setelah selesai membalut luka Ello dengan perban.
"Ini punya Om yang menolong Ello di mall," terang Ella pada Faira.
Faira lalu melihat ada sulaman benang emas di ujung sapu tangan putih yang berubah warna menjadi merah. Namun, dia tidak memperhatikan tulisan latin itu.
"Ini pasti punya orang kaya Faira," Cintya menunjuk pada sulaman itu. "Evan."
Mata Faira tiba-tiba membelalak lebar saat melihat tulisan itu.
"Mungkin Evan yang lain," batin Faira bergejolak.Ingin dia bertanya pada Cintya bagaimana ciri-ciri pria itu namun dia merasa tidak enak pada semua orang terutama Ditya.
Faira mendesah. "Evan mengapa kau harus kembali lagi di saat semua mulai membaik."
Faira lalu duduk lemas sembari menggenggam sapu tangan itu.
Sedangkan di belakang mobil yang dinaiki oleh Faira ada sebuah mobil mini bus yang mengikuti dari mereka keluar Mall.
Mobil milik Ditya mulai masuk ke sebuah rumah besar. Rumah yang sengaja di beli untuk keluarga mereka. Faira menempati lantai dua dan Cintya menempati lantai satu. Tetapi semua ruangan di gabung seperti ruang makan ruang santai dan ruang bermain anak jadi ketiga orang itu tetap bercengkrama seperti biasanya.
Mobil mulai memasuki pintu gerbang dan berhenti di depan pintu utama rumah yang besar terbuat dari kayu keras berwarna cokelat dengan ukiran khas Jepara yang indah.
Ello turun di bantu oleh Faira. Anak itu tidak pernah mau terlihat lemah di depan siapapun.
Sedangkan Ella mengambil tas belanja mereka bersama ayah dan ibunya. Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu.
"Faira aku ingin bicara!" pinta Ditya.
"Tidak sekarang Mas Ditya aku mau membersihkan Ello dan membersihkan diriku sendiri."
"Baiklah kita akan berbicara nanti malam!" pinta Ditya.
"Kita sudah bersama selama satu harian ini, sekarang temani Cintya, jangan buat dia merasa jealous dengan kebersamaan kita yang terus menerus," usir Faira.
"Baiklah, aku akan ke lantai atas," ujar Ditya berat.
Menurut pembagian waktu jadwal kebersamaan yang telah di tepati, Faira dan Ditya akan bersama setiap siang hari karena mereka bekerja di kantor dan malam harinya adalah milik Cintya.
Evan yang berada dalam mobil yang membuntuti Faira dari tadi, berhenti tepat di depan rumah wanita itu. Dia hanya bisa melihat pintu gerbang yang tertutup rapat.
"Bagaimana Bos!" tanya anak buah Evan.
"Cari informasi tentang pemilik rumah ini lengkap tidak ada yang boleh kurang!" perintah Evan membuat anak buah mereka saling berpandangan.
"Selain itu cari orang untuk melihat aktifitas rumah ini terutama wanita yang kutabrak tadi. Ikuti kemana pun dia pergi dan apa yang dilakukannya. Laporkan semua padaku," perintah Evan.
"Memang dia siapa Bos!" tanya Kendrick pada Evan.
"Kau mau kupotong gaji 50 persen jika banyak tanya!" seru Evan kesal.
"Tidak Bos jangan dong nanti aku tidak bisa membeli rumah di Ceko," jawab Kendrick.
Evan hanya terdiam.
"Bagaimana dengan jadwal kita yang harus pulang kembali ke Amerika tiga hari lagi Bos?" tanya Kendrick.
"Aku akan di sini hingga waktu yang tidak di tentukan maka minta Darel untuk menggantikan posisiku sementara di perusahaan."
"Apa tidak terlalu berbahaya?" tanya Kendrick.
"Dia adalah adikku!" ujar Evan.
"Adik tidak akan berusaha membunuh kakaknya."