Affair (Faira)

Affair (Faira)
Pertama Dan Terakhir



"Aku tidak tahu apa yang terjadi namun caramu membunuh Robin dan ayahnya berakibat fatal."


"Ibu Lusi yang telah membenci Evan, pingsan dan sakit. Selama itu aku yang merawatnya, dia awalnya membenciku karena tahu bahwa aku adalah istrimu dan hampir membunuhku."


Intan lalu mengenang kejadian empat tahun yang lalu.


"Bagaimana keadaannya Arik?" tanya Intan.


"Kondisinya sudah stabil, kita hanya perlu menunggunya siuman saja."


"Aku tidak tahu apa yang terjadi namun berita itu mengguncang hati dan pikirannya," ucap Intan mendesah menatap ke arah tubuh lemah wanita itu.


"Suamimu sangat mengerikan. Namun bagaimana kau tahu jika suamimu yang melakukannya?"


"Anak buah Robin pulang dan memberitahu hal ini pada Tante Lusi, dia lalu jatuh pingsan tidak bisa menerima apa yang terjadi. Padahal Robin anak satu-satunya." Intan menghapus air mata yang keluar dia tidak tahu harus bagaimana. Marah pada keadaan dan pada Raka, sedih mengapa pria itu harus melakukan hal seburuk itu, kecewa karena Raka bukan pria yang dia idamkan selama ini tetapi hatinya terpaut padanya.


Dokter Atalarik lalu pergi dari ruangan itu setelah memberi beberapa wejangan agar Intan tenang.


Lusi bangun dari pingsannya. Dia langsung menatap benci pada Intan. Melempar semua benda yang ada hingga turun dari ranjang dan mencekiknya. Untung Arik dan beberapa perawat mencegahnya serta memberi suntikan penenang pada wanita itu.


Beberapa hari selalu terjadi drama, entah itu Lusi yang ingin bunuh diri atau dia marah-marah pada Intan. Namun, Intan tetap sabar menungguinya. Dia tidak tega melihat seorang wanita terluka karena keluarganya meninggalkannya di dunia sendiri dan itupun akibat perbuatan suaminya.


Hingga akhirnya setelah dua bulan merawat Lusi, Intan pun berjanji padanya.


"Tante walau aku bukan Robin, aku juga bukan anak kandungmu namun aku berjanji akan merawatmu layaknya seorang anak. Aku tidak akan menggantikan posisi putramu atau menjadi sebaik dirinya tetapi aku harap kau mengijinkanku untuk menggantikan posisi Robin setidaknya itu bisa mengurangi beban di hati ini."


Lama Lisa terdiam memikirkan semuanya. Wanita ini memang istri pembunuh anaknya tetapi dia juga dengan sabar merawatnya. Tiba-tiba terbesit ide di hatinya. Bukankah Raka telah memisahkannya dari anak dan suaminya. Maka dia akan memisahkannya dari anak serta istrinya.


"Baiklah, dengan syarat kau harus menuruti semua keinginanku. Salah satunya dengan melupakan Raka. Pria itu yang membunuh anak dan suamiku begitu keji. Bahkan menutupinya sehingga tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia pembunuh keluargaku. Aku tidak punya apa-apa kini. Bahkan tidak ada tempat untuk bernaung. Rumah itu telah diambil kembali oleh keluarga almarhum suamiku."


Hati Intan ikut sedih mendengarnya. Dia bisa tahu bagaimana hancurnya seorang ibu yang harus kehilangan anak dan suaminya di saat yang sama.


"Baik, aku akan melupakannya, melupakan suamiku. Soal rumah kita bisa membeli rumah disini dengan namaku, jadi kau tidak perlu khawatir akan tinggal di mana," kata Intan. Dia sendiri tidak punya uang untuk membeli rumah tetapi dia tahu jika Lusi menerima banyak warisan dari almarhum suami dan anaknya. Itu bisa dia pergunakan untuk masa tua wanita itu.


"Sementara itu aku akan bekerja di rumah sakit milik Arik."


Lusi tersenyum dan memegang dagu Intan yang duduk bersimpuh di depannya.


