Affair (Faira)

Affair (Faira)
Jealous



Setelah perdebatan itu akhirnya Raka mengajak Intan untuk pergi ke pesta pernikahan adiknya yang dilakukan di apartemen Evan. Intan meminta pada Raka untuk tidak mengatakan pada semua orang jika dia itu istrinya. Katanya itu menjatuhkan pasarannya sehingga akan sulit mencari jodoh.


Sebuah alasan yang tidak masuk akal karena berita tentang mereka telah ada di semua kolom berita cetak maupun online. Apapun itu dia adalah wanita unik yang tidak bisa diprediksi cara berpikirnya yang diluar nalar. Lebih tepatnya terlalu polos atau mendekati bodoh. Entahlah Raka tidak tahu mengapa Tuhan menjadikan gadis ini yang jadi istrinya. Toh, dia juga yang memilihnya sendiri.


Intan masuk ke dalam ruang pesta itu. Dia langsung berteriak ketika melihat Ella dan Ello.


"Hei ponakan buleku yang tampan." Ello dan Ella melihatnya.


"Bibi Intan," teriak Ello dan Ella bersamaan mereka lalu mendekat ke arahnya.


"Kok bibi bisa ada di sini?" tanya Ello.


"Bibi terbang di langit bersama dengan Ella kemarin."


"Kan aku udah bilang tadi," kata Ella. Ello memberi tanda pada Intan agar mendekat. Inta. lalu berjongkok dan mendekatkan telinganya pada Ello.


"Apa Bibi membawakan aku cokelat seperti biasanya," tanya Ello berbisik.


"Tidak, karena Bibi tidak tahu kau ada di sini, tapi jangan khawatir kita akan cari makanan kesukaanmu dan makan sepuasnya," ucap Intan.


"Banyak kue cokelat di sini," imbuh Ella berbisik. Intan mengangguk.


"Kita akan mencurinya dan membawanya ke tempat persembunyian lalu makan di sana."


"Kau mengajarkan keponakanku mencuri," bisik Raka pada Intan.


"Ibu mereka tidak pernah memperbolehkan mereka makan cokelat, benarkan?" Intan menggerakkan kedua alisnya ke atas. Ello dan Ella menganggukkan kepalanya.


Raka melipat tangannya di dada sembari mendengarkan perbincangan bibi dan keponakan ini. Ternyata begitu kelakukan mereka, namun dia tersenyum melihatnya. Intan terlihat sangat akrab dan dekat dengan anak-anak terutama Ello, padahal sangat sulit mendekati Ello yang cenderung introvert pada orang luar. Anak itu malah terlihat nyaman bersama Intan.


"Aku akan menemui ayah terlebih dahulu bertanya mengapa Faira dan Evan belum juga datang," kata Raka lalu pergi meninggalkan Intan bersama anak-anak.


Raka mendekati Ardianto yang sedang berbincang dengan bibi Marry. Mereka nampak terlihat akrab dan sesekali tertawa kecil.


"Yah, mengapa Faira beluk juga datang?" tanya Raka ketika sudah berada di depan ayahnya.


"Oh, Evan mengatakan ingin membawanya berkeliling kota terlebih dahulu agar semua tamu undangan sudah datang berkumpul."


"Padahal kami hanya mengundang beberap sanak saudara dan teman dekat saja," ujar Bibi Marry. "Namun, tetap saja mereka harus meluangkan waktu lebih karena undangan ini sangat mendadak."


"Ya, hanya sehari sebelum rencana pernikahan ini diadakan. Faira sendiri waktu itu belum setuju menikah dengan Evan namun anak itu sangat yakin jika Faira pasti mengiyakan permintaan Evan untuk menjadi istrinya. Dan semua yang dia katakan memang terwujud sesuai dengan semua jadwal yang telah diatur olehnya," tutur Bibi Marry.


"Pada dasarnya mereka memang saling mencintai hanya saja takdir yang memisahkan sehingga perpisahan dan salah paham ini terjadi."


"Semua telah berlalu semoga ada kebahagiaan. setelah semua yang terjadi. Amiin."


Raka lalu kembali lagi menemui Intan. Dia mencari keberadaan wanita itu bersama dengan anak-anak. Rupanya ketiga orang itu memang sedang berburu cake. Mereka terlihat tertawa bahagia.


