
Peluru itu mengenai meja yang Raka tendang tadi sedangkan Lusi terkena pisau yang Raka simpan di balik tangan kanan dan tersembunyi di lengan kemeja panjangnya.
Pria itu menarik satu alisnya ke atas dengan santai. Lusi hendak mengambil pistol yang jatuh namun Raka mengeluarkan pistol dari balik jas yang dia kenakan. Lalu menembak pistol itu sehingga terpelanting ke samping. Lusi terkejut dan menarik satu tangannya lagi.
"Jika Alberth dan Robin dan sekompi pengawalnya saja bisa aku habisi dengan mudah apalagi dengan wanita tua sepertimu yang tidak mempunyai pengawal sama sekali." Raka lalu mengangkat tubuh Laura yang ketakutan dan menggendongnya. Satu tangannya yang lain dia gunakan untuk menarik lengan Intan dengan lembut.
"Kita pulang," kata Raka santai. Di saat itu beberapa pengawalnya mulai masuk ke dalam dengan Kenan yang menjadi pemimpinnya.
"Kau urus kepulangan wanita itu ke negaranya dan awasi pergerakannya jangan biarkan dia pergi dari kota tempat dia bermukim itu hingga dia mati!" perintah Raka.
"Kau memang pria jahat yang tidak punya hati! Kau hendak memenjarakan ku di kotaku sendiri, hah!"
"Jika aku tidak punya hati aku sudah membunuhmu dari tadi hanya saja aku ingat jika Intan menganggapnya sebagai ibunya walau kau telah memperdayanya. Untuk itu aku akan memastikan keadaanmu akan baik-baik saja di kota asalnya dan aku juga akan meminta Evan untuk mengawasimu di sana."
Raka lalu meninggalkan Lusi bersama dengan Intan yang masih terdiam karena shock.
"Aku takut, Om," ucap Laura di dalam mobil ketika mereka akan kembali pulang.
"Semua akan baik-baik saja selama Ayah ada di dekatmu," ucap Raka memeluk Laura erat sedangkan tangan satunya menarik Intan agar lebih mendekat ke dalam pelukannya.
"Raka... ," panggil Intan tetapi Raka menggelengkan kepalanya.
"Kita akan bicarakan semuanya nanti
Sesampainya di rumah mereka disambut oleh keluarga Raka.
"Akhirnya kalian sampai juga ke rumah. Aku menunggunya dengan hati yang berdebar." Faira lalu mendatangi Intan dan memeluknya.
"Kau baik-baik saja, Kakak ipar?" sapa Faira pada Intan. Yang ditanya malah terlihat tersenyum malu. Sebelumnya, Intan memanggil Faira dengan kakak ipar tetapi kini telah berubah.
"Setelah beberapa tahun aku baru melihat kakak iparku," ledek Faira lagi.
"Dan siapa gadis manis ini? Wajahnya sama seperti mu kakak," kata Faira mencium keponakannya.
Laura yang sedang shock lalu mempererat pelukannya pada Raka.
"Hmmm ... Jangan takut, Sayang, kami sekeluarga menyayangimu dan tidak akan melukaimu," ucap Faira dengan menyatukan kedua tangan di dada.
Evan lalu datang dengan menggendong anak kecil seumuran Laura.
"Kenalkan ini anak Aunty Fay, namanya Enya," kata Faira.
"Enya ini namanya ... ." Faira menatap penuh harap pada anak Raka.
"Laura," kata Laura dengan nafas tersengal.
"Laura nama yang cantik," sambung Evan mengulurkan tangan Enya yang putih, gemuk dan berlipat.
"Hallo...." sapa Enya malu-malu.
Ardianto yang dari tadi diam lalu mendekati Intan yang merasa bersalah karena telah meninggalkan Raka.
"Selamat datang kembali Intan, aku harap kau tidak akan pergi yang kedua kali dari rumah ini." Ardianto lalu memeluk menantunya itu.
"Maaf, Ayah," ucap Intan lemah.
"Kami akan selalu memaafkanmu dan membuka tangan lebar kami untuk kehadiran kalian ke dalam keluarga ini lagi. Yang penting sekarang kau belajar membuka diri dan mempercayai suamimu." Intan lalu menganggukkan kepalanya. Ardianto menepuk kepala Intan lembut.
"Mana cucuku yang cantik itu?" ucap Ardianto melepaskan pelukannya pada Intan berjalan ke arah Laura.
"Aku, Opa!" jawab Enya.
"Oh ya, ini dia cucu Opa yang cantik. Namun, ada juga cucu lain yang sama cantiknya dengan dirimu dan baru datang. Anak dari Om Raka, kakakmu." Ardianto lalu mengulurkan tangan pada Laura.
Laura menatap ke arah Ayahnya dan melihat pria itu mengangguk padanya. Laura lalu tidak menolak ketika Ardianto mengambil Laura dari pelukannya.
"Tidak adil dia mau dengan ayah dan menolak digendong oleh ku," kata Faira.
"Mom, gayak jadi teman takut mendekat," jawab Enya cedal. Membuat Faira menekuk wajah pada anak bungsunya.