
"Bukan keras kepala semua sudah kupikirkan matang-matang. Tidak akan yang tahu maksudku, biarlah semua menghujat yang penting semua berjalan baik-baik saja."
"Aku tidak tahu jalan pemikiranmu hanya saja bagaimana masa depanmu ke depannya?"
"Skandal kebohongan itu telah menghancurkan nama baik yang kupunya dan masa depan hingga semua terasa abu-abu dan suram. Semua orang mengenaliku karena skandal empat tahun lalu. Aku bahkan tidak bisa memperlihatkan wajahku pada orang umum dan .... , kalian tahu kelanjutannya." Intan mendesah.
"Bersabarlah semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Toh, kau sudah bersama Arik, dia tidak pernah melihat masa lalumu."
"Ya," lirih Intan hampir tidak terdengar.
"Okey, untuk apa kalian memanggilku?" tanya Intan.
"Kami ingin membuat sebuah perayaan besar untuk ulang tahun pernikahan kami," kata Kayla.
"Lalu apa yang kalian inginkan?"
"Kami ingin kau yang merencanakannya dan membuat persiapannya, betul Mike?"
"Why me, kau bisa meminta tolong pada WO yang berpengalaman?" kata Intan.
"Karena kau selalu bisa membuat dan merencanakan perayaan mewah untuk Arik dan keluarganya, apa kali ini kau tidak bisa melakukannya untuk kami?"
"Di Jakarta?" Intan mulai berpikir. Di kota ini dia belum bisa memperlihatkan diri. Dia masih takut kejadian tadi terulang lagi.
"Buatlah masa depan yang baik mungkin dengan cara ini. Jika kau berhasil melakukannya kau bisa berkembang karena mendapat rekomendasi dari relasi bisnis Mike," bujuk Kayla. Mike yang tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia lebih banyak diam sembari memainkan handphonenya.
"Jika kita melakukannya di luar pulau Jawa mungkin akan mudah untukku."
"Sama saja, kau bisa menggunakan masker seperti biasa dan satu lagi jangan gunakan rambut merah ini. Raka sudah mencurigainya," ujar Kayla membuang rambut itu ke tempat sampah.
"Kau, ish main buang saja," kesal Intan.
"Mike bisakah kau mengantarku hingga ke tempat parkiran mobil," pinta Intan.
"Makanlah dulu di sini untuk apa buru-buru pergi."
"Laura mungkin membutuhkanku," kata Intan.
"Bukankah dia bersama Grandma mereka pasti sedang bersenang-senang."
"Semoga saja," desah Intan bangkit berdiri. "Ayo Mike antarkan aku hingga ke mobil," kata Intan.
"Tunggu dulu," Kayla masuk ke dalam kamarnya dan kembali dengan membawa sebuah kain syal untuk menutupi kepala Intan.
"Gunakan ini mungkin bisa membantumu keluar dari hotel dengan aman."
***
Pelukan itu masih sama hangatnya dan sentuhannya masih sama seperti dulu. Intan merasakan dekapan Raka yang erat.
"Apa kau tidak merindukanku?"
"Sangat, namun aku tidak bisa," ujar Intan.
"Kenapa? Kembalilah?"
"Tidak aku tidak bisa," ujar Intan mundur sembari terisak.
Dia lalu merasa semua telah menghilang tiba-tiba berganti seruan anak kecil di telinganya.
"Bu, bangun! Bu!" teriak Laura membangunkan ibunya.
Intan lalu terkejut dan bangkit dari tidurlah lalu duduk dengan wajah yang masih terlihat bingung.
"Ibu menangis lagi?" tanya Laura. Intan tersenyum lalu memeluk anaknya.
"Itu hanya mimpi buruk saja," kata Intan.
"Mimpi buruk terus. Grand Ma mencari Ibu dari tadi," kata Laura.
"Katakan Ibu akan turun satu jam lagi. Ehm ini jam berapa?"
"Ibu... ibu selalu seperti itu tidak bisa teratur," ucapnya.
"Anak-anak harusnya bertingkah seperti anak-anak bukan seperti orang dewasa."
"Nak, apa Ayah menelfonmu?" tanya Intan.
