
"Kita lihat siapa yang menang di sini, aku yakin kau akan kembali ke pelukanku tidak sampai tiga bulan Faira," kata Evan. Pria itu lalu menekan tombol di handphonenya dan seketika ruang dalam lift kembali terang. Lift berjalan normal kembali.
Faira menunjuk ke arah tulisan lantai di atas pintu dengan membuka mulutnya lebar.
"Apa kau yang melakukannya?"
Evan mengangkat bahunya sembari tersenyum lebar. Wajah Faira memerah. Dia lalu memukul Evan dengan tasnya berkali-kali dan membiarkan map yang berisi kertas itu berserakan di lantai. Evan hanya menutup wajahnya dengan lengan untuk melindungi diri.
"Kau itu pria paling bruangsek yang pernah kutemui. Aku membencimu dengan sepenuh jiwaku, aku harap memegang pistol dan akan menembak otakmu yang licik itu. Sehingga isinya berhamburan keluar dan aku akan tertawa bahagia. Aku juga membuang mayatmu ke kandang buaya karena kau satu jenis dengan mereka!" Tanpa lelah Faira terus memukul Evan untuk meluapkan isi hatinya.
"Buaya itu binatang yang setia Faira," teriak Evan.
"Kau...,"
Pintu lift terbuka. Faira tidak sadar jika tingkahnya di lihat oleh semua orang yang sedang tegang menunggu mereka sedari tadi.
Faira yang menyadarinya lalu menghentikan aksinya. Dia merapikan rambut, membuang nafas kesal dan berjalan tegak melewati para karyawan di perusahaan ini.
Ditya hanya diam melihat drama di lift siang ini. Dia menatap Faira yang masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Sedangkan beberapa orang mencoba mendekati Evan dan menanyakan keadaannya. Pria itu terlihat tenang, tidak ada guratan kekesalan yang terpancarkan dari wajahnya setelah insiden ini. Ditya ikut mendekati Evan.
"Apakah Anda baik-baik saja Tuan?" tanya Ditya basa basi. Evan menganggukkan kepalanya.
"Maaf Tuan Winston, telah membuatmu tidak nyaman karena lift kami macet. Kami akan segera mengecek apa yang salah dengan lift itu. Saya harap Anda tidak kecewa dan bisa melanjutkan pertemuan ini," ucap Ditya sopan.
"Tidak apa-apa namanya juga mesin pasti ada masa ketika rusak dan butuh untuk diperbaiki yang penting tidak sampai menimbulkan korban jiwa," jawab Evan diplomatis.
"Dan maaf atas tingkah laku istri saya yang diluar batas," kata Ditya, semua karyawan menatapnya.
"Tidak apa-apa kami tadinya akrab hanya karena sesuatu kesalahpahaman di marah padaku," kata Evan. "Kau tidak perlu cemaskan hal itu."
Evan juga tidak mau jika nama baik Faira hilang karena masalah kecil ini jadi dia menutupi semuanya dari orang-orang yang berdiri mengelilingi.
Berbeda dengan Evan. Ditya menyembunyikan kemarahannya dalam hati. Tidak ada yang terima jika istrinya diganggu oleh orang asing. Apalagi jika pria itu adalah orang yang pernah bersama Faira dan mungkin wanita itu juga masih punya perasaan yang dalam pada pria itu.
Diantara mereka berdua masih ada anak, dan anak itu adalah anak yang telah dia anggap sebagai anak sendiri. Jika niat Evan buruk maka dia bisa saja kehilangan Faira dan Ello di saat yang bersamaan.
Ditya menghela nafas panjang sembari memberi jalan pada Evan untuk masuk ke ruang rapat. Evan lalu masuk ke dalam. Baru beberapa orang lainnya masuk ke dalam ruang rapat itu mengikuti langkah kaki mereka.
Sedangkan, di ruangan lain Faira sedang berdiri menatap dirinya di depan cermin wastafel kamar mandi. Dia yang terkenal pandai menjaga diri dan sikap kini terlihat gila di depan semua orang. Itu semua karena ulah Evan.
