
Faira malas untuk keluar dari kamarnya tetapi dia juga tidak tenang melihat Evan bersama dengan Ello. Dia takut jika pria itu mengatakan hal yang tidak-tidak. Dia yakin Evan pasti sudah tahu jika Ello anaknya. Dari bentuk wajah dan warna mata saja itu sudah membuktikannya tanpa harus melalui tes DNA atau tes darah.
Krucuk ... krucuk ... krucuk ...
Perutnya sudah mulai berbunyi sedari tadi. Namun dia enggan bergabung dengan pria itu sekedar meminta makanan pengganjal perut.
Faira mulai berjalan mondar-mandir di kamarnya tetapi bukan membuat tenang hatinya, malah dirinya semakin gelisah. Sebaiknya dia menghadapi ini semua bukan berlari kesana kemari.
"Mas Ditya aku membutuhkannya tetapi bagaimana aku menghubungi dia?" gumam Faira. Dia mulai teringat handphonenya, Mencari tas berwarna hitam yang tadi di bawa. Atau kemarin, dia bahkan tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur.
Sial benar nasibnya kini, berada di negeri antah berantah dengan orang asing yang menculiknya. Tetapi tidak seseram itu karena dia diletakkan di kamar mewah yang nyaman.
Perutnya mulai melilit karena sakit, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit. Penyakit maag mulai datang menyerang.
Faira berguling di tempat tidur sembari memegangi perutnya. Di saat yang sama Evan datang ke kamar dengan nampan berisi makanan.
Pria itu terkejut langsung meletakkan nampan itu di atas nakas dan mendekat ke arah Faira.
"Kau kenapa?" tanya khawatir ingin menyentuh kening Faira namun ditampik kasar oleh wanita itu.
"Faira, biarkan aku memeriksamu!" ucap Evan.
"Biarkan saja aku mati, itu lebih baik daripada bertemu denganmu!" seru Faira tidak mau kalah. Evan terkesiap dan terdiam. Dia lalu mendekat ke arah telephon dan menghuni seseorang.
Mulai terdengar desisan dari wanita itu. Evan lalu menyelimutinya, walau mendapat tatapan tajam dari wanita itu.
Tidak lama kemudian seorang Dokter datang ke kamar itu untuk memeriksa Faira. Ello ikut masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelah Faira.
"Mom, kau sakit? Ibu pasti lupa makan, ya kan?" tanya Ello yang sudah tahu kebiasaan ibunya yang akan sakit jika terlambat makan.
"Biar aku memeriksamu, Nyonya," ucap Dokter itu mulai mengecek keadaan Faira.
Evan hanya berdiri bersandar pada nakas sembari melipat tangan di dada.
"Anakmu benar Nyonya, penyakit maag Anda sedang kambuh jadi asam lambung naik menyebabkan rasa nyeri pada perut. Sepertinya sudah 24 jam lebih Anda belum makan apapun. Indera pengecap Anda juga terasa pahit bukan?" tanya Dokter itu. Faira menganggukkan kepalanya.
"Saya akan memberikan obat maag dan pereda nyeri. Tetapi jangan lupa makan, tidak boleh sampai telat. Untuk beberapa hari utamakan, makan makanan yang halus terlebih dahulu," saran dokter itu.
''Baiklah saya akan menyediakan makan makanan halus baginya dan akan menjaganya."
"Harus, jika ingin dia sehat kembali." Dokter paruh baya itu lalu melihat Ello.
"Anakmu sangat tampan sekali Tuan Winston, sayang sekali aku baru pernah melihatnya. Jika almarhum Tuan Jack Masih hidup dia pasti akan senang melihat penerusnya telah ada," ucap Dokter itu. Evan hanya tersenyum kecut sembari menatap Ello.
Faira menghela nafas. Orang yang baru melihat pun akan tahu jika Ello itu adalah duplikat Evan. Haruskah dia bersyukur atau dia harus merutuki hal ini?
Evan lalu mengajak dokter itu keluar sedangkan Ello berbaring di sisi ibunya sembari memeluknya.
"Mom, kau harus sehat karena di sini tidak ada Ayah atau Ibu," kata Ello. Faira tersenyum sembari mengusap tangan Ello.
