
Mendengar teriakan Raka membuat Evan berlari ke atas. Dia membuka pintu kamar dan melihat keadaan kamar Raka yang kacau. Pria itu terlihat menghancurkan semua benda yang ada dalam kamar itu seperti orang kesurupan.
"Ada apa ini, Raka?" teriak Evan ketika Raka hendak mengambil sebuah lampu meja untuk di banting. Dia mendekat ke arah Raka dan mengambil lampu itu lalu meletakkan kembali di tempatnya.
Meja dan kursi telah terjungkal tidak di tempatnya. Pecahan beling tersebar dimana-mana. Seprai dan batal berserakan.
"Intan, dia... dia sedang butuh bantuanku tetapi aku tidak bisa membantunya," seru Raka menangis keras.
"Memang apa yang terjadi padanya?" tanya Evan penasaran.
"Dia sedang dilantai dan air di sekitarnya mungkin ketubannya atau air apa aku tidak tahu... dia merintih kesakitan namun aku tidak bisa menolongnya."
"Dia yang menelfonmu?" Evan menghampiri sahabatnya dan memegang kedua bahunya.
"Bukan seseorang melakukannya. Sepertinya dia tidak tahu jika aku melihatnya," kata Raka.
"Ada seseorang yang sedang ingin bermain perasaan denganmu," kata Evan. "Dia jelas ingin membuatmu hancur. Jika dia berniat baik, dia pasti akan memberitahu keberadaan Intan."
Raka terdiam menatap Evan. Sorot matanya yang penuh bara api kini telah meredup. Berubah sendu.
"Berpikirlah positif, saat ini dia mungkin sedang melalui proses persalinan. Walau kau tidak bisa bersamanya kau bisa mendoakannya agar semua proses itu dia lalui dengan mudah," nasihat Evan. Raka lalu memeluk tubuh Evan erat dan menangis dalam pelukannya.
"Kami akan selalu ada untukmu, brother," kata Evan.
***
Sebuah mobil Toyota Alphard masuk ke dalam halaman rumah Ardianto. Faira yang hafal dengan suara mobil suaminya langsung keluar untuk menyambut suaminya. Dia juga rindu pada kakaknya dan mengira jika Evan datang bersama Raka.
Evan keluar dari mobil itu tetapi sendiri saja. Kepala Faira celingukan mencari keberadaan Raka.
"Kau tidak bersama Kakak?" tanya Faira pada Evan ketika pria itu berjalan ke arahnya.
"Keadaannya sedang tidak baik-baik saja," kata Evan. "Jadi aku tidak bisa membawanya kemari."
"Apa dia sedang sakit," kata Faira khawatir.
"Dia sedang kacau," jawab Evan sembari melihat ke arah Ardianto yang ada di hadapannya.
Ardianto yang sedang duduk di ruang tamu, menurunkan koran ditangannya.
"Apakah dia masih memikirkan wanita itu? CK," kata Ardianto berdecak sebal.
Tidak ada orang tua yang rela jika anaknya dipermainkan oleh seorang wanita. Apalagi Raka adalah anak kebanggaan Ardianto. Anak yang selalu mendulang prestasi dimana pun dia berada.
Kepergian wanita itu membuat kinerja Raka menurun pesat. Dia cepat emosi dan banyak mengabaikan pertemuan dengan orang-orang penting. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri tidak peduli dengan orang lain bahkan keadaannya sendiri pun tidak dia pedulikan.
"Sepertinya ada yang ingin bermain perasaan dengannya," kata Evan duduk. Faira penasaran lalu duduk di sebelah Evan.
"Apa maksudmu?" tanya Ardianto tidak sabar. Evan melihat ke arah istrinya. Dia berpikir tidak baik jika Faira tahu keseluruhan ceritanya. Lebih baik wanita itu tahu sebagian saja takut jika itu akan menjadi beban pikiran istrinya dan beraliran pada kehamilannya yang sedang memasuki usia tua.
"Fay, tolong ambilkan aku segelas air minum. Aku haus," pinta Evan. "Kopi panas seperti biasa diseduh dengan air yang baru matang."
Dengan bibir di tarik keluar, Faira bangkit dan mengambilkan suaminya air minum. Padahal, dia ingin mendengar cerita tentang kakaknya terlebih dahulu.
