
"Jikapun aku menolak, apa kau akan membiarkanku tetap pergi." Faira menghela nafas panjang. Evan terdiam melihat ke arah Ello yang asik bermain.
"Tidak," kata Evan. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan kalian."
"Jadi untuk apa bertanya." Faira telah menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring. Dia lalu pergi berjalan ke kamarnya.
"Aku ingin tidur, kau bisa mengajak Ello pergi berjalan-jalan sesudah dia mandi," kata Faira.
"Apa kau tidak ingin ikut?" tanya Evan penuh harap.
"Yang kau inginkan itu Ello bukan aku. Jangan lupakan statusku yang masih istri orang," cetus Faira sembari menguap.
"Sebentar lagi tidak dan aku akan memastikan hal itu akan terwujud," gumam Evan.
Evan lalu mendekati Ello sembari menghubungi Kendrick mengosongkan jadwalnya selama seminggu ini.
"Ayah ingin mengajakmu keluar," kata Evan.
"Kemana Om?" tanya Ello antusias.
"Om akan mengajakmu ke cosmosphere," kata Evan.
"Tempat apa itu?" Pria itu lalu memangku tubuh Ello.
"Museum luar angkasa, di sana ada pesawat ruang angkasa dan barang-barangnya," jelas Evan.
"Wow, aku ingin sekali pergi ke sana," ujar Ello.
"Kalau begitu kita mandi dan bersiap," kata Evan.
"Mom, aku mau mandi dengannya," kata Ello hendak pergi namun Evan mencegahnya.
"Bagaimana jika mandi bersama Om saja," tawar Evan.
Ello terlihat berpikir. "Baiklah," jawab anak itu antusias. Mereka lalu pergi ke kamar. Faira yang sedang bersiap untuk tidur terkejut melihat Evan masuk ke kamarnya lagi.
Untuk apa pria itu sering masuk tanpa permisi. Wanita itu lalu mengerutkan dahinya.
"Bisakah kau masuk kamar dengan meminta ijin terlebih dahulu?" Faira terlihat sangat keberatan dengan perilaku Evan ini.
"Ini kamarku jadi untuk apa aku meminta ijin masuk ke dalam kamar sendiri. Lagi pula semua barangku ada di sini," jawab Evan santai.
Faira membuka mulutnya lebar.
"Adakah kamar lain untuk bisa ku tempati tanpa diganggu olehmu," serunya dengan dada naik turun. Baru satu hari dia rumah ini tetapi pria itu sudah membuat tekanan darahnya tinggi sedari tadi. Jika seperti ini dia bisa cepat mati.
"Ada hanya saja ukuran tempat tidurnya tidak seluas di kamar ini," ucap Evan santai sembari mengambil pakaiannya dan memilih pakaian untuk Ello.
Faira terlihat mengamati gerakannya. Stelan baju casual dengan atasan berwarna orange dan celana denim di padukan dengan rompi denim akan menjadi pakaian Ello yang dipilih oleh Evan.
"Apa kau menyukai ini?" tanya Evan pada Ello.
"Wow, itu bagus sekali, Om," pekik Ello girang. Dia lalu berjalan mendekati Evan dan melihat paper bag berisi sepatu, jam tangan dan topi untuknya.
"Semuanya keren, Om," seru Ello senang mengamati semua barang itu.
"Masih ada yang lain hanya saja pelayan belum menata semua di lemari. Mungkin nanti akan ada orang yang menata ulang kamar sebelah untuk kau gunakan," kata Evan.
"Aku punya kamar sendiri?" tanya Ello antusias.
"Aku ingin tema luar angkasa," jawab Ello sembari mengangkat satu jari telunjuknya.
"Baiklah aku akan mengatakannya pada desain interior," kata Evan.
Faira yang tadinya hendak marah akhirnya terdiam melihat kesungguhan Evan untuk memberikan yang terbaik bagi Ello.
Dia hanya menumpu wajahnya dengan bantal saja. Menatap interaksi ayah dan anak itu. Sesekali dia mendesah. Jika ini sebuah keluarga maka akan sangat membahagiakan untuk mereka. Tetapi tidak, pria itu belum jujur sepenuhnya pada dirinya. Dia tidak mau terbuai oleh kata-kata dan kebaikannya lagi setelah itu dicampakkan untuk kedua kalinya.