Seorang pelayan datang dengan membawa sebaki bubur yang masih mengepul dan berbau harum. Evan berjalan di belakangnya dan meminta baki itu dari pelayan.
Dia lalu duduk di sebelah Faira.
"Benar Ibu duduk dan makan, jika Ibu sehat kita bisa pulang lagi ke rumah Ayah," cetus Ello dengan santai. Faira menghela nafas dan mengusap kepala Ello.
Perkataan Ello seperti menusuk hati Evan. Dia ingin berkata pada Ello bahwa dia adalah ayahnya namun dia masih menahan dirinya.
''Makanlah untuk kebaikan dirimu sendiri, jika kau sakit maka aku dengan mudah akan mengambil Ello," kata Evan santai membuat wajah Faira yang pucat berubah memerah.
"Aku tidak akan membiarkannya!" ucap Faira.
"Bagaimana kau akan mencegahku jika kau sendiri lemah seperti itu," imbuh Evan setengah berbisik. Dia suka memancing kemarahan wanita ini.
Faira akhirnya memaksakan diri untuk duduk, walau kepalanya sedikit pusing dan rasa mual menyerangnya.
"Biar aku suapi," tawar Evan menyendok oatmeal yang harum.
"Aku bisa sendiri, tidak usah kau bantu. Aku juga tidak tahu kau memberikanku racun dalam bubur ini atau tidak," omel Faira.
"Ibu itu aneh, Om Evan itu baik tidak mungkin dia memberikan racun," ujar Ello.
Evan tersenyum dibela oleh anaknya. Sedangkan Faira memutar bola matanya malas. Evan lalu memberikan baki itu pada Faira. Faira mulai memakannya pelan.
"Ibu tahu orang yang pernah menolongku dulu itu Om ini," kata Ello. "Itu lho yang apa, yang waktu aku jatuh di mall itu."
Evan menepuk kepala Ello. "Om juga punya warna mata yang sama denganku, ibu lihat warna mata kami biru," lanjut Ello. Membuat Faira mendesah.
"Kita memang mempunyai warna mata yang sama. Warna mata yang ibumu sukai," imbuh Evan membuat Faira membelalakkan matanya tajam pada Evan tetapi pria itu tetap tidak peduli dengan tindakan Faira. Dia malah merasa senang menikmati kebersamaan mereka.
"Apa kau punya hobi atau makanan kesukaaan Ello?" tanya Evan.
"Aku suka Pizza paperoni, tapi Mom suka marah bila aku suka memintanya," Ello mulai mengadukan perilaku ibunya pada Evan.
"Itu jika kau sering memintanya Ello," sanggah Faira.
"Om juga menyukainya sewaktu Om masih kecil, apalagi jika Ibu Om yang membuatnya." Evan mencium ibu jari dan jari telunjuknya. "Sangat lezat karena kejunya sangat banyak."
"Jika hari Minggu Mom, suka membuatnya bersamaku dan Ella," lanjut Ello lagi antusias.
"Hanya saja aku suka membuat sedikit kekacauan." Ello melihat ke arah Faira yang tersenyum sembari mengacak rambut Ello.
"Ya, kau selalu membuat dapur berantakan oleh tepung," imbuh Faira. Evan terpana melihat Faira tersenyum untuk pertama kalinya semenjak mereka bertemu.
Ello tertawa sembari memegang perutnya, "Rambut Ella akan putih dan Mom akan menjewer telingaku," ucap Ello.
"Kalau Mom sudah sehat, kita akan buat Pizza bersama-sama," kata Evan. Membuat mood makan Faira hilang dia meletakkan sendok dengan kasar.
"Om ke dapur? Ayah tidak pernah ke dapur katanya itu adalah pekerjaan wanita. Namun, ayah tidak pernah melarangku." Ello lalu menunduk.
"Baru sebentar saja aku sudah merindukan Ayah, Ella dan Ibu," ucap Ello sedih.
Evan menutup matanya, hatinya mendesir sakit, nafasnya terasa sesak setiap kali Ello memanggil Ayah untuk pria lain yang bukan orang tua kandungnya.