Affair (Faira)

Affair (Faira)
Kesalahan



"Entahlah aku sendiri tidak yakin," ucap Faira karena jantungnya sudah berdegub kencang sedari tadi.


Pintu kamar mulai diketuk dari luar. Faira dan Evan saling berpandangan.


"Itu mungkin baju kita," ucap Faira lirih sembari menggigit bibirnya dan tersenyum. Walau bukan senyuman menggoda tetapi itu seperti lampu hijau untuk Evan.


Pria itu mengabaikan ketukan pintu itu, malah memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Faira. Satu tangannya untuk menyangga kepala.


"Kau saja," kata Evan menyuruh Faira untuk mengambilnya.


"Aku!" tunjuk Faira pada dirinya sendiri.


"Baiklah," kata Faira lalu duduk dan menarik selimut itu. Tapi Evan memegangnya erat.


"Evan kau menyuruhku berjalan tanpa baju?" tanya Faira.


"Kau menyuruhku terbaring tanpa sehelai pakaian atau kau ingin menikmati indahnya tubuhku," kata Evan. Faira membuka mulutnya dan memukul lengan Evan berkali-kali karena kesal.


"Hentikan Faira," teriak Evan yang terdengar sampai keluar pintu hotel itu. Membuat pelayan itu kembali pergi mengira mereka sedang bermain panas di udara dingin ini.


"Kau itu nakal," ucap Faira gemas semakin cepat memukul lengan berotot Evan. Pria itu sebenarnya tidak sakit tetapi dia suka dengan permainan ini.


Hingga tangan besar Evan merengkuh pinggang Faira dan meletakkan tubuh mungil Faira di atas tubuhnya.


Faira terkejut, tetapi bola mata mereka saling bertemu.


Dada mereka naik turun secara bersamaan.


"Hal ini tidak pernah terpikirkan olehku," ucap Faira. Evan beringsut ke samping hingga dia bisa melihat wajah Faira, kemudian mengulurkan tangan dan mengambil beberapa helai rambut yang tergerai menyelipkannya di belakang telinga pria itu. Entah mengapa pria itu suka melakukannya.


Melihat Faira yang tidak bergerak tetap berada di atas tubuhnya membuat Evan memberanikan diri. Tangan Evan bergerak menyapu wajah Faira dengan lembut, menelusuri bibir bawahnya dengan ibu jari. Faira bisa mendengar degup jantungnya yang berdebar keras, merasakan dirinya terengah akibat sentuhan itu. Kemudian bibir Evan menggantikan ibu jarinya, terasa panas dan berat di bibir tipis Faira. Lidah lelaki itu membelai lidahnya sementara tangan lelaki itu menarik tubuhnya semakin rapat.


"Faira hentikan ini salah," Faira memperingatkan dirinya yang mulai berkabut. Tetapi tidak mungkin bagi dirinya untuk mundur ketika dia menikmati usapan lembut telapak tangan besar pria itu di punggungnya. Lengan pria itu memeluk memeluknya dan akhirnya keduanya terengah-engah saat menarik nafas tubuh Faira sudah membujur di atas tubuh Evan, kaki mereka bertautan dan pinggulnya rapat dengan pinggul pria itu.


Panas memancar dari tubuh Evan dan Faira tahu jika pria itu menginginkan dirinya sedangkan dirinya juga menginginkan pria itu.


Faira lalu menarik rambutnya yang menutupi wajah Evan ke belakang. Wajah Evan terlihat kemerahan, kelopak matanya setengah terpejam dengan sensual serta nafasnya memburu, sama seperti Faira.


"Tidak seharusnya kita melakukan ini," ucap Faira tersengal-sengal. "Hubungan kita seharusnya hanya sekedar teman kencan tidak lebih."


"Aku tahu," jawab Evan. "Tetapi aku tidak bisa menahan diriku lagi." Tangan Evan bergerak naik turun di kulit punggung Faira langsung.


"Apakah menurutmu aku harus melewatkan momen indah ini?" tanya Evan nakal.


Faira mulai ragu pada dirinya sendiri. Kalau dia menolak mungkin Evan tidak akan meributkan hal ini. Dia pasti hanya akan berkata "sayang sekali" dan tidak akan menyinggung akan hal ini.


Akan tetapi sekarang tubuh pria itu di bawahnya. Faira bisa merasakan bukit hasrat pria itu, bisa melihat gairah di matanya. Dan Faira tidak akan menolak hal itu, saat ini dia juga menginginkannya.


"Menurutku tidak seharusnya kita melewatkan momen indah ini," bisiknya.


"Bagus," kata pria itu tersenyum. Pria itu lalu menarik kepala Faira mendekat kearahnya. "Kau tahu hanya itu yang kupikirkan sepanjang malam kemarin," ungkap Evan.


Evan mulai mencium Faira lagi dan merapatkan tubuhnya pada pinggul wanita itu. Faira tidak memperdulikan lagi salah dan benar. Saat ini dia lebih suka pada bujukan setan yang merayunya untuk melakukan kesalahan yang akan dia sesali nanti. Sebuah kesalahan yang akan merubah hidupnya.