
Raka terlihat keberatan ketika menggendong Intan, nafasnya terengah-engah namun pengawal yang datang untuk membantu Raka langsung ditolaknya.
Raka lalu membawa wanita itu ke kamar yang biasa digunakan oleh para wanitanya untuk menginap.
Setelah itu dia meletakkan tubuh Intan di atas tempat tidur dan mengambil tasnya yang menyelempang di bahunya diletakkan di atas nakas sebelah tempat tidur. Setelah itu, dia tangannya bertumpu pada lutut sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Raka hendak pergi ketika wanita itu terbangun dari tidurnya. Dia kembali menangis keras. Mau tidak mau Raka mendekati dan duduk di dekatnya.
"Apa salahku hingga dia meninggalkanku. Apakah aku tidak cukup baginya sehingga dia memilih wanita lain?" ceracau Intan.
"Bukan kau tidak baik tetapi dia tidak cukup baik bagimu, kau berhak mendapatkan yang lebih baik dirinya," kata Raka. Intan tiba-tiba melihatnya dengan seksama pandangan kata itu membuat Raka terdiam, terhanyut dalam pesona manik mata kecoklatan yang memikat.
Penuh ketulusan dan cinta kasih, menentramkan hati yang memandangnya.
Tiba-tiba Intan menangkup wajah Raka membuat darah pria itu mendesir bukan hasrat tetapi sesuatu yang dia tidak tahu apa itu. Perlahan labium merah itu mendekat ke arah bibir Raka.
Tubuh Raka membeku seketika. Dia hampir tidak bernafas mendapat serangan itu. Pikirannya pergi entah kemana, ciuman itu terasa hangat, lembut dan manis di bibirnya dan tanpa hasrat yang menggebu-gebu.
Intan sendiri mencium Raka hanya karen terharu pria itu telah membuat hatinya yang terluka terobati walau sedikit.
***
Raka terbangun dari tidurnya ketika sinar matahari mulai terbit. Dia lalu mencari handphone sembari menutup mata tetapi yang dia pegangnya malah benda kenyal milik wanita itu membuat adik kecil dalam sarangnya terbangun seketika. Raka langsung melonjak bangun.
Raka langsung mengambil piyama yang tersampir dia atas nakas dan melihat handphonenya. Pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Setengah jam lagi dia harus melakukan meeting dengan karyawannya di perusahaan.
"Sial," tutur Raka. Dengan pelan dia menarik kakinya yang dibelit oleh Intan. Sejenak dia tersenyum melihat wajah wanita cantik itu.
Untuk menghemat waktu Raka langsung pergi ke kamar mandi yang terletak di sebelah ini. Dia lalu mandi di dalam kotak mandi yang terbuat dari kaca tanpa menutup pintunya.
Intan yang baru saja tersadar lalu merasakan jika kepalanya terasa pusing sekali. Dia memegang kepala dan menekannya kuat.
"Intan apa yang terjadi," gumamnya tanpa membuka mata.
Pelan-pelan dia mendengar suara gemericik air dari dekatnya. Mata Intan langsung terbuka lebar dan melihat jika dia berada di tempat asing. Netranya menatap turun ke bawah tubuh. Mata melebar dan mulut terbuka melihat kondisi tubuh. Selimut hanya menutupi tubuh bagian bawahnya saja. Sedangkan tubuh bagian atas terekspose dengan sempurna. Kedua tangan Intan menarik rambut ke belakang frustasi dengan apa yang telah terjadi.
Mengapa dia hanya memakai dalaman saja, mana pakaian dan rok yang dia gunakan semalam? Matanya mulai menyapu seluruh isi ruangan. Intan lalu melihat pakaiannya tersampir di kursi.
Intan mengaduh tanpa suara, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Terakhir yang dia ingat adalah dia mencium pria itu terlebih dahulu. Hancur masa depannya kini.
Rasa penasaran ketika melihat pintu kamar mandi yang terbuka membuat jiwa kepo bangkit, dia harus melihat dan tahu wajah pria yang telah menghabisinya malam ini. Dia ingin meminta pertanggung jawaban. Kepala Intan melihat ke dalam ruangan itu yang tampak hanya tubuh atletis di dalam kotak kaca yang sedang membersihkan diri.
Intan yang malu bergegas menyambar pakaian dan memakainya sembari berjalan. Lalu menenteng sepatu serta menyampaikan tasnya ke bahu.
Dia harus pergi dari tempat ini sebelum pria itu datang dan membuatnya malu setengah mati. Intan tidak memperdulikan rasa pusing yang dia rasakan saat ini. Dia yang dia inginkan adalah menenggelamkan diri dalam dunia ini hingga tidak terlihat.