Evan dan Ello lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Faira sendiri. Anaknya itu bahkan tidak merengek minta dimandikan atau manja padanya sedari tadi. Makan semuanya, Evan yang mengurusi.
Faira lantas keluar dari kamar itu menuju ruang tengah di rumah itu karena tidak ingin melihat pemandangan pria itu tanpa pakaian di dalam kamar.
Faira lantas berbaring di sofa sembari melihat ke layar Televisi. Lama kelamaan dia tertidur karena mengantuk setelah semalaman dia tidak memejamkan mata sama sekali.
Evan yang sudah bersiap bersama Ello terkejut melihat Faira sedang tertidur pulas di kursi. Pria itu mempunyai sebuah ide bagus. Dia membisikkan sesuatu ke telinga anaknya.
Sesaat kemudian mereka telah berada di dalam mobil bersama Faira yang terkejut karena merasakan gerakan dan suara deru mobil. Evan telah membawa wanita ke mobil dengan menggendongnya. Mereka berencana mengajak Faira turut serta piknik kali ini.
"Dimana aku?" tanya Faira terkejut. Netra hitam itu, lalu melihat sekitar dan melihat Evan dan Ello sedang duduk di kursi depan mobil sembari menyalakan sebuah lagu.
Faira lantas duduk.
"Kenapa kau membawaku ikut?" tanya Faira emosi.
"Jika kau tidak ikut akan terasa hambar, benar begitu, Son ?" kata Evan pada Ello sembari merenggangkan tangannya mengajak Ello bertos ria. Ello menyambutnya sembari tertawa .
Mereka baru bertemu kemarin tetapi sudah sangat terlihat akrab. Ditya memang menyayangi Ello namun keakraban yang terjadi pada Evan dan Ello terasa berbeda, terasa natural. Mereka berdua terlihat kompak. Faira bisa merasakannya.
"Seharusnya kalian tidak melakukan ini," kata Faira emosi.
"Sayangnya kita sudah terlanjur melakukannya," ucap Evan sembari melihat Faira dari kaca spion. Faira terlihat menarik nafas lalu menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Aku tidak memakai pakaian yang pantas," ujar Faira kesal sembari menekuk wajahnya.
"Kita bisa membelinya ke butik," kata Evan.
"Aku belum mandi," kilah Faira.
"Namun, kau masih terlihat cantik," puji Evan. Faira menatap Evan tajam sembari memalingkan wajahnya.
Pria itu mulai lagi dengan kata gombal yang terasa memuakkan bagi Faira.
Tidak lama kemudian mereka berhenti di sebuah butik kenamaan dengan barang branded yang sering dikunjungi para artis Hollywood.
Mereka lalu menyambut kedatangan Evan dengan baik tetapi memicingkan matanya ketika melihat Faira yang datang dengan hanya memakai gaun tidur saja.
"Kalian tolong urus semua keperluannya," kata Evan. Seorang manager mendatangi Faira. Di saat yang sama seorang model iklan kosmetik yang wara-wiri layar revisi terlihat mendekati Evan.
"Tuan Cortez, kebetulan yang menyenangkan." Wanita itu mencium pipi kanan dan kiri Evan dengan mesra. Sedangkan tubuhnya menempel dengan gerakan sensual pada pria itu. "Anda sedang bersama siapa kesini?''
Mata Evan menunjuk ke arah Faira yang sedang memilih baju bersama manager tempat itu. Model itu melihat penampilan Faira yang acak-acakan karena baru saja bangun dari tidur.
Untuk ukuran bule dia termasuk pendek, wajah khas wanita Asia yang cantik dan kulit putih kecoklatan yang menarik. Wajah yang tenang dan bersahaja. Namun, wanita itu mulai menatap sinis pada Faira.
Dia kira Evan akan mencari seorang wanita yang lebih cantik, lebih seksi dan lebih dari dirinya nyatanya dia malah memilih wanita Asia yang tampak tidak berkelas.
"Dia? Apa seleramu menjadi turun? Bahkan aku jauh di atasnya" ucap wanita itu ingin merendahkan Faira. Faira sempat mendengar kata Model itu. Dia mulai mendekatinya.