Affair (Faira)

Affair (Faira)
Bahagiamu Bahagiaku



Faira menegakkan tubuhnya duduk di sandaran tempat tidur dengan dada yang berdetak kencang. Kedua tangannya meremas ujung selimut ketika Evan duduk di pinggir tempat tidur.


"Ello sudah tidur?" tanya Evan mengisi kekosongan. Faira menganggukkan kepalanya kaku. Bayu harum sampho dan sabun yang digunakan Evan mengganggu indera penciumannya merusak sistem kerja otaknya membuatnya bekerja lamban. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya tahu-tahu Evan sudah memainkan lidahnya dengan lidahnya. Membuatnya naik ke langit ke tujuh. Pelan, tegas dan lembut. Selembut ice-cream, semanis madu.


Dengan tangan yang bergetar Faira menyentuh dada Evan, dingin dan basah merasakan detak jantung pria itu yang sama keras dengan degup dada Faira.


Bibir itu terus menjalar hingga ke bawah menemukan kehangatan dalam dada wanita itu menikmatinya, menyesap. Membuat Faira mengerang tanpa sadar.


Sesuatu seperti menjalar cepat di setiap syaraf sel tubuhnya, memberi listrik statis yang membuat urat nadinya terasa berdenyut cepat, punggung tulangnya terasa dipijat hingga ke atas kepalanya, meremang dan menguap melalui ubun-ubun. Tubuhnya seketika panas, sehingga lembaran kain terasa mengusik kulit tubuh mereka.


Mereka bergerak bersama bagai sepasang kuda liar di tengah padang rumput ilalang. Menumpahkan kerinduan dan hasrat yang terpendam. Seperti orang yang menemukan oase di gurun yang panas. Tidak pernah puas walau sudah mereguknya.


Hingga mereka lelah dengan permainan ini.


Faira dan Evan sama-sama mengerang ketika mereka menemukan puncak dari penyatuan sebagai tanda cinta mereka berdua. Saling menatap tanpa lepas ketika mereka merasakan kenikmatan surga untuk sesaat.


Nafas mereka sama-sama terengah-engah, tatapan mereka memperlihatkan cinta. Evan mencium dahi Faira sejenak setelah menumpahkan cairan sumber kehidupan dari tubuhnya.


Di saat yang sama denyutan dari dalam tubuh Faira seperti memijatnya, membuat dia mengeluarkan suara kepuasan. Hal yang sama dirasakan Faira, melihat hal itu nyata di depannya bukan lagi sebuah mimpi.


Tubuh Evan yang besar menimpa tubuh Faira, kepalanya terkulai lemas di bahu wanita itu lalu mengecup singkat leher wanita itu.


"Evan kau berat," kata Faira. Tubuhnya berkali-kali lipat kecil dari tubuh Evan. Tingginya saja hanya sebatas dada pria itu.


Evan lalu turun dan berbaring di sebelah Faira. Memeluk tubuh istrinya sembari mencium aroma Rosemary yang keluar dari rambut Faira.


"Aku ingin membuat pesta besar pernikahan kita di negaramu," ucap Evan.


"Ini sudah cukup," kata Faira.


"Tidak, ayahmu orang penting di negara sana," jawab Evan duduk di sandaran tempat tidur. Kepala Faira lalu diletakkan di perut datar Evan sembari menyentuh tatto di dadanya.


"Kau selalu merencakan semuanya tanpa sepengetahuanku lalu untuk apa kau bertanya lagi," kata Faira.


"Jika aku memberi tahuku terlebih dahulu kau tidak akan mau menikah denganku secepat ini."


Faira terdiam. "Evan apakah kau ingin tinggal di sini?" tanya Faira.


"Kenapa?"


"Aku ingin tinggal di negaraku sendiri. Di sini terasa asing untukku," ungkap Faira.


"Kau hanya belum terbiasa," jawab Evan.


"Mungkin kau benar hanya saja aku akan bosan jika harus tinggal didalam rumah terus," kata Faira.


"Kau bisa berbelanja melakukan, kegiatan sosial, mengurus anak-anak kita dan mengurusku. Kau juga bisa menulis lagi setelah ini, bukankah itu hobimu?"


"Aku sudah punya segalanya jadi kau tidak perlu bekerja lagi. Cukup aku. Kau hanya perlu berhias dan tersenyum manis sewaktu menyambutku pulang bekerja," kata Evan.


"Bagaimana jika kau pergi keluar dan bertemu wanita cantik? Apakah kau akan menduakan aku?"


"Lima tahun kita berpisah dan hatiku pun masih sama dari awal kita bertemu. Bagiku hanya dirimu dan jangan pernah kau tanyakan hal itu lagi. Kau sudah mengatakannya selama beberapa kali dari kemarin."


"Entahlah ketakutanku karena pernah diduakan membuatku trauma dan ketakutan," kata Faira.


"Jika kau tidak percaya padaku kau boleh mengikuti kemanapun aku melangkah pergi."


Faira mencubit pinggang Evan. "Sakit, Sayang," ujarnya.


"Evan bisakah Kakek dan Bibi Marry tinggal bersama kita?" tanya Faira. Evan menatap Faira dengan tatapan misterius.


"Untuk menemaniku di rumah ini," kata Faira.


"Kalau begitu aku akan membeli rumah yang lebih besar untuk kita," kata Evan.


"Ini juga sudah besar," ujar Faira.


"Ello butuh tempat bermain yang luas, ada baiknya kakek berada di dekat kita. Dia jadi bisa terpantau hanya saja tingkahnya yang aneh takut membuatmu risih."


"Memang apa yang dilakukan Kakek jika ingatannya sedang terganggu?"


"Terkadang dia tidak memakai baju, makan seperti anak kecil sehingga berantakan dan melakukan hal lain yang membuat illfeel orang di sekelilingnya."


"Besok kita pun akan tua, jika kita mengabaikan Kakek aku takutnya kita pun akan diabaikan oleh anak cucu kita dimasa depan. Karma itu ada," terang Faira.


Evan menatap kagum pada pengertian Faira dia menunduk dan mencium kening wanita itu.


"Aku tidak salah telah jatuh cinta padamu dari awal pertemuan kita dan aku beruntung karena memilikimu," kata Evan.


"Setiap malam aku selalu berdoa pada Tuhan untuk memberikan aku seorang pria yang mencintaiku melebihi cinta pada dirinya sendiri, yang mencintaiku melebihi cintaku padanya dan menganggap ku segalanya," kata Faira.


"Dan kau punya aku yang akan melakukan itu untukmu," ucap Evan.


"Kau harus membuktikannya?" ujar Faira.


"Tetapi tidak dengan melukai diri sendiri, tidak sekarang, biar waktu yang akan membuktikan sebesar itu cintamu padaku," imbuhnya lagi.


"I love you," ucap Evan.


"Me too," jawab Faira.