Faira lalu mencuci wajahnya dan berusaha untuk menenangkan diri. Evan begitu mudah memainkan emosinya.
Handphone kembali berbunyi dia melihat chat dari Ditya yang mengatakan bahwa rapat sudah dimulai.
Faira baru teringat akan map yang berisi proposal kerjanya berserakan di lift tadi.
"Sial!" makinya berdiri bersandar pada wastafel. Haruskah dia masuk ke ruangan itu lagi dan melihat wajah memuakkan Evan. Menyebut namanya saja sudah membuat perut Faira mual. Sejenak dia mulai berpikir.
Semua mata tertuju ke arahnya ketika Faira masuk ke dalam ruangan itu. Dia lalu tersenyum pada semua orang yang hadir dan memulai rapatnya.
"Sebelumnya saya meminta maaf karena telah lalai untuk menjaga proposal. Namun, jika Tuan Winston berkenan saya akan membahas proposal itu dengan hardisk ini. Semua data masih ada di sini."
Faira lalu mengirimkan data proposal pada semua email di laptop masing-masing orang. Dia lalu menerangkan tentang proposal itu melalui proyektor yang tersambung dengan laptop miliknya.
Evan memperhatikan Faira dengan cermat. Penampilannya, gestur tubuhnya serta suaranya yang merdu. Dia teringat pada kebersamaan mereka lima tahun yang lalu, di mana wanita itu masih terlihat murni dan tidak tersentuh.
"Jadikan aku yang pertama untukmu Faira," pinta Evan. Faira menganggukkan kepalanya.
Tidak mungkin dia melupakan saat itu, saat terindah dari hidupnya.
"Bagaimana Tuan Winston apakah ada yang mau Anda tanyakan?"
Evan lalu tersentak dari lamunannya. Dia tersenyum.
"Saya akan menerima apapun proposal yang kau berikan," kata Evan membuat semua orang membuka mulutnya. Faira menatap Evan dengan tajam.
"Maksud saya adalah saya tertarik dengan penawaran itu dan saya setuju untuk menandatangani kerjasama ini."
Ditya tersenyum dan bertepuk tangan tetapi dalam hatinya dia merasa gelisah dan tidak tenang.
"Baiklah jika begitu kita akan membicarakan kerja sama ini di ruangan saya," kata Ditya.
Faira lalu mendekati Ditya. Dia membisikkan sesuatu ke telinga pria itu. Ditya melihat ke arah Faira. Lalu sekilas melihat ke arah Evan. Setelah itu, dia menganggukkan kepalanya setuju.
Pasangan itu terlihat sangat intim. Hal itu membuat rahang Evan mengetat dan satu tangannya terkepal dengan keras.
Baginya, Faira hanya miliknya seorang.
Setelah itu Ditya mengajak Evan untuk ke ruangannya, sedangkan Faira tetap berada di ruang rapat itu.
Setelah kepergian Evan, Faira lalu membenahi barang-barangnya lalu pergi dari ruang rapat itu untuk pulang. Sesampainya di tempat parkir dia lalu mengambil mobilnya dan keluar dari gedung.
Di tengah jalan dia mulai memperhatikan kaca spion. Dia melihat sebuah mobil putih yang mengikutinya dari tadi.
Faira mencoba untuk berhenti, menepikan kendaraannya. Mobil itu ikut menghentikan laju kendaraannya dan mencari tempat parkiran yang tersembunyi.
Faira menarik rambutnya ke belakang. Mulai berpikir jika ini semua pasti ulah Evan. Faira keluar dari mobilnya dan mendekati mobil itu.
Dia lalu mengetuk pintu mobil. Kaca mobil mulai di turunkan. Seorang pria asing berpakaian jas hitam lengkap mulai terlihat.
Wajah Faira yang tersenyum lalu berubah menjadi menakutkan.
"Katakan pada Bosmu itu untuk jangan mengikuti diriku lagi!" teriak Faira.
"Maaf Miss, kami tidak berani melanggar perintah Tuan Evan. Semua demi kebaikan Anda."