Affair (Faira)

Affair (Faira)
Permasalahan Rumit



Okey yang bingung cerita Raka dan Intan aku teruskan dari episode tentang mereka di bab patah hati sampai wanita unik, jadi rentang waktunya ketika Faira masih berada di Amerika bersama Evan. Dulu aku mau campurkan tetapi ada yang bilang ingin dipisah jadi aku pisah ya.


***


"Pak, Intan bisa jelaskan."


"Sudahlah, lebih baik Bapak tidak punya anak sepertimu dari pada menyusahkan Bapak di dunia sama diakhirat."


"Bapak kok ngomongnya seperti itu," ucap Intan terisak. Tetapi penggilan itu terputus begitu saja."


"Bapak... Bapak ... Bapak... ," panggil Intan putus asa.


Raka sedari tadi berdiri di belakang Intan dia lalu mendekati wanita itu dan memeluknya. Meletakkan kepalanya dalam dada. Timbul rasa bersalah yang teramat sangat dalam dadanya. Dia yang melakukan kesalahan itu namun Intan yang tidak bersalah ikut menuai apa yang dia tanam. Dalam hatinya dia berjanji untuk memperbaiki hidup Intan kemudian.


"Tenang, aku akan perbaiki semuanya," kata Raka.


"Dengan cara apa? Semuanya hancur seketika, kini aku bahkan tidak bisa menunjukkan wajahku pada semua orang. Haruskah aku bersembunyi dari semua orang seumur hidup?"


Raka lalu merenggangkan pelukannya memegang pipi Intan dan merapikan rambut yang menutupi wajahnya. "Beri aku waktu dan aku akan membuat semuanya kembali normal, seperti semula," kata Raka.


"Seperti semula statusku sekarang bahkan sudah berubah," gurau Intan di sela Isak tangisnya.


"Seorang Raka tidak pernah menundukkan wajahnya di depan siapapun apalagi menyembunyikannya. Kau sebagai istrinya juga harus bertindak demikian."


"Tapi kau bukan suamiku yang sesungguhnya," ujar Intan.


"Tetapi dimata dunia kau adalah istriku," ujar Raka.


"Sekarang makanlah, aku sudah membawakannya untukmu," ucap Raka.


"Kemarin kau mencuri makananku dan kini kau membawakanku makanan," ujar Intan tertawa dalam tangis.


"Aku bukan mencuri, kau meninggalkannya di luar jadi dari pada mubah aku makan."


"Kau masih menyalahkan ku, bukannya kau yang bertindak keterlaluan kemarin," kata Intan berdebat. Raka lebih suka melihat Intan yang cerewet dari pada melihatnya menangis.


Raka lalu menarik Intan untuk duduk di sofa.


"Makanlah," kata Raka menyerahkan piring berisi makanan dan lauknya.


"Aku tidak lapar, aku hanya ingin tidur saja."


"Makanlah walau beberapa suap kau hanya makan sandwich tadi pagi," ujar Raka khawatir.


"Sungguh, aku tidak mau makan. Aku hanya ingin tidur untuk melupakan semuanya walau untuk sejenak. Berharap ini semua hanya sebuah mimpi buruk saja," kata Intan bangkit dan kembali duduk di pinggir ranjang. Pandangan matanya kembali kosong.


Perkataan orang tuanya yang kecewa sungguh menjadi beban hidup yang harus dia tanggung. Kemarin mereka menelfon dan mengatakan bahwa mereka sangat mencintainya. Kini mereka tidak mau mengakui dirinya sebagai anak.


Intan menangis lagi. Raka tidak tahu harus melakukan apa. Dia lalu keluar dari kamar itu dan menutup pintunya. Dia lalu menghubungi anak buahnya.


"Apa kalian sudah menemukan keberadaan ja-lang itu?" tanya Raka.


"Kami sudah menemukan jejaknya Tuan, dia sedang berada di sebuah pelabuhan kecil di daerah Riau untuk menyeberang ke Singapore dengan perahu. Mungkin, ini dia lakukan agar jejaknya tidak kelihatan," jawab anak buah Raka.


"Bodoh, cepat temukan dia! Beri pelajaran yang setimpal padanya hingga membuat dia malu untuk melihat wajahnya sendiri di cermin," perintah Abimanyu.


Raka segera melemparkan handphone miliknya dengan keras ke lantai. Lalu terdengar suara benda retak.


"Apakah kemarahanmu akan membuat semuanya membaik, Raka?" tanya Renata dengan gerakan sensual menyentuh nakas yang ada di dekatnya.