"Dengarkan aku, anak Cantik. Kau telah berjanji untuk menjadikan aku sebagai ibumu. Mulai kini panggillah aku, Mom dan lupakan semua tentang masa lalumu. Kau kini bukan kau yang dahulu. Aku harap sampai kapan pun kau akan mengingat janjimu itu padaku!"


"Aku akan selalu memegang janjiku," kata Intan.


Intan mendesah mengakhiri ceritanya.


"Jadi kau yang membayar semua yang kejahatanku?" tanya Raka.


"Aku selalu jadi korban perbuatan mu," imbuh Intan. Dia lalu mengatupkan bibirnya erat.


Raka menatapnya dengan sendu. Lalu memeluknya erat.


"Maaf, mungkin kata itu tidak bisa untuk ... ,akh aku tidak harus mengatakan apa," desahnya kemudian.


"Aku mencintaimu Intan, sangat mencintaimu. Aku pikir kau telah mengkhianatiku dan pergi bersama pria lain. Nyatanya," Raka tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia seketika menyesali apa yang dia lakukan.


"Jangan menyatakan cinta jika kau sendiri tidak memegangnya, karena aku bukan wanita yang dengan mudah akan menerima pernyataan cinta pria. Tidak setelah apa yang kau dan Bram lakukan," kata Intan.


Mata Intan berisi banyak sekali rasa sakit untuk Raka. Sesuatu yang tidak bisa Raka hapus saat ini.


"Beri aku satu kesempatan lagi, ku mohon," pinta Raka.


"Aku tidak bisa, aku sudah berjanji untuk melupakanmu," ucap Intan.


Raka memejamkan matanya.


"Lalu bagaimana aku bisa menghapus janji itu?"


"Minta maaf pada Mom Lusi, minta sertaunya baru kau akan mendapatkanku dan Laura selama itu tidak bisa kau raih maka selama.itu pula aku tidak akan mau hidup bersamamu. Walau kau memaksaku. Kau akan mendapatkan kebencianku saja jika kau melakukannya."


"Baiklah aku akan meminta restu darinya walau itu akan sulit."


"Jika semua dilakukan dengan ikhlas dan dari hati maka semua akan membaik."


"Berarti Laura ada pada wanita itu?" tanya Raka.


"Ya, entah bagaimana nasibnya tanpa aku di sisinya."


Raka terdiam.


"Maka dari itu biarkan aku pergi besok," pinta Intan.


"Aku akan mengantarkanmu, sekalian minta maaf pada Lusi."


"Hush, pada orang tua memanggil Lusi."


"Okey, Tante Lusi. Itu terdengar... aku membenci keluarga mereka," kata Raka berterus terang.


"Bencilah semua orang di dunia ini! Kau juga selalu membenci orang-orang yang dekat denganku, Kak Ditya juga kau benci. Tidakkah kau sadar jika kelakuanmu itu akan membuat semua orang juga membencimu!" terang Intan.


"Berdamailah dengan hatimu. Lihat sisi positif dari diri setiap orang, jangan kau nilai dari sudut pandang pribadimu sendiri."


"Baiklah mulai kini aku akan belajar melakukannya," kata Raja. Sedikit banyak apa yang dia dapat di dunia politik membuat dia tidak percaya pada setiap orang. "Asal kau berada di sampingku dan mengajarkan semuanya.


Intan lalu merenggangkan jarak mereka namun Raka malah menariknya lagi.


"Kau sudah memperoleh jawabanmu sekarang biarkan aku tidur."


"Kau belum bercerita tentang Dokter itu," ucap Raka sengit.


"Aku lelah, Raka kita teruskan besok saja. Tubuhku masih sakit semua karena kau memaksakan diri padaku!''


"Kau yang memancing emosiku." Raka lalu melihat luka memerah yang telah membiru di lengan Intan.


"Aku akan mengobatinya," ucap Raka.


"Menyakiti lalu mengobati, menyakiti lagi, itu yang selalu kau lakukan," omel Intan. Hati Raka mendesir sakit mendengarnya. Banyak kesalahan yang telah dia perbuat pada wanita ini sehingga kata maaf yang dia ucapkan tidak mudah untuk membuat wanita itu memaafkannya.


"Ini yang pertama dan terakhir. Aku tidak akan melakukan lagi."