
Lusi menatap sinis pada Raka. Tetapi dia menampilkan senyum palsu pada Laura.
"Sayang masuklah dengan ibumu," perintah Lusi. Lalu wajahnya kembali dingin ketika melihat ke arah Raka.
"Kita bicarakan semua di dalam."
Lusi lalu mempersilahkan tamunya untuk masuk terlebih dahulu. Raka dengan tenang melangkah maju ke dalam, sedangkan Intan berjalan di belakangnya dengan menggendong Laura.
"Ibu pergi kemana saja kenapa tidak pulang?'' tanya anak itu yang masih terdengar oleh Raka.
"Kita nanti bicara di dalam saja ya, Sayang, sekarang ibu mau membuatkan minum dulu."
Intan lalu menurunkan Laura sesampainya di ruang tamu sedangkan dia melihat ke arah Raka yang sedang memandangi rumah besar namun sederhana ini. Tidak ada yang luar biasa hanya beberapa kursi kayu penuh ukiran sebuah meja dan vas bunga besar di atasnya.
Intan memang belum merenovasinya mengingat mereka baru pindah beberapa hari ini dan secara mendadak pula. Lusi ingin pergi secepatnya dari Bangka sehingga melakukan semuanya dengan terburu-buru. Intan hanya mengikuti keinginan sang pemilik uang.
Intan menurunkan Laura. Tangan Raka langsung memegang kedua bahu Laura dari belakang dan mendekatkan ke arahnya.
"Duduk sini bersama Om," kata Raka terasa menggelitik lidahnya. "Cih, Om. Seharusnya anakku menyebutku Ayah." Raka berusaha tetap bersabar walau hatinya tidak terima dan bergemuruh.
Intan lalu pergi masuk ke dalam membuatkan kopi dan teh untuk Lusi. Sedangkan Raka, duduk dengan mengusap rambut Laura penuh kasih sayang.
"Om, kenapa bisa pulang bersama dengan Ibu? Memang Ibu pergi bersama, Om?"
"Ibu tinggal bersama, Om sekarang. Kau mau ikut?" tanya Raka. Raka melihat arah mata Laura yang menatap Lusi.
"Grandma, dia akan sedih kalau tidak ada aku. GrandMa sedang sakit, nanti tidak ada yang merawat."
Wajah Laura yang seperti ini sangat mirip dengan ibunya. Penuh perhatian. Raka lalu memeluk erat anaknya. Intan pandai merawat anaknya sehingga tumbuh menjadi gadis cerdas dan ramah pada semua orang.
"Kau benar, jika tidak ada kalian siapa yang akan menemaniku," ujar Lusi dengan wajah memelas pada Laura tetapi menatap sinis pada Raka.
Raka lalu menghela nafas.
"Aku ingin membahas masalah ini denganmu. Aku ingin meminta ijin agar, Intan dan Laura kembali padaku," kata Raka tanpa tendeng aling-aling. Untuk wanita seperti Lusi tidak usah basa basi yang akan membuat perutnya mual.
Lusi tertawa kecil tetapi dengan nada menghina. "Mudah sekali kau mengatakannya Tuan Raka Permana."
"Intan tidak akan mau tinggal bersamamu, dia telah berjanji untuk menemaniku hingga akhir hayat," ucap Lusi.
"Kalau begitu bagaimana jika kau ikut bersama kami. Rumahku cukup besar untuk kalian tinggali."
"Hidup bersama pembunuh suami dan anakku tidak akan mungkin ku lakukan!"
Raka mendekat ke arah telinga Laura. "Sayang, tolong suruh ibumu membawakan Om, cake."
Laura menoleh ke samping, menatap Raka. "Cake?"
"Tadi kami membelinya di jalan. Cake cokelat kesukaanmu."
"Wow, aku akan kesana," ucap anak itu penuh semangat lalu berjalan pergi ke dapur. Setelah Laura hilang dibalik tembok, Raka kembali menatap Lusi.
"Kau tahu alasan aku melakukannya. Aku tidak suka jika keluargaku dilukai oleh siapapun. Aku berkewajiban untuk melindungi mereka!"
"Tetapi kau tidak berhak untuk membunuh mereka," geram Lusi.
"Berhak atau tidak berhak bukan masalah itu tetapi siapa yang akan mati nantinya jika tindakan ini tidak kuambil. Kalian berkali-kali ingin membunuh Evan dan terakhir kalian ingin membunuh Evan dan keluarganya. Sayangnya, kau berhadapan dengan keluarga Permana. Jika bukan aku maka ayahku yang akan melakukannya. Aku masih melepaskanmu karena kau tidak terlihat ikut dalam rencana itu. Kau menggunakan kesempatan itu untuk mendulang rasa simpati Intan." Raka tersenyum smirk.
"Sebuah tuduhan yang kejam."
"Bukan asal menuduh. Kau menjadikan dia pion agar aku terjatuh dan terpuruk. Sayangnya, kau salah orang. Aku bukan pria lemah seperti itu."
"Aku tidak akan membiarkan Intan pergi dari hidupku, dia telah berjanji untuk mengabdikan hidupnya untukku!"
"Dia bukan berjanji seperti itu. Dia berjanji akan menjadi anak baik menggantikan Robin. Padahal Intan jauh lebih baik dari pada putramu itu."
"Jika kau datang kemari untuk menghina anakku maka sebaiknya keluar dari rumah ini." Lisa lalu menangis kencang.
Raka melihat ke arah pintu ruang yang menuju ke dalam rumah. Ada Intan yang sedang berdiri di pintu. Dia mengerti jika Lusi sedang bermain drama lagi.
"Aku tidak menghina anakmu hanya mengajakmu ikut bersamaku ke rumah. Di sana kau akan memperoleh kembali kehidupan yang layak seperti dulu."
"Benar begitu kan, Intan?" ucap Raka membalikkan keadaan. Lusi melengos kesal.