Intan keluar dari kamar itu dan baru tahu jika dia bermalam di sebuah rumah mewah. Beberapa pelayan berseragam terlihat sedang membersihkan rumah dan ada beberapa orang pria berbadan besar yang sedang berbincang.
Pelayan itu mengatakan jika dia harus masuk kelift dan turun ke bawah. Intan dengan cepat masuk ke dalam lift dan mulai turun ke bawah. Di dalam lift dia melihat penampilannya yang kacau balau dan merapikannya. Oh, shits dia bahkan belum menyuci mukanya sama sekali. Dia memakai sepatunya dan keluar dari lift dengan tergesa-gesa mencari pintu keluar rumah besar ini.
Siapa yang dia ajak tidur mengapa rumah ini sangat besar seperti hotel saja, batin Intan.
Sedangkan di kamar Raka yang baru saja menyelesaikan mandinya keluar dari bathroom dan melihat wanita yang ditolongnya semalam sudah pergi tanpa pamit. Dia lalu keluar kamar dan bertanya pada pengawalnya di mana keberadaan wanita itu.
Pengawal mengatakan jika wanita itu telah pergi. Raja lalu pergi ke balkon rumah yang tertuju pada halaman depan rumah. Di sana dia melihat wanita itu sedang berbicara pada penjaga gerbang dan keluar dari pintu gerbang itu.
Baru kali ini dia diabaikan oleh seorang wanita setelah bermalam bersama. Rata-rata para wanita itu akan bertingkah manja dan meminta tinggal di rumah ini lebih lama.
***
"Pak, kami sudah mewawancarai tiga kandidat sekretaris baru yang akan menjadi sekretaris Bapak," kata asistennya yang bernama Gesang.
"Kalau begitu bawa kemari semuanya. Aku tidak ingin memilih sekretaris yang hanya bisanya bersolek saja," kata Raka yang sudah bosan dengan sekretaris wanitanya yang manja seperti Cindy mantan sekretaris lamanya.
"Ada dua kandidat sekretaris pria dan satu sekretaris wanita."
"Bawa mereka masuk bersamaan, aku ingin melihat seperti apa mereka?" jawab Raka tanpa melihat ke arah Gesang. Dia lalu mulai berdiri dan berjalan ke tembok yang terbuat dari kaca dan melihat pemandangan keluar jendela.
Pikirannya kembali teringat pada adiknya di negeri seberang. Bagaimana bisa adiknya menyembunyikan fakta jika dirinya telah lama bercerai dari Ditya. Dia benar-benar kecolongan. Kakak seperti apa dia yang tidak bisa melindungi adiknya dan anehnya Faira malah lebih memilih hidup bersama mantan suaminya secara bertahun-tahun.
Jika itu karena cinta maka akan terasa aneh karena mereka tidak ingin punya ikatan apapun. Atau Faira ingin agar Ello punya sosok ayah.
Lamunannya terhenti ketika dia mendengar pintu ruangannya dibuka dan suara derap langkah beberapa orang yang masuk ke ruangannya. Raka tetap melihat ke arah luar jendela.
"Pak, ini mereka calon kandidat dari sekretaris Bapak. Mereka dipilih dari beberapa sekretaris yang bekerja di anak cabang perusahaan kita," terang Gesang.
"Sebelum aku melihat wajah kalian aku hanya akan bertanya tentang apa itu dedikasi bagi kalian?"
"Dedikasi dan komitmen adalah apa yang mewujudkan mimpi menjadi kenyataan." Suara pertama seorang pria dengan penuh semangat.
"Menjadi sukses di bidang tertentu, terutama penjualan, tidak terjadi dalam semalam. Itu membutuhkan kerja keras, dedikasi, dan komitmen," jawab seorang pria dengan penuh percaya diri.
"Dedikasikan sebagian hidup Anda untuk orang lain. Dedikasi Anda tidak akan menjadi pengorbanan. Itu akan menjadi pengalaman yang menggembirakan karena itu merupakan upaya intens yang diterapkan untuk mencapai tujuan yang bermakna. Ketika seseorang memiliki dedikasi maka dia akan menemukan gairah dalam kehidupan," jawab suara wanita yang Raka kenal.
"Untukmu yang mengatakan tentang gairah, apa arti gairah itu sendiri?" tanya Raka kembali sembari memegang rahangnya yang kuat dan kokoh.
"Gairah itu, perasaan antusiasme yang kuat atau dorongan hasrat terhadap seseorang atau sesuatu,"
Raka membalikkan tubuhnya, membuat mata Intan terbelalak lebar. Dia ingat itu pria yang dia cium tadi malam dan mereka menghabiskan malam bersama.
"Nyak, tolong aye!" batin Intan dalam hati. Dia rasanya ingin berlari menjauh dari pria itu.