
Sebulan terus berlalu sidang perdana akan segera di laksanakan. Faira dengan malas bangkit dari tempat tidur dan mulai mandi. Akhir-akhir ini perutnya terasa mual di pagi hari dan tubuhnya terasa lemas dan pegal.
Setelah siap dia keluar dari kamar dan berjalan malas ke bawah. Di sana sudah ada Pak Fariz seorang pengacara yang keluarga yang akan menemani Faira melewati masa persidangannya.
Faira mulai turun dari lantai atas. Di bawah sudah ada ayahnya, Kak Raka dan Renata yang sedang memandanginya.
"Kau terlihat pucat Nak," ujar Ardianto ketika melihat ke arah Faira.
"Aku baik-baik saja Yah," kata Faira tetapi sejujurnya saat ini keadaannya buruk baik secara jasmani dan psikis. Dia mulai takut akan satu hal penyebab sakitnya tetapi andai kata itu terjadi dia akan menutupinya dari semua orang.
Ditya kerap sekali datang ke rumah ayah Faira hanya saja Faira menganggapnya sebagai kawan. Berkali-kali pria itu memintanya untuk kembali namun Faira enggan untuk menerimanya lagi.
"Apa kau telah siap!" tanya Raka khawatir akan keadaan adiknya.
Faira menganggukkan kepalanya, Ia lalu berjalan lebih dahulu meninggalkan semua yang ada ruang tamu.
Renata menatap tidak senang pada Faira. Dia lalu mencibir. Sayang sekali rahimnya harus diangkat sehingga tidak bisa memberi anak pada suaminya. Mengapa dia tidak menyukai Faira sebab Faira selalu mendapat perhatian berlebih dari suaminya dan wajah wanita itu sangat mirip dengan ibu kandung anak itu. Hal itu membuat Renata cemburu karena mengira Ardianto tidak mau mengesahkan hubungan mereka karena Faira yang enggan untuk menerimanya sebagai ibu. Dan Ardianto tidak ingin membuat Faira terluka.
Mereka semua lalu masuk ke dalam mobil. Faira duduk di kursi depan sebelah pengemudi. Sedangkan Ayah nya dan Renata duduk di kursi penumpang. Mereka lebih memilih memakai mobil Jeep kesayangannya.
Mobil mulai berjalan keluar rumah menuju gedung pengadilan di daerah setempat. Di dalam mobil Renata lebih banyak bercerita pada Ardianto sedangkan Faira sibuk melamun memikirkan nasibnya ke depan.
Di depan gedung pengadilan nampak Ditya berdiri dengan Cintya. Mereka lalu menyambut kedatangan Faira.
Ardianto nampak menerima menantunya dengan baik.
"Kau nampak pucat, Faira?" tanya Cintya menyentuh kening Faira. Tetapi Faira langsung mengambil tangan Cintya.
"Aku dengar kau sedang mengandung anak Ditya," ujar Faira masuk ke dalam gedung itu dan duduk di kursi panjang terbuat dari kayu yang dicat hitam.
"Ya, baru lima Minggu," ungkap Cintya bahagia. Ingin memamerkan hal ini pada Faira.
"Selamat kalau begitu Cintya," kata Faira tulus.
Ditya lalu berjalan mendekati Faira. Dia meraih tangan Faira dan menariknya menjauhi keramaian meninggalkan Cintya sendiri.
"Ada apa Ditya?" tanya Faira.
"Kau bilang ada apa?" Ditya lalu menghentikan langkahnya ketika mereka berada di bawah pohon Cemara.
"Aku minta untuk kali ini saja, cabut gugatan ceraimu," pinta Ditya.
"Ditya," panggil Faira melihat ke dalam mata Ditya yang memerah. Dia lalu memberanikan diri memegang pipi pria itu untuk pertama kalinya.
"Sudah kukatakan sebelumnya jika kau akan menyesali apa yang kau lakukan padaku dulu, pada saat itu semua telah terlambat."
"Belum Faira, belum terlambat kita masih bisa tetap bersama," ucap Ditya.
"Tidakkah kau berpikir tentang Cintya, apakah dia setuju jika diduakan?" tanya Faira.
"Kenapa dia tidak setuju bukankah dari awal dia juga datang diantara kita berdua dan dia tidak bisa egois membuat kau tersingkir begitu saja," ucap Ditya