Affair (Faira)

Affair (Faira)
Rasa Baru



"Kau saja yang jalan terlebih dahulu," ujar Faira. Dia tidak pernah berjalan sembari bergandengan tangan dengan seorang pria.


Evan memegang dagunya dan tersenyum lalu mempersilahkan Faira untuk berjalan terlebih dahulu lewat bahasa tangannya.


"Sebaiknya kita berjalan bersama saja," kata Faira. Mereka lalu berjalan beriringan. Faira menggigit bibirnya, gugup. Dia bagai remaja belasan tahunan yang baru pertama kali melakukan kencan.


Mereka lalu keluar resort, melewati pantai pasir putih yang indah. Sesekali mata Evan melihat ke arah Faira yang tampil cantik dan menawan.


Bulu mata yang panjang, lentik dan berwarna kelam sekelam bola matanya yang berwarna onyx. Hidung kecil yang tinggi, pipi tirus dan dagu yang panjang. Merah warna lipstik di labium mungil dan tipis itu membuat mata Evan tidak bosan memandanginya.


'Dia tampil dalam dandanan warna paling mulia, putih bersih terpapar cahaya, tertata dan apa adanya, dengan gaya yang sederhana namun tidak mengurangi keanggunan dalam diri membuat hatiku jatuh bersimpuh dalam pesonanya,' pikir Evan.


"Ada apa," tanya Faira menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Evan.


"Kau cantik," ucap Evan jujur.


Faira tersenyum.


"Aku tahu itu," jawab Faira santai melanjutkan lagi langkahnya meninggalkan Evan. Evan lalu berjalan cepat mengikuti Faira.


"Pasti banyak sekali pria yang mengejar cintamu?" tanya Evan.


"Tidak ada," jawab Faira.


"Kau bohong?" Faira menghentikan lagi langkah kakinya dan menatap Evan. Wajahnya mendekati wajah Evan.


"Tatap mataku apakah aku terlihat berbohong?" tanya Faira. Evan terhipnotis oleh manik mata Faira yang menyiratkan keluguan dan kejujuran.


"Tidak!" jawab Evan.


Tangan Evan gatal untuk tidak bergerak, dia lalu mengambil surai coklat milik Faira dan menyelipkannya di belakang telinga wanita itu membuat Faira terkejut oleh perlakuan manis Evan.


Evan lalu tersenyum dan melihat ke arah lain.


"Kita mau kemana?" tanya Faira yang mulai berjalan lagi. Langkahnya mulai goyah karena sepatu highless tidak cocok untuk tanah berpasir di pantai ini.


Dia hampir terjatuh tetapi Evan memegang pinggang rampingnya. Membuat jantung Faira berdetak lebih cepat. Bau parfum maskulin pria itu menyeruak di hidungnya, membuat pikiran kotor menggelitik sanubari.


'Ditya bersama wanita lain, aku juga bisa melakukannya,' batin Faira sakit hati.


"Maaf, sebaiknya kau melepas sepatumu," ujar Evan. Evan tetap memegangi Faira dan Faira melepas satu persatu sepatunya dan menggenggamnya.


"Sudah!" ucap Faira memandangi Evan yang tidak fokus. Tangan Faira menyentuh wajah Evan pelan membuat pria itu terkejut.


"Kau melamunkan apa?" tanya Faira. Evan lalu mengusap tengkuknya sembari mengangkat bahu.


"Aneh," kata Faira.


"Sebaiknya kita duduk di sana," tunjuk Evan pada sebuah pohon kelapa di pinggir pantai. "Sembari melihat matahari tenggelam."


Tanpa sungkan Evan langsung menggenggam tangan Faira dan menariknya. Sejenak Faira terdiam membuat Evan menghentikan langkahnya.


Faira lalu maju membiarkan tangan mereka tetap tertaut satu sama lain. Hati Evan serasa berbunga-bunga. Mereka lalu melangkah bersama bagai sepasang kekasih.


Setelah sampai di tempat tujuan, mereka lalu duduk di atas pantai pasir putih sembari menikmati pesona matahari yang tenggelam.


"Apa pekerjaanmu Evan?" tanya Faira.


"Hanya seorang kuli," jawab Evan santai.


Faira mengernyitkan dahinya dan memandangi Evan tidak yakin. Pria ini lebih cocok menjadi pimpinan perusahaan di lihat dari gestur dan wibawa yang terpancar dari dalam tubuhnya.


