
Faira terkejut melihat apartemen milik pria itu telah didekorasi dengan indah. Sebuah acara pesta kecil diadakan di tempat itu untuk merayakan pernikahan mereka.
Yang paling membuatnya terkejut adalah kehadiran Ditya dan Cintya ke dalam pesta itu. Bagaimana Evan bisa merencanakan semuanya dengan sangat luar biasa sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan menjadi nyata dalam satu hari ini.
Faira membuka mulutnya dan merentangkan tangannya ketika melihat Cintya berlari ke arahnya.
"Selamat," seru Cintya memeluk Faira.
"Kapan kalian datang?"
"Kami baru tiba dan langsung kemari," jawab Cintya. Ditya berjalan mendekati mantan istrinya menatap Faira bahagia.
"Selamat Faira?" kata Ditya. Faira lalu memeluk Ditya.
"Akhirnya kau bahagia juga. Aku senang sekali melihat senyum indah terpatri jelas di bibirmu ketika kau masuk ke dalam rumah ini, senyum yang tidak pernah kulihat," ucap Ditya.
"Maafkan aku karena tidak bisa memenuhi janjiku," lirih Faira.
"Dari awal kau sudah mencintai Evan jadi walau kau sudah bersamaku bertahun-tahun tetap saja aku tidak bisa ke dalam hatimu. Sebab hanya ada namanya terpahat jelas di hatimu," kata Ditya. "Jadi waktu untuk kita memulai lagi dari awal itu terasa sulit bagi kita berdua."
Faira merenggangkan pelukannya dan melihat ke arah Cintya yang sedang menatap suaminya dan dia.
"Kau jangan cemburu," ledek Faira.
"Kali ini cemburu tidak, aku bahkan sudah mematikan rasa itu dari bertahun-tahun lalu karena mengira jika kau dan Ditya masih suami istri dan aku adalah istri keduanya," jelas Cintya.
"Maaf, karena kami telah membohongi kamu," kata Faira menunduk.
"Ditya sudah menceritakan semuanya padaku, aku paham dengan keadaan kalian pada saat itu. Aku berharap kau akan hidup bahagia dengan cintamu," ungkap Cintya tulus.
"Aku bahagia hanya saja Ello nampak tidak senang, dia mengira jika Evan akan mengambil aku," ucap Faira tertawa kecil.
"Apa kalian membicarakan aku?" tanya Evan mendekati istrinya setelah tadi dihadang oleh Raka dan Ardianto di depan pintu. Dia orang itu bertanya mengapa ada Ditya di sini.
"Tidak untuk apa kita membicarakan, aku hanya heran bagaimana bisa Mas Ditya ada di sini?" tanya Faira pada Evan.
"Aku yang mendatangkannya kemari. Dia yang memberitahuku tentang pernikahan kalian dan memintaku untuk mendekatiku lagi jika kau memang masih mencintaiku," kata Evan.
Faira menutup mulutnya dan melihat ke arah Ditya. Matanya berkaca-kaca. Dia memeluk pria yang telah menemaninya selama lima tahun ini.
"Terima kasih. Walau kau terdiam ternyata kau sudah memikirkan semuanya dengan matang."
"Kita memang tidak bisa menjalin hubungan suami istri namun kita bisa menjalin hubungan kakak beradik."
Cintya terharu melihat kebersamaan Faira dan Ditya. Ternyata kecemburuannya yang merasa diabaikan oleh Ditya itu tanpa alasan. Kini dia mengerti mengapa Ditya memilih malamnya bersama Cintya karena hanya dia istrinya dan selalu membawa Faira pergi bekerja karena Ditya tidak ingin melihat kekakuan yang terjadi antara mereka bertiga.
Evan juga sangat mirip dengan Ello. Kata mereka sama. Ini menjawab semua pertanyaan Cintya selama ini. Faira memang wanita dan sahabat yang baik. Walau mereka tinggal serumah selama bertahun-tahun tidak pernah ada pertengkaran. Faira selalu terlihat mengalah. Dia memang pantas memperoleh kebahagiaannya. Batin Cintya.
"Kau jangan memeluknya lama, dia punya suami sekarang," kata Evan posesif.
"Kau itu sama seperti Ello, jika aku berada di dekat ibunya Ello akan marah," ungkap Ditya.
"Dia sedang marah karena dari tadi aku berada di dekat Faira," ucap Evan terkekeh. Mereka lalu melihat ke arah Ello yang sedang menekuk wajahnya walau ada Ella di sampingnya. Menatap tajam ke arah Faira dan Evan.
"Like son, like father." Mereka tertawa melihat ke arah Ello.
"Maaf aku akan mengajak Faira menemui kerabatku yang lain," kata Evan memeluk pinggang Faira.
"Kalau begitu kuucapkan selamat untuk kalian sekali lagi."
Evan dan Faira menganggukkan kepalanya. Faira lalu diajak oleh Evan menemui Ayah, Robin dan Ibu tirinya. Dia menghela nafas sejenak Evan yang melihat langsung menggenggam erat tangan Faira.
"Aku baik-baik saja," kata Faira.
"Aku yang terlalu khawatir," bisik Evan sembari membalas sapaan beberapa orang yang menyapa mereka.
"Aku bukan wanita lemah," ucap Faira tanpa sengaja menarik tangan Evan sedikit keras. Dia lupa tangan itu masih diperban karena luka tadi.
"Shhhh ," desis Evan.
"Maaf, aku lupa," kata Faira mencium tangan Evan.
"Mom, kau lupa padaku!" seru Ello dari belakang mereka dengan wajah ditekuk dan berkaca-kaca.
Drama apalagi sekarang. Batin Evan.