Affair (Faira)

Affair (Faira)
Mengalah



"Itulah kau selalu menuduh tanpa mencari tahu kebenarannya. Sudahlah aku lelah. Ijinkan aku pergi jika tidak ijinkan aku tidur istirahat."


"Intan kau tidak bisa meninggalkan banyak pertanyaan untukku sedangkan kau sendiri bisa menjelaskan saat ini duduk permasalahannya."


"Kau punya kekuasaan dan uang untuk mencari tahu kebenarannya maka gunakan itu. Jangan cuma bisa bertindak saja tanpa tahu apa akibatnya," terang Intan. "Laura masih aman jika kau tidak bertindak macam-macam jika kau melakukan kesalahan maka aku tidak tahu apa nasibnya ke depan karena kau tidak memperbolehkan aku pergi dari sini untuk pulang," kata Intan.


"Apa maksudmu?"


"Semua tindakan itu ada bayaran mahalnya, tidak ada makan siang yang gratis. Jadi apa yang telah kau tabur itu yang kau tuai, aku sudah berusaha untuk bersikap netral dan mencoba berdamai dengan semuanya tetapi keras kepalamu itu akan menghancurkan segalanya. Bahkan kau bisa membuat Laura terbunuh jika itu sampai terjadi kau akan menyesalinya seumur hidup!"


"Ya Tuhan, Intan. Aku tidak mengerti dengan semuanya sebenarnya apa yang terjadi? Jangan membuat teka-teki seperti ini. Aku hanya ingin bertemu dengan putriku, apakah itu sulit?"


"Sulit karena kau tidak mengerti apa yang telah terjadi padaku dan pada Laura!"


"Katakan apa yang terjadi, biar aku menyelesaikannya." Raka memegang kedua pipi Intan, menegaskan pernyataannya.


Intan menghela nafas.


"Mau diselesaikan bagaimana? Setelah semua yang kau lakukan padaku haruskah aku mempercayaimu? Terlalu sakit Raka!"


"Kau pergi tanpa memberiku waktu untuk menjelaskannya," ucap pria itu.


"Mataku bisa melihat apa yang kau lakukan. Jika aku yang berbuat seperti itu apakah kau akan marah? Kau akan langsung mengusirku pergi atau bahkan bertindak hal yang lebih kejam lainnya!''


Raka memeluk tubuh Intan.


"Maaf, tetapi berilah satu kesempatan padaku untuk menjelaskannya," pinta Raka.


"Hubungan kita telah berakhir empat tahun yang lalu."


"Aku tidak pernah memutuskan kata perpisahan padamu, Intan!"


Raka menyibak rambut hitam Intan ke belakang dengan lembut lalu mengambil beberapa juntai rambut yang menutupi wajahnya menariknya ke belakang telinga.


"Entahlah sulit rasanya untuk percaya pria lagi."


"Lalu hubunganmu dengan Dokter Atalarik? Apakah kalian sudah menikah sehingga Laura memanggilnya Ayah? Panggilan yang harusnya menjadi hakku, kau berikan pada pria lain?" Ada banyak kegetiran dan kesedihan dalam suara Raka. Rasa sakit dan emosi yang dia tahan saat ini.


Intan menunduk.


"Aku hanya bertanya apa kau sudah menikah dengannya?"


"Belum, hanya akan!" jawab Intan jujur.


"Sial!"


"Sudah sejauh apa hubungan kalian? Apakah dia telah menyentuhmu?" tanya Raka mulai meninggi.


"Kau belum mengenalku maka dengan mudah menuduhku hal yang tidak-tidak," jawab Intan tidak kalah marah. Dia lalu berbaring memunggungi Raka. Tubuh wanita itu bergetar.


Raka ikut berbaring dan memeluknya dari belakang. Namun, tangan Intan menepisnya.


"Jangan dekati aku jika hanya akan membuat luka!" ucapnya. Namun, Raka malah memeluknya erat walau Intan mencoba melepaskan. Dia mencium kepala Intan dengan dalam.


"Kemarin kau menyakitiku secara fisik, kini kau menyakiti batinku. Besok siksaan apa lagi yang akan kau berikan!"


"Maaf! Hanya kata itu yang bisa kuucapkan," kata Raka. Kini dia mengerti arti kalimat jika wanita adalah makhluk Tuhan yang paling benar.