"Diam, kau tidak usah ikut campur urusan ku. Bagiku kau hanya pelayan Ayah, maka layanilah kebutuhan Ayah dengan baik," ujar Raka meninggalkan simpanan Ardianto. Dia tahu dengan benar seperti apa Renata dibelakang ayahnya namun dia tidak ingin melihat ayahnya terpuruk karena kehilangan wanita itu. Baginya asalkan ayah senang maka hal itu tidak masalah untuknya, dengan catatan wanita itu tidak dinikahi resmi oleh ayahnya.


"Dasar sombong , dia dan Faira sama saja sombongnya!" gumam Renata. Dia lalu tersenyum sendiri.


"Aku senang anak itu mendapat masalah, sedikit banyak itu bisa mengurangi kadar kesombongan dan keangkuhannya." batin Renata.


"Tuan Muda, Anda sudah dipanggil oleh Ketua partai," kata asisten Raka. Raka lalu berjalan ke arah ruang rapat yang ada dalam rumah itu. Ini masalah pelik sehingga seluruh petinggi partai menunggu penjelasan darinya.


Jam satu malam rapat rahasia itu selesai dilakukan. Keputusannya Raka harus menyelesaikan permasalahannya dalam waktu kurang dari satu Minggu. Jika itu tidak bisa Raka lakukan maka dengan sangat terpaksa ayahnya akan mengundurkan diri menjadi ketua Dewan.


"Ayah sudah mengirim orang ke rumah mertuamu untuk membicarakan masalah ini. Ayah niatnya akan berbicara dengan mereka lewat video call," kata Ardianto.


"Sebaiknya kau ke rumah mertuamu besok pagi dengan pesawat pribadi agar lebih cepat. Setelah mereka mengerti dengan rencana kita maka kau adakan konferensi pers di sana jika sebenarnya rencana pernikahan akan diadakan hanya saja kau melakukan pernikahan siri terlebih dahulu agar mensah hubungan kalian secara agama."


"Aku tahu kelanjutannya, Yah," kata Raka. Ardianto menepuk punggung anak sulungnya


"Kau pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik."


Raka menganggukkan kepalanya. "Aku tadi juga sudah membagikan nasi dan minuman pada para wartawan di depan rumah."


"Bagus cari simpati mereka agar kita bisa mengatasi masalah ini dengan mudah."


"Yah, ada masalah dengan Faira," kata Raka.


"Evan mengajak Faira menikah dan dia telah bersedia. Jika bisa secepatnya kita akan ke sana," kata Raka.


"Secepat itukah, Faira setuju menikah dengan Evan?" tanya Ardianto. Raka menganggukkan kepalanya.


"Mereka memang masih saling mencintai sejak awal. Walau mereka terpisah lama tetapi ketika bertemu kembali langsung saja hati mereka menjadi satu lagi," ujar Ardianto.


"Ayah suka dengan Evan, dia orangnya gentleman langsung menemui ayah dan jujur mengenai semuanya, dan meminta restu sebelum menemui Faira terlebih dahulu."


Raka menganggukkan kepalanya.


"Lusa kita akan ke Amerika untuk memberikan kejutan pada Faira karena dia tidak tahu jika kita semua ikut mengatur segalanya."


"Adikmu itu terlalu polos untuk tahu tentang gelapnya dunia," ungkap Ardianto. Mereka lalu terdiam.


"Yang kita inginkan hanya kebahagiaan Faira saja," lanjut Ardianto. Raka menganggukkan kepalanya.


"Setelah permasalahan Faira selesai kau urus permasalahanmu," ujar Ardianto meninggalkan Raka.


Raka lalu pergi ke ruang kerja milik ayahnya di sana asistennya menyerahkan laptop yang menyala.


"Tuan lihat pergerakan saham kita?" Raka mulai membaca apa yang ada dalam laptop itu. Dia sudah menduganya jika lawan akan menggunakan isue ini untuk menjatuhkannya.


Kepala Raka terasa mau pecah saat ini. Dia lalu meninggalkan asistennya yang sedang menerangkan keadaan perusahaan mereka. Berjalan menuju kamarnya yang telah digunakan oleh Intan. Dia mulai membukanya dan melihat wanita itu tidur dengan posisi meringkuk.


Raka mendekatinya. Dia bisa melihat jejak air mata di wajah wanita itu. Raka mengambil selembar tisu dan mengelapnya, dia membenarkan posisi Intan tidur dan menyelimutinya, kemudian dia ikut berbaring di sisi Intan. Menatap wajah wanita itu dan mendengar deru nafasnya yang teratur. Lama kelamaan dia ikut tertidur melupakan sejenak semua masalah yang mendera hidupnya saat ini.