"Tidak, tapi Ibu Dewi menelfonmu katanya kapan kita kembali ke sana, Ibu merindukan kita terutama aku katanya rumah akan sepi kalau tidak ada kita," ucap Laura.
"Kita akan kembali lagi beberapa bulan, sementara itu kita akan tinggal bersama Grand Ma, dia juga tinggal sendiri."
Intan lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan cepat setelah itu dia ke bawah untuk sarapan.
"Kau terlambat," ucap Lusi sembari memotong roti lalu memakannya.
Intan mendekat lalu mencium Lusi. "Maaf Mom, tadi malam aku tidak bisa tidur."
"Apa kau masih memikirkan pria itu? Pria yang telah membunuh anak dan suamiku?"
"Mom, ada Laura tidak baik membicarakan ini di depannya!" ucap Intan lirih. Dia lalu duduk di sebelah Laura.
"Bunuh? Apa itu bunuh Mom?" tanya Laura.
"Oh, itu tindakan tidak bagus kau jangan dengarkan hal itu. Okey, sekarang makan-makananmu," kata Intan mengambil roti diolesi selai cokelat lalu diberikan pada Laura.
Mereka makan dalam diam larut dalam pikiran masing-masing. Intan sebenarnya tidak ingin tersangkut dalam masalah ini tetapi semua yang terjadi merupakan rangkaian masalah yang tidak bisa dia hindari.
"Mom, aku akan berangkat ke rumah sakit," kata Intan mengelap bekas makanannya dengan tissue.
"Apa kau tidak lelah mengenakan identitas istri Arik?" tanya Lisa.
"Aku bisa apa?" jawab Intan. Lisa menghela nafas panjang.
"Andaikan saja suamimu itu tidak membunuh anakku semua tidak akan terjadi."
"Kita sudah tidak membicarakan masalah ini selama tiga tahun mengapa Mom membicarakannya lagi?" tanya Intan.
"Kembali ke Jakarta seperti membuka luka lama," kata Lisa sedih.
"Kalau begitu kita kembali lagi ke Bangka. Di sana jauh lebih aman."
"Arik mengatakan ingin menjadikanmu istri sahnya apa kau ingin menikah dengannya?"
"Mom," ucap Intan menunduk.
"Dewi setuju kau menikah dengannya, bukankah kau juga sudah mendengar permintaan wanita itu?" bujuk Lisa. Sedikit banyak dia akan bahagia jika itu terjadi. Dia akan mengirim foto lagi pada Raka. Istri dan anaknya telah menjadi milik pria lain yang tidak bisa dimilikinya lagi. Bagaimana perasaannya nanti? Hancur, dia berharap Raka akan mati bunuh diri karenanya.
Pria itu mungkin telah berhasil dalam semua hal tetapi tidak bisa memiliki istri dan anaknya. Bukankah itu penderitaan dan kekalahan terbesar seorang pria?
"Aku tidak ingin menyakiti hati Ibu Dewi," kata Intan.
"Dia bahagia kau ada di sana. Dia lebih baik melihat suaminya berhubungan denganmu daripada berhubungan dengan wanita lain."
"Semua tidak semudah apa yang diucapkan, Mom."
"Uang gajimu sudah kutransfer ke rekeningmu, Mom." Intan lalu mengambil tasnya.
"Intan aku tidak perlu uangmu karena peninggalan suami serta anakku cukup hingga aku menutup mata," ucap Lisa.
"Betul penghasilanku memang tidak banyak untuk bisa memenuhi semua kebutuhanmu, Mom, tetapi ini bagian dari bentuk kewajiban anak pada orang tuanya. Bukankah aku sudah berjanji akan jadi anakmu yang baik," kata Intan lalu mencium kedua pipi Lisa.
"Aku titip Laura," kata Intan.
"Aku akan membawanya ke mall hari ini," kata Lisa.
"Terserah Mom, saja. Hanya saja jaga dia dengan baik untukku." Intan lalu mendekat ke arah Laura.
"Sayang, Mom mau kerja terlebih dahulu. Kau baik-baik menjaga Grand Ma. Okey!" Intan mencium pipi dan pucuk kepala Laura.
"Okey, aku akan jadi anak baik." Laura mengikuti perkataan Intan.