"Seperti anak kecil saja," gumam Raka. Dia lalu mendekati Intan.


"Raka cobalah kue ini sangat lezat dan lembut," kata Intan.


"Benar, Om." Ello mengiyakan apa yang dikatakan oleh Intan sembari memakan kue itu.


"Kalian ini seperti tidak pernah makan saja," gerutu Raka kesal dan malu. Dia biasa terlihat perfeksionis di hadapan orang-orang karena harus menjaga imej. Kini malah istrinya bertingkah seperti orang yang belum pernah makan kue sama sekali.


"Coba dulu, baru bicara," kata Intan setengah memaksa. Raka yang enggan akhirnya membuka mulutnya dan Intan memasukkan semua potongan besar cake itu ke mulutnya. Dia lalu menjilati bekas cokelat dan cream di jarinya.


Kue itu tersendat di tenggorokan Raka. Raka menepuk dadanya. Intan yang melihat lalu mengambilkan air minum dan membantu pria itu untuk minum.


"Kau itu mau membunuhku?" tanya Raka kesal dengan muka memerah.


"Maaf!" ujar Intan penuh sesal. Tetapi kedua anak kecil yang berada di depan mereka malah tersenyum-senyum geli.


"Ih, Om Raka kayak Ibu ma ayah," kata Ella. Ello menganggukkan kepalanya.


"Berarti mereka pacaran," lanjut Ello dan tertawa.


"Kalian anak kecil mana ngerti pacaran siapa yang mengajari?" tanya Raka.


"Itu pacaran kan yang cium-ciuman kayak di TV itu," jawab Ello.


"Sudah, lihat itu Kak Faira dan suaminya. Wah suaminya tampan sekali. Aku ingin suami yang seperti itu juga Bule tampan dengan tubuh tegap, biar dapat anak kayak Ello," celetuk Intan menyentuh dagu Ello.


Pernyataan Intan membuat wajah Raka muram. Apa bagusnya produk luar, produk dalam pun banyak yang punya kualitas tinggi seperti dirinya.


"Aku akan kesana menyapa Kakak Faira," ujar Faira. ( Walau secara keturunan Ditya adalah adik sepupu Intan tetapi karena pria itu jauh lebih tua darinya Intan terbiasa memanggilnya kakak.)


Raka memegang lengannya. "Dia sudah jadi adik iparmu," katanya.


"Oh, iya aku lupa." Intan terlihat sedang berpikir. "Tetapi aku terbiasanya memanggilnya kakak ipar walau dia sudah bercerai dengan Kak Ditya."


"Kau harus memanggilnya adik," kata Raka.


"Jika kita memang benar-benar menikah aku akan memanggilnya adik." Intan tersenyum menang lalu menarik tangan Raka dari tangannya dan berjalan pergi meninggalkan pria itu bersama para keponakannya.


Raka hanya bisa mengepalkan tangan kesal pada kelakuan Intan saja. Mengapa wanita itu sangat pintar memainkan emosinya? Dia yang merancang permainannya mengapa dia yang dipermainkan sendiri oleh rencana yang dibuat.


Intan mendekati Faira namun wanita cantik itu terlihat asik menyapa semua tamu yang hadir. Hingga akhirnya mereka bertemu.


"Hai Intan," sapa Faira memeluk Intan. "Kau juga di sini? Pasti kau pergi kemari bersama kakakmu?"


Intan menganggukkan kepalanya. "Aku senang melihatmu bahagia," kata Intan tulus.


"Siapa dia Faira?" tanya Evan.


"Oh, dia adik sepupu Ditya. Namanya Intan Lavanya." Faira memperkenalkan Intan pada Evan. Mereka lalu berjabat tangan.


"Aku Evan Winston, suami Faira," ujar Evan.


"Sudah dulu ya Intan, kami harus menyapa tamu yang lain." Intan lalu menganggukkan kepalanya.


Di saat itu seorang pria bule datang mendekati Intan.


"Hai," sapa pria itu sopan


Intan yang melihat Evan kedua dengan wajah lebih muda lalu tersenyum lebar. Dia mengulurkan tangannya. "Oh, hai juga," jawab Intan.


Raka yang melihat Intan dari kejauhan mengepalkan tangannya. Dia tidak suka jika wanita itu genit dengan pria lainnya.