Affair (Faira)

Affair (Faira)
Mengadu Nasib



Evan ingin mengenal Faira lebih jauh namun wanita itu asik dengan pikirannya sendiri. hingga dia tidak punya kesempatan sedikit pun untuk mengajaknya berbicara. Jarak perjalanan antara Jakarta ke Bali terasa cepat untuk Evan, dia menyesali satu hal yaitu dia membuang waktu itu dengan percuma tanpa berani sekedar bertanya nomer telepon.


"Pesawat sudah mendarat," kata Faira tersenyum pada Evan walau bukan sebuah senyuman sepenuh hati namun lengkungan bibir tipis itu membuatnya hati Evan terpikat.


Dia lalu mengambil tasnya yang diletakkan di bagasi atas, Faira merasa kesulitan untuk menarik tas miliknya. Evan yang jauh lebih tinggi membantunya sehingga jarak tubuh mereka sangat dekat. Evan bisa mencium aroma bunga-bunga an yang keluar dari tubuh Faira. Terasa memabukkannya.


Evan menarik tas Faira yang tersangkut. Dia lalu menyerahkan padanya. Faira membalikkan tubuhnya. Posisi tubuh Faira itu dibawah dagu Evan walau wanita itu memakai highless.


"Terima kasih," kata Faira. Dia lalu memberi tanda pada Evan untuk memberinya jalan lewat matanya. Evan lalu bergeser sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maaf ... ," kata Evan, Faira melewatinya.


"Fay, bisakah kita bertemu lagi" tanya Evan tiba-tiba. Faira menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Evan sembari menautkan kedua alisnya.


"Jika berjodoh pasti akan bertemu lagi," jawab Faira lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Evan.


Evan sedikit kesal. Dia ingin sekali mengajaknya berkenalan, bertukar nomer telepon atau kartu nama. Tetapi wanita itu sulit untuk didekati dan dia juga terlihat tidak tertarik padanya. Berbeda dengan wanita lain yang akan dengan senang hati menerima ajakannya berkenalan. Bahkan tidak jarang yang meminta berkenalan terlebih dahulu atau mengatur janji dengannya.


"Fay ... ," gumam Evan. Dia tersenyum jawaban Fay menyiratkan arti lebih untuk Evan. 'Jika berjodoh mereka akan bertemu kembali'.


Evan mengangkat bahunya yang kekar itu sedikit ke atas. Dari awal melihatnya Evan sudah merasa tertarik dan untuk ketiga kali pertemuan mereka membuat Evan tambah tertarik. Dia tidak percaya cinta pada pandangan pertama tetapi jika ini memang cinta maka tunjukkan jalannya Tuhan. Batin Evan.


Evan terus berjalan keluar dari pesawat dan melihat kepergian Faira yang sudah bergerak terlebih dahulu hingga tubuh wanita itu hilang dari pandangannya. Dia menghela nafasnya.


"Sampai berjumpa kembali Cantik," ucap Evan.


***


Sudah sehari semalam Faira berdiam diri dalam kamar di resort milik kakaknya. Dia hanya menangisi dirinya. Dia pikir dia bisa melewati semuanya dengan baik pada kenyataannya dia terjebak dengan perasaannya sendiri. Tidak diharapkan kesepian dan merana sendiri. Dirinya merasa jatuh sedalam-dalamnya dalam jurang kehancuran.


Faira lalu berdiri di depan cermin melihat dirinya sendiri. Okey, sudah selesai waktu berkabungnya. Dia akan mulai mencari kesenangannya sendiri. Membuang jauh-jauh pikirannya dari Ditya.


Faira lalu mengambil baju renangnya menutupinya bagian bawahnya dengan sebuah handuk putih besar, berjalan keluar menuju kolam renang. Mayangnya yang hitam kelam terjuntai indah di atas punggungnya yang terbuka lebar. Dia berjalan melewati rombongan para turis asing yang sedang sarapan pagi karena kolam itu letaknya bersebelahan dengan ruang makan yang dindingnya terbuat dari kaca.


Faira lalu duduk di kursi malas dan mengoleskan sunblock ke seluruh tubuhnya. Melihat semua orang yang sedang berada di sana. Resort terlihat tidak ramai seperti biasanya mungkin karena ini bukan waktu berlibur bagi banyak orang.


Setelah itu Faira meletakkan handuk yang menutupi bagian tubuh bawahnya dan berjalan menuju pinggir kolam renang. Dia tidak sadar ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari tadi. Entah tidak sadar atau dia ingin bersikap cuek pada semua orang.


Kali langsing dan jenjang milik Faira mulai masuk ke dalam kolam renang hingga sebagian tubuhnya masuk ke dalam. Segar , pikir Faira.


Dia lalu mulai berenang menikmati sentuhan air di tubuhnya. Terasa rileks dan bebas. Dia sudah lama tidak merasakan ini. Tepatnya setelah pernikahannya dengan Ditya. Hari-harinya hanