
"Apakah jika aku menolak kau akan melepaskan aku dan Ello untuk kembali ke negara kami?" tanya Faira.
Evan terdiam.
"Jadi untuk apa kau meminta persetujuanku jika akhirnya kau memaksaku untuk setuju," ujar Faira melipat tangan di dada.
"Faira, semua ini tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Evan.
"Lalu terangkan padaku apa rencanamu sebenarnya. Kau tahu aku sudah muak berada di sini, di negeri asing dan bersama orang asing," ucap Faira tegas dan lirih di bagian akhir kalimat.
Evan menelan Salivanya dengan susah payah. Dia tidak bisa menjawab semua perkataan Faira bukan tidak mampu hanya saja apakah wanita itu mau mendengar semua perkataannya.
"Faira aku hanya ingin bersama kalian selama satu bulan ini, mudah bukan?"
"Semua terasa mudah bagimu tetapi sulit bagiku yang melaluinya," teriak Faira kesal.
"Dengan mudahnya kau meninggalkan aku setelah semua yang kulakukan untukmu. Kau seperti kumbang yang mengambil satu madunya lalu pergi mengabaikan bunga setelah mendapatkannya. Kau tidak punya hati, aku membencimu Evan dengan segenap hati dan jiwaku," ucap Faira serak dan parau.
"Aku mencintaimu dari dulu hingga kini, tidak ada yang berubah hanya saja waktu itu ada sesuatu yang harus aku selesaikan terlebih dahulu sehingga memaksaku pergi jauh darimu," ungkap Evan.
"Kau tidak usah merayu atau mengarang cerita bohong lagi, aku tidak akan mempercayaimu," kata Faira menyeka air matanya yang sempat keluar dan hendak melangkah pergi.
"Faira tunggu," panggil Evan. Pria itu lalu membuka kaos yang menutupi tubuhnya membuat Faira terkejut mengira jika pria itu akan melakukan hal gila seperti semalam.
Faira terkejut melihat ada bekas luka di punggung Evan yang menonjol dan memanjang dari bahu kanan hingga ke bawah lengan kiri.
"Aku diberitahu jika ada orang ingin membunuhku jadi aku langsung pergi meninggalkanmu agar kau tidak terlibat dalam hal ini."
Tubuh Faira limbung ke belakang. Dia mencari pegangan. Wajahnya memucat seketika. Lidah kelu tidak mampu mengucap satu patah katapun.
"Ini luka bekas kecelakaan yang menimpaku di jalan menuju pusat kota. Aku sempat koma setelah itu aku di bawa kembali ke negeri ini untuk proses penyembuhan."
Evan mendekat lalu membuka pinggiran dahinya yang tertutup rambut. "Kau lihat bekas luka jahitan ini. Jika kau masih belum percaya."
"Raka dan aku adalah teman baik sejak lama, dia tahu jika aku sempat mengalami kecelakaan maka ketika aku mengatakan alasan kepergian ku dia bisa memahaminya."
"Satu tahun setelah aku pulih total aku kembali ke Jakarta mencarimu namun aku sedang melihatmu menggendong seorang bayi bersama suamimu, kau nampak bahagia. Jadi aku memutuskan untuk pergi kembali ke negara ini. Bukankah cinta sejati akan merasa bahagia jika kekasihnya bisa tersenyum bahagia walau itu bersama pasangan yang lain."
"Jika kau tahu aku sudah hidup bahagia bersama Mas Ditya mengapa kau datang kembali?"
"Karena suamimu tidak menjadikanmu satu-satunya, kau seharusnya dimuliakan bukan diduakan," kata Evan.
"Tahu apa kau soal kami, Mas Ditya orang yang bijak dia bisa bersikap adil pada istrinya," ujar Faira mencoba menutupi sesuatu.
Evan lalu menarik tubuh Faira mendekat dan mengangkat wajahnya sehingga bola mata mereka saling bertemu.
"Katakan jika kau bahagia bersamanya?"
Faira menelan ludahnya dengan sulit.
"Kami bahagia tinggal bersama dalam satu atap," ucap Faira menatap Evan. Evan lalu melepaskan Faira dan meninggalkanya begitu saja. Sedangkan Faira memegang dadanya yang terasa sesak, dia berjalan ke dalam kamar sembari memegang dadanya yang terasa sesak.
Faira menutup pintu kamar dan bersandar pada pintu. Kakinya terasa lemas dan tubuhnya luruh ke bawah seketika.
"Ini tidak baik-baik saja," ucapnya sembari mengacak rambut. "Ini salah ... aku harus kembali sebelum semua terlambat."
Faira menelungkupkan wajahnya di antara kedua lutut. Isak kecil keluar dari bibirnya. Lama waktu berselang hingga sebuah tangan kecil menyentuh pundak Faira.
"Ello, tolong katakan pada Mom, apakah kau merindukan Ayah, Ella dan Ibu?" tanya Faira memegang tangan Ello.
"Iya aku merindukan mereka. Apa menangis karena merindukan mereka?" Faira menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kita pergi dari sini dan pulang kembali pada Ayah," ajak Faira pada anaknya.
"Mom, aku masih ingin di sini. Om Evan akan mengajakku ke Disneyland, aku ingin kesana," kata Ello.
"Ello jika kau Sayang pada Mom, kita pulang sekarang," serak Dara berharap Ello mau mengerti.
"Mom," suara Ello terdengar keberatan.
"Ello kau tidak tahu jika tinggal di sini akan berakibat mengerikan," ucap Faira tidak bisa menjelaskan situasinya pada Ello. Tidak mungkin dia menjelaskan pada anaknya jika ayah kandungnya adalah Evan karena setahu anak itu ayahnya adalah Ditya.
"Di sini tidak ada hantu atau monster Mom. Om Evan sangat baik dan temannya juga baik.Mereka berjanji akan mengajakku membeli mainan yang aku inginkan."
Faira menangis keras. Dia tidak tahu bagaimana cara membujuk anaknya. Sedangkan dari luar Evan mendengar perkataan dua orang itu sambil duduk bersandar di pintu. Posisi dua orang itu terpisah pintu.
"Mom kau kenapa?"
Faira hanya bisa menangis saja, sembari mendekap tubuh anaknya.
Krucuk ... krucuk ... bunyi perut Ello membuat Faira tersenyum sembari menyeka air matanya.
"Anak Mom, lapar?" tanya Faira. Ello menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kita, membersihkan diri dulu baru makan," ajak Faira menggendong tubuh Ello dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Setelah itu dia membawa Ello masuk ke dapur. Di sana Evan sudah menyediakan bubur gandum dan beberapa potong sandwich daging asap yang berbau harum dan terlihat enak.
"Wah, jagoanku sudah bangun," sapa Evan pada Ello. Ello langsung tersenyum cerah.
Evan lalu melihat ke arah Faira yang masih terdiam meletakkan Ello ke tempat duduk dan dia ikut memilih duduk di sebelah Ello berseberangan dengan Evan.
"Kelihatannya enak Om?" tanya Ello.
"Coba saja dulu, jika tidak suka kita bisa pesan makanan yang lain." Evan lalu memotong sandwich kecil dan menyuapi Ello.
"Enak, aku mau," ujar anak itu.
Faira sendiri lebih memilih makan bubur gandum sembari melihat ke arah lain. Setelah makan Faira hendak membawa makanan ke tempat cucian piring tetapi Evan melarang.
"Biar aku saja," kata Evan hendak mengambil piring yang di pegang oleh Faira.
"Jika kau melarangku melakukan ini dan itu aku lebih baik pergi sekarang!" ancamnya. Evan menatap mata Faira.
Dia melepaskan pegangannya pada piring itu dan membiarkan Faira melakukan pekerjaannya. Dia lalu berdiri di sisi wastafel di sebelah Faira.
"Apakah kau menyetujui permintaanku untuk tinggal di sini selama sebulan ini?" tanya Evan.
***
Mohon bantuannya dengan memasukkan dalam favorit biar semangat author naik tajam.
Komentarnya dan like jangan lupa ya.