"Aku hanya marah jika kau dekat pria manapun, entah itu Robin ataupun dokter itu."


"Mereka tidak ada yang salah, Robin ataupun Dokter Atalarik. Mereka menolongku."


"Berarti aku yang salah?"


"Masih bertanya!"


"Aku hanya tidak tahu dimana salahku, katakan aku akan mendengarkan," bujuk Raka. Wanita bukan untuk diperlakukan kasar. Jika kita semakin kasar, maka mereka akan semakin keras kepala. Jika kita melunak mereka akan menurut. Pikir Raka yang mulai mencoba bersikap lembut. Dia banyak belajar dari Evan bagaimana cara pria itu membuat Faira nyaman. Selalu mengalah.


Isak tangis Intan mulai mereda.


"Aku begitu sakit hati melihat kau berdua dengan wanita itu, sampai saat ini aku bertanya berapa wanita yang telah menggantikan posisiku?" Raka mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di bahu Intan.


"Tidak ada wanita lain selain dirimu. Kau hanya salah sangka. Sara memang sedang merayuku tetapi kami tidak berbuat apa-apa," kata Raka.


"Entahlah. Aku tidak bisa percaya kata-katamu," ucap Intan pedih. Dulu dia terluka karena Bram meninggalkannya setelah dia baru saja membuka hati dengan rasa was-was pada Raka pria itu terlihat sedang bermesraan dengan wanita lain. Rasa trauma yang mendalam membuatnya jatuh terpuruk dalam jurang kesedihan.


Raka lalu membalikkan tubuh Intan agar menghadap padanya. Dadanya merasa sesak melihat wanita yang dia cintai harus menangis dan bersedih.


"Tatap mataku Intan." Pandangan mata mereka lalu bertemu. "Demi Tuhan, aku tidak menyentuh wanita lain setelah dirimu pergi. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu."


Intan lalu memeluk Raka dan menangis dalam dadanya. Mencurahkan isi hatinya lewat air mata yang dia keluarkan. Semua beban hati yang dia tanggung selama ini.


Usapan lembut Raka di punggungnya membuat wanita merasa tenang. Lewat kecupan yang dalam di kepalanya, Intan bisa merasakan kasih sayang pria itu. Tidak seperti kemarin, menyakitkan. Hatinya mulai menghangat.


"Sekarang jelaskan hubunganmu dengan Dokter Atalarik. Kau membuatku gelap mata karena selingkuh," tuduh Raka. Intan mencubit keras perut pria itu.


"Perutmu sudah sedikit buncit tidak seperti dulu, keras dan berotot," ucap Intan yang mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu pertanyaanku!"


"Aku kira kau itu sedikit pandai sehingga bisa membaca semua permasalahan yang terjadi nyatanya kau pun ikut tertipu dengan semua sandiwara itu."


"Maksudmu?"


"Setelah dari kantor itu aku meminta Robin mengantarkanku ke rumah Dokter Atalarik. Kenapa harus dia? Karena kupikir hanya dia yang bisa menolongku dari belenggumu walau Robin telah menawarkan diri untuk menolongku."


"Kau ingin lepas darimu dan pergi pada pria lain. Ck... itu sungguh tidak terpuji."


"Dari awal pernikahan ini hanya kesepakatan dan kau memperbolehkanku mencari pria lain, karena itu aku menganggap bahwa kau tidak pernah serius dengan hubungan kita?"


"Tidak, itu hanya sebuah kata-kata untuk menjeratmu lebih dalam padaku. Agar kau percaya padaku namun aku tidak rela jika kau dimiliki pria lain."


"Semuanya salah paham dari awal. Kita tidak punya pondasi pernikahan yang kuat sehingga ketika sedikit masalah yang menerpa maka goyah pula pernikahan kita."


"Aku ke rumah Arik dan dia ternyata sudah menikah. Hanya saja kondisi istrinya sedang tidak baik-baik saja. Dia menawariku bekerja sebagai staf di rumah sakit miliknya. Untuk itu, aku harus mencari tempat tinggal sementara. Lalu Robin menawariku tempat tinggal di villa yang dia sewa. Awalnya aku menolak karena harus tinggal dengan seorang pria bujang. Namun, ternyata di sana ada ibu dan ayahnya. Aku pun menerimanya untuk sementara waktu. Pikirku saat itu."