"Aku hanya seorang pekerja di sebuah perusahaan dan aku sedang melakukan rapat dengan para klien dari daerah sekitar sini," jawab Evan.


"Kansas," jawab Evan.


"Pantas," komentar singkat Faira.


"Pantas apanya?" Evan lalu duduk menghadap Faira dan melihat ke arahnya.


"Tingkahmu seperti pria bebas di luaran sana yang menganggap ungkapan 'ya' jalan bersama itu seperti kencan yang akan berakhir di tempat tidur." Faira mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


Evan tersenyum dan tubuhnya lalu mendekat ke arah Faira, jarak antar wajah mereka kini semakin terkikis ketika wajah Evan sedikit maju ke depan.


"Jika kau tidak keberatan!" ucap Evan terus terang.


Faira tertawa lalu melihat ke arah lain.


"Kita baru mengenal dan merasakan satu sama lain tanpa adanya ikatan atau tanpa perasaan sama sekali, aku bahkan belum pernah berciuman dengan seorang pria dan kau malah mengajakku melakukan hal gila," kata Faira.


Dia lalu sedikit menangis. Hatinya tertawa miris. Ditya bahkan tidak pernah mengajaknya melakukan hal itu, kini pria asing yang baru di kenalnya malah mengajaknya melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah.


Evan yang melihat titik air mata di mata Faira lalu memegang wajahnya lembut.


"Kau kenapa menangis, Fay?"


"Aku tidak harus menceritakan masalahmu padamu," ungkap Faira.


"Karena kita baru saling mengenal?" Faira menundukkan wajahnya. Dua ibu jari Evan mengusap lembut wajah Faira.


"Jangan menangis karena aku tidak suka melihatmu bersedih dari kemarin," ucap Evan.


Faira malah bertambah menangis. Seharusnya yang mengatakan hal itu adalah Ditya bukan pria asing ini.


"Fay, kau kenapa?" tanya Evan mengangkat wajah Faira sehingga wajah mereka saling menatap satu sama lain.


"Hatiku sedang terluka," kata Faira jujur.


"Apa orang yang kau cintai telah mengkhianatimu?" tanya Evan. Bukannya menjawab Faira malah memeluk Evan. Dia butuh tempat bersandar untuk melepaskan penat yang sudah mencengkeram hidupnya selama setahun ini.


"Wanita tidak menginginkan pria kaya atau pria tampan atau bahkan penyair, dia menginginkan pria yang memahami matanya jika dia sedih, dan menunjuk ke dadanya dan berkata, 'ini tempat asalmu', tetapi yang kudapatkan hanya rasa sakit yang menghimpit jiwaku selama setahun ini," ucap Faira.


Membuat Evan terpana oleh kata-kata.


"Jika begitu tetaplah bersandar di dadaku," ujar Evan.


Faira lalu menengadahkan wajahnya dan melihat ke arah Evan.


"Kenapa?"


"Karena aku mencintaimu dari pertama kali kita bertemu," kata Evan langsung.


Faira ingin mengatakan sesuatu tapi telunjuk Evan menyentuh dagunya.


"Jangan tanyakan mengapa karena aku sendiri tidak bisa memilih kepada siapa aku jatuh cinta," kata Evan.


"Kau sangat pandai merayu dan entah mengapa aku juga termakan oleh ucapan manismu," ujar Faira yang mengira Evan hanya bermain-main dengannya seperti dia bermain-main dengan wanita lain.


"Apapun pikiranmu itu tetapi aku mengatakannya dari dasar lubuk hatiku yang terdalam."


Entah mengapa kata-kata Evan begitu merasuk dalam pikirannya hingga ketika bibir Evan yang hangat menyentuh bibirnya Faira hanya terdiam, tidak memberontak dan tidak menolak.


Melihat hal itu, Evan lalu membelai bibir itu dengan bibirnya sedikit ******* lalu menggigitnya perlahan. Mulut Faira mulai terbuka, lidah Evan masuk dan mulai menggodanya.


Faira merasakan gelenyar aneh dari tubuhnya yang menguasai akalnya. Rasa yang membuat pikirannya tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Sentuhan seperti ini yang dia harapkan dari Ditya tetapi pria asing ini yang melakukannya.