Affair (Faira)

Affair (Faira)
Meraba Perasaan Ditya



Ditya dan Cintya lalu duduk di depan Faira.


"Kalian akan menikah dua Minggu lagi. Semua sudah kuatur dengan baik. Cintya kau pulanglah kembali pada ibumu karena aku telah menghubungi beliau lewat orangku. Aku juga telah menyuruh orangku itu untuk mengurus semuanya di sana. Kau hanya terima bersih saja. Untuk 'suamiku' kau hanya perlu bersabar hingga hari H setelah itu kalian bisa melakukan semuanya bersama-sama hingga kalian pu ... as."


Tidak ada nada nada tinggi dari perkataan Faira namun setiap penekanan kata yang diucapkannya menggambarkan hatinya jika dia ingin segera lepas dari pernikahan ini dan Ditya boleh merasa lega karena semuanya sudah diatur sebaik-baiknya oleh Faira. Dia memegang ucapannya sendiri.


"Mari kita makan. Makanan sudah dingin karena menunggu kalian sedari tadi tidak turun," ketus Faira.


Cintya melirik ke arah Ditya dan menarik nafas. Faira sendiri mulai mengambil makanannya sendiri tanpa mau memperhatikan Ditya.


"Aku tidak bisa makan sendiri," kata Ditya.


"Biar aku yang akan menyuapimu," kata Cintya melirik ke arah Faira yang cuek. Dia mengernyitkan dahi. Apakah selama ini Faira memang bersikap dingin pada Ditya jika memang demikian pantas saja jika Ditya tidak menyukainya?


Kalau begitu apa alasan Faira menjebak Ditya pada waktu itu? Jika dia mencintainya dia pasti akan bersikap perhatian pada suaminya? pikir Cintya sendiri.


"Cintya apa yang kau pikirkan! Mengapa kau melamun?" tanya Ditya.


"Akh tidak aku hanya berpikir bagaimana caramu mengurus diri ketika aku tidak ada?" tanya Cintya lalu menoleh ke arah Faira.


Faira yang sedang makan terdesak seketika. Dia lalu mengambil segelas air putih dan minum.


"Kau tidak perlu mencemaskan ya kami akan menyewa dua orang perawat cantik yang akan bertugas mengurus mas Ditya secara bergantian. Aku tidak bisa membantunya karena .... tanyakan saja pada calon suamimu itu mengapa," kata Faira. Dia lalu berdiri dan merapikan bajunya.


"Aku sudah selesai, aku masih ada pekerjaan di luar jadi aku akan pergi."


Faira melihat ke arah Cintya.


"Cintya mobil akan membawamu kembali ke Bandung nanti malam," kata Faira lalu meninggalkan mereka berdua di sana.


Faira menarik nafas dalam lalu berjalan. Langkahnya terhenti ketika melihat Mbok Nah yang berada di bawah tangga.


"Mbok tolong ambilkan tas ku yang berwarna putih di atas," Faira lalu keluar menuju mobilnya.


Belum saja dia melangkah keluar rumah seseorang terdengar memanggilnya.


"Faira tunggu kita harus bicara," kata Cintya. Faira lalu membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Cintya.


"Apa maksudmu dengan kalimat ingin menyewa perawat yang cantik bagi Ditya?" tanya Cintya.


"Kalau begitu biarkan aku tinggal di sini setidaknya hingga tiga hari sebelum pernikahan untuk merawat mas Ditya," pinta Cintya.


"Cintya ini semua demi kebaikan kalian, kau harus mau melakukannya!" kata Faira.


"Apakah begini sikapmu selama ini mengatur semuanya. Aku sekarang mengerti mengapa Mas Ditya tidak bisa belajar mencintaimu karena kau terlalu angkuh dan mau menang sendiri!" seru Cintya marah.


"Cintya!" teriak Ditya dari arah belakang mereka dia berjalan mendekat walau dengan kaki yang pincang. Membuat dua wanita itu menoleh ke arah Ditya.


"Jaga ucapanmu!" imbuhnya lagi.


"Tetapi Dit, aku ha ... ," perkataan Cintya terpotong ketika melihat wajah Ditya yang memerah.


"Faira sudah lelah mengurus pernikahan kita, kau hanya tinggal menurutinya saja, hentikan kemarahanmu itu!" ucap Ditya.


Cintya membuka lebar mulutnya tidak percaya jika Ditya membela istrinya yang enggan untuk mengurus kebutuhan suaminya. Faira hanya mengangkat bahu dan membalikkan tubuh berjalan ke arah mobil miliknya.


Cintya menutup matanya dan mengepalkan tangan. Apakah yang dikatakannya salah? Jika iya, sebenarnya apa yang menyebabkan rumah tangga mereka berdua terlihat tidak harmonis sedangkan Faira terlihat membela Ditya dan Ditya juga membela Faira tetapi seperti ada sekat penghalang antara keduanya.


Faira sendiri segera masuk ke dalam mobil dan menarik nafas panjang serta memegang stir mobil dengan kencang.


Baru saja sehari Cintya berada di rumah tetapi sudah mulai ada pertengkaran. Bagaimana jika nantinya mereka akan tinggal serumah?


Namun, Faira terkejut melihat reaksi Ditya yang marah dan terkesan membelanya. Haruskah dia senang atau itu hanya sebuah rasa simpatik sementara karena dia yang mengurus semua pernikahan Ditya.


"Tinggal dua Minggu Faira kau harus bertahan," gumam Faira. Dia mulai memutar kunci mobil sebelum Mbok Nah datang dengan tas yang dimintanya. Wanita paruh baya itu membuka pintu mobil dan meletakkan tas itu di kursi penumpang.


"Nyonya ini tas Anda. Maaf lama tetapi Tuan Ditya tadi menyuruh saya untuk memberitahukan bahwa dia ingin berbicara dengan Anda setelah Anda pulang kembali ke rumah." Faira menaikkan kedua alisnya ke atas terkejut dengan keinginan Ditya yang tidak seperti biasanya.


"Mau bicara masalah apa?" tanya Faira.


"Saya kurang tahu Nyonya," jawab Mbok Nah.


"Ya sudah kalau begitu. Katakan kalau aku akan pulang malam," ucap Faira. Mbok Nah lalu menutup pintu mobil itu kembali. Mobil mulai beranjak meninggalkan rumah itu.


Sepanjang perjalanan Faira memikirkan apa yang akan dia lakukan nanti. Dia tadi hanya mencari alasan untuk keluar karena suasana rumah itu yang terasa menyesakkan dadanya.


"Ditya sebenarnya apa yang kau pikirkan tentangku?"