"Ceritakan padaku," kata Ardianto tidak sabar mengerti bahasa Evan yang ingin menjauhkan Faira dari permasalahan ini. Evan lalu mulai menceritakan semua yang dia lihat tadi secara lengkap. Dari keadaan Raka saat dia melihatnya di kamar pertama kali lalu kekacauan yang dia buat setelah mendapat telephon itu. Dia juga menceritakan tentang isi telepon itu tanpa ada yang ditutupi.
"Kau benar, pasti ada yang ingin bermain-main dengan kita tetapi siapa?" tanya Ardianto geram sambil mengepalkan tangannya.
"Kak Raka punya banyak musuh," ungkap Evan menghela nafas.
Evan menganggukkan kepalanya.
"Tuh, kan aku tidak diberitahu tentang masalah ini," rajuk Faira.
"Kakak ipar hanya akan melahirkan," terang Evan.
"Sungguh kah?" tanya Faira berbinar dan terlihat antusias.
"Aih, haruskah aku memanggilnya kakak ipar pada orang yang kuanggap adik," gumam Faira kemudian.
Evan dan Ardianto tertawa.
"Apa dia sudah ditemukan?" Kedua pria dihadapan Faira hanya terdiam. Sedangkan Faira menunggu jawaban mereka dengan seksama.
"Jangan katakan jika ini hanya berita saja tapi kalian juga belum tahu dimana dia berada? Seperti foto itu?" tebak Faira. Kedua pria itu mendesah bersama.
"Ya Tuhan, pasti harganya kakak hancur sekali," kata Faira. Memikirkan itu membuat perutnya mulas.
"Aduh ... duh ... kenapa perutku tiba-tiba ikut sakit," kata Faira memegang perutnya.
"Mungkin kau akan melahirkan juga," kata Evan mulai gugup.
"Ini sudah tanggalnya kan? Sebaiknya kau bawa dia ke rumah sakit sekarang," perintah Ardianto.
"Sesar saja, Ello dulu juga sesar," kata Faira.
"Kita lihat nanti saja," kata Evan.
"Katanya sakit sekali, aku takut," ungkap Faira.
"Ada aku yang akan menunggu persalinanmu. Kau jangan khawatir," kata Evan menenangkan istrinya. Dari awal Faira memang meminta anaknya dilahirkan secara sesar namun Evan selalu melarang katanya dia ingin melihat bayinya lahir secara normal dan alami. Dia ingin yang menerima keluarnya jabang bayi dan memegang untuk pertama kali. Dia juga sudah membicarakan ini dengan dokter kandungan Faira dan dokter menyetujuinya dengan syarat mereka memang bisa menjalani proses itu dengan normal dan dalam keadaan ibu serta janin yang baik-baik saja.
"Ayo cepat bawa anakku ke rumah sakit kalian malah berbicara saja," teriak Ardianto khawatir.
"Iya, Yah," kata mereka berdua.
Faira lalu hendak berdiri tetapi langsung diangkat oleh Evan membuat wanita itu terkejut.
"Aku masih bisa jalan," kata Faira.
"Aku takut anakku keluar dan terjatuh ketika kau jalan," ujar Evan. Faira menepuk dahinya sediri antara gemas dan kesal.
Evan membawa Faira keluar rumah dan memasukkannya ke dalam mobil sedangkan Ardianto mengikuti mereka.
"Aku di rumah saja menunggu Ello di rumah. Nanti jika dia sudah pulang ke rumah aku akan menyusul kalian ke rumah sakit."
"Ayah aku titip Ello," seru Evan ketika hendak menyalakan mobilnya. Ardianto menganggukkan kepalanya.
"Iya kau jangan khawatirkan jagoanku. Dia akan aman bersamaku," kata Ardianto.
"Akh, Evan ayo cepat, perutku seperti kencang."
Dia tersenyum melihat kebersamaan Faira dan Evan yang saling mengisi satu dengan yang lainnya. Setidaknya satu anaknya telah bahagia kini dia punya PR untuk membuat jagoannya pulih dari keterpurukan.
***
Lanjut-lanjut likenya sedikit... ayo dong.. bantu aku dengan memberi like