Affair (Faira)

Affair (Faira)
Fay, nama wanita itu.



"Lin?!" gumam Evan. Lin mendekat, memeluk lalu mengecup bibir Evan. Faira melihat ke arah lain dengan santai. Sedangkan, tubuh Evan membeku.


"Ya, aku mendengar dari Kendrick kau sudah pulang semenjak kemarin jadi aku buru-buru ke sini untuk bertemu denganmu. Aku takut kau akan pergi lagi untuk menyelesaikan pekerjaanmu," ungkap Lin.


Faira lalu melihat penampilan Lin dari bawah hingga ke atas. Lin adalah wanita Asia berumur 32 tahun yang sangat modis, cantik dan elegan. Rambut hitam panjangnya terurai hingga ke bahu, tubuhnya kecil langsing seperti kebanyakan wanita Asia pada umumnya. Matanya memperlihatkan kecerdikan dan keangkuhan. Faira bisa menebaknya.


Evan tersenyum canggung. Lin lalu melingkarkan tangannya ke lengan Evan dan menghadap pada Faira.


"Jadi siapa wanita ini Evan? Jangan bilang kau berselingkuh dariku," kata Lin manja sembari melirik tajam pada Faira yang terlihat santai.


Faira ingin tahu Evan akan berkata apa tentang dirinya di depan kekasihnya. Apakah dia akan jujur atau dia akan mengelak?


"Dia ibu dari anakku," kata Evan melihat ke arah Faira. Sejenak Faira terkejut melihat ke arahnya menanti kelanjutan kalimat Evan.


Lin juga terkejut tetapi dia mencoba bersikap tenang.


"Okay, anak, jadi kau telah mempunyai anak selama ini?" tanya Lin yang terlihat tidak senang.


"Ya, aku baru tahu sepulang ke Indonesia kemarin," kata Evan.


Lin mengangguk lemah. Dia kemudian menarik nafas panjang.


"Baiklah dia ibu dari anakmu. Aku bisa menerimanya. Namun, apakah kau membawanya kemari untuk melanjutkan hubungan lama atau ... aku tidak tahu?" ucap Lin terdengar frustasi.


"Aku dan dia tidak punya hubungan apapun," jawab Evan menarik tali kecemburuan dari Faira yang terlihat seperti air yang tenang.


"Aku kemari karena dia ingin berinteraksi lebih dengan anaknya, hanya itu. Kau pun jangan khawatir jika aku akan merebut pria ini darimu karena aku sudah mempunyai suami," terang Faira dengan wajah meremehkan. Evan nampak tidak suka dengan ucapan Faira.


Terdengar helaan nafas lega dari Lin, wajah wanita itu yang terlihat tegang kini mulai nampak santai.


"Siapa namamu?" tanya Lin. Dia mulai mengamati Faira dari bawah hingga ke atas. Wanita muda yang cantik. Walaupun dia hanya memakai gaun tidur biasa dan tidak berhias namun aura anggun keluar dari dalam dirinya. Dia malah terlihat seksi dan menggiurkan. Pantas saja jika Evan tertarik padanya dan mereka kemudian mempunyai seorang anak. Lin penasaran sedalam apa hubungan mereka.


Lin tersenyum ketika Faira membalas uluran tangan Lin.


"Faira, kau bisa memanggilku Fay," ucapnya. Wajah Lin terlihat terkejut namun detik kemudian dia tersenyum cerah.


"Okey, Fay, senang berkenalan denganmu. Jika boleh aku mau melihat anak kalian?" tanya Lin.


"Dia masih tidur di kamar," kata Faira.


"Oh, kalau begitu lain kali saja. Aku kemari hanya ingin menyapa Evan karena hampir satu bulan ini kami tidak bertemu. Dia terlalu sibuk mengurus perusahaannya dan hanya pulang kemari beberapa hari lalu pergi lagi ke tampar lain," ujar Lin menatap Evan.


"Kau tahu ritme kerjaku tinggi Lin," sela Evan.


"Aku akan ke kamar dan melihat apakah Ello sudah terbangun atau belum?" pamit Faira tidak enak. Dia seperti menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka.


Sepeninggal Faira, Lin menatap tajam pada Evan.


"Apa ini? Kau membawa wanita lain masuk ke dalam rumah?" seru Lin yang berubah beringas ketika Faira tidak ada.


"Kau sudah mendengar penjelasannya dan penjelasanku, Lin," sanggah Evan.


"Evan, kau jangan bermain-main denganku. Aku bukan wanita yang mudah memaafkan jika sudah dikhianati."


"Apakah kau pernah melihatku dengan wanita lain atau bermain wanita di belakangmu? Tidakkan, aku bukan pria seperti itu," elak Evan masih menutupi perasaannya pada Lin.


"Kau tidak pernah berhubungan dengan wanita lain, juga tidak denganku. Hanya satu kali saja kita pernah melakukannya, itupun ketika kau mabuk. Kau melakukannya pun dengan masih menggumamkan nama seorang wanita yang kini aku tahu jika wanita itu adalah dia, ibu dari anakmu. Apakah kau sangat mencintainya hingga kau enggan menyentuh wanita lain termasuk aku?"


Wajah Evan menjadi pias seketika. Dia kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Lin.


"Lin, aku tahu kau sering bermain pria di belakangku, apakah aku marah atau menghardikmu, tidak kan. Jadi kini mengertilah keadaanku," ucap Evan meninggalkan Lin yang masih tercengang.


"Sial!" umpatnya menggenggam kedua tangan erat. Evan ternyata tahu apa yang dia lakukan selama ini di belakangnya.


Haruskah dia tenang dengan pernyataan Evan yang mengatakan tidak memperdulikan hal itu atau dia marah karena itu menandakan bahwa Evan tidak punya hati untuknya. Lin kini tahu siapa pemilik hati Evan.


Hanya saja mengapa wanita itu disini jika dia sudah menikah dengan pria lain? Apa mereka masih punya hubungan tersembunyi?


Evan lalu berjalan pergi meninggalkan Lin Dan mengikuti Faira. Dia melihat wanita itu masuk ke dalam kamar. Evan pun ikut masuk ke dalam namun Faira tidak ada, suara gemericik air dari dalam kamar mandi menandakan keberadaannya.


Evan mendekati Ello yang masih meringkuk di atas tempat tidur. Wajah mungil itu nampak damai. Evan lalu ikut berbaring di sebelah Ello, mendengarkan deru nafas putranya yang menenangkan. Lama kelamaan mata Evan ikut terpejam. Faira yang baru saja keluar dari kamar mandi nampak terkejut melihat Evan yang sedang tidur di ranjang.


Dia mencoba mengabaikannya dan mencari tas berisi pakaiannya. Tidak ada. Faira mulai nampak kesal. Dia lalu melihat ke arah lemari Evan yang tinggi dan besar lalu membukanya, menemukan beberapa pakaian pria itu. Ini menjelaskan bahwa kamar yang di tempatinya adalah kamar Evan.


"Fay, aku sudah menyiapkan baju untukmu di lemari paling pojok sebelah kanan," ucap Evan tanpa membuka matanya membuat Faira terkejut untuk kedua kalinya. Dia menelan Salivanya dalam-dalam mencoba untuk tetap tenang. Untung saja dia memakai bathrobe sehingga tidak terlihat jelas bentuk tubuhnya dan merasa sedikit aman.


Faira lalu mencoba membuka sudut lemari yang Evan tunjukkan. Faira hampir memekik girang ketika melihat beberapa gaun rumah dan baju malam yang masih terbungkus apik di gantungan baju Evan. Faira melihat merk yang tertera adalah brand mahal kesukaannya. Namun sepertinya ini yang limited edition.


Matanya kembali ke rak di bawahnya di sana berjajar rapi dalaman dan baju lingerie. Imajinasi pria itu sungguh nakal. Mungkin dia berpikir jika Faira adalah wanita murahan yang akan mau melakukan kesalahan lagi. Dia memang terlihat tidak menghargainya.


Faira lalu mengambil sepasang dalaman berwarna merah dan gaun tanpa lengan berwarna senada pula.


"Aku bisa membayangkan dalaman itu akan indah jika dipakai olehmu," ucap Evan menatapnya dengan posisi tubuh menelungkup dan kedua tangan di satukan untuk menyangga kepalanya.