
Faira berjalan bersama dengan Ditya ke sebuah pesta relasi bisnisnya. Tidak ada yang pernah melihat pemilik dari Mountain Inc. Sebuah perusahaan piranti lunak yang sudah mendunia.
Ditya merasa bangga karena dirinya di undang oleh orang yang sangat di puja oleh semua kalangan pembisnis. Dia tidak pernah mengekspos dirinya di media sosial dan sangat membatasi pergerakannya sehingga tidak semua orang tahu siapa dia. Hanya jajaran perusahaan besar saja yang diundang. Termasuk ayah Faira, Ardianto dan kakak Faira Raka.
Faira berjalan bersama Ditya dengan memeluk lengan pria itu. Semua melihat mereka adalah pasangan yang sempurna. Selalu terlihat bersama di setiap kesempatan dan sellau terlihat saling mendukung ketika ada masalah yang datang menghadang perusahaan Ditya.
Jabatan Faira kini adalah sebagai manager pemasaran di perusahaan Ditya. Kinerjanya yang bagus dan caranya memasarkan produk milik suaminya membuat perusahaan Ditya maju dengan pesat dalam beberapa tahun ini. Semua mereka capai dengan baik. Hanya sesuatu yang belum mereka dapatkan tetapi akan mereka sembunyikan dari siapapun juga.
Ditya berdiri dan Faira membawakan segelas minuman untuknya. Dia lalu berdiri di dekat pria itu.
"Kalian ini pasangan paling serasi di kalangan kita. Cantik dan tampan serta sama-sama saling mendukung dalam usaha," ucap salah seorang relasi Ditya.
"Anda bisa saja Pak," ujar Ditya lalu menatap ke arah Faira. Istrinya itu memang cantik dan menawan membuat mereka terlihat seperti pasangan sempurna jika berjalan bersama.
"Memang, aku suka iri melihat kebersamaan kalian," kata salah seorang pengusaha yang lain puji yang lainnya. Faira hanya tersenyum lebar menanggapi pembicaraan semua orang.
Dia melihat kakaknya sedang berdiri bersama beberapa pria di dekat meja bar. Faira mendekatkan diri ke arah Ditya dan berbisik di telinganya.
"Aku akan menemui Kak Raka terlebih dahulu," ucap Faira. Dia mulai berjalan melewati beberapa orang penting di pesta ini. Senyumnya terus mengembang menyapa semua relasi atau orang yang dia kenal.
Dari lantai ke dua rumahnya Evan terus melihat pergerakan Faira. Wanita itu memakai dress putih sedikit corak garis berwarna pelangi, dengan panjang dress di atas lutut, terbuat dari bahan sutera, tanpa lengan memperlihatkan bahunya yang terbuka dan bagian punggungnya yang terekspose.
Evan yang melihat hanya bisa mengepalkan tangannya keras. Dia tidak senang melihat penampilan Faira yang memperlihatkan keindahan lekuk tubuhnya pada semua pria yang ada di tempat itu.
Evan terus mengikuti pergerakannya hingga wanita itu mendekat ke arah Raka. Seharusnya Evan sudah memperkirakan sebelumnya jika Faira itu mempunyai hubungan erat dengan Raka, temannya. Itu sebabnya dia tidak bisa mencari tahu siapa nama pengguna kamar yang Faira tempati sebelumnya karena Raka adalah pemilik resort itu.
"Kak," panggil Faira memegang lengan kakaknya. Seorang wanita seksi berbaju merah yang berada di depan Raka menatapnya.
"Kau di sini juga?" tanya Raka heran. Ini adalah pesta ulang tahun Mountain Inc. Hanya pengusaha besar dari negara-negara di seluruh negara saja yang hadir di acara ini. Mengapa Ditya dan Faira ikut diundang? Batin Raka.
"Ih, Kakak," kata Faira mencubit pinggang kakaknya mengerti jalan pikirannya yang selalu menyepelekan Ditya suaminya.
"Marsha bisa tolong tinggalkan kami!" pinta Raka pada wanita di depannya.
"Namaku Keisya, bukan Marsya," ujar wanita itu dengan wajah yang ditekuk pergi meninggalkan Raka.
"Kau itu selalu saja bermain dengan wanita," ujar Faira lalu memesan segelas minuman keras dari pelayan.
"Mereka yang menginginkan hal itu dan aku menurutinya," ujar Raka meminum whiskey di tangannya.
"ONS itu sangat tidak baik, sebaiknya kakak hindari itu dengan menikahi seorang wanita baik-baik."
"Tidak ada wanita baik-baik sekarang ini Faira semuanya sama saja," ujar Raka. Faira memutar bola matanya malas.
"Aku adalah bujang abadi dan aku bangga dengan identitas itu."
"Aku berdoa semoga ada wanita yang akan membuatmu takluk dan menghentikan semua kegilaanmu itu."
"Tidak mungkin kecuali jika aku dilahirkan menjadi belalang sembah," ucap Raka.
"Amin, aku berdoa semoga itu terjadi," ujar Evan tiba-tiba membuat Faira terkejut. Wajahnya menjadi pias seketika. Dia menelan Salivanya dengan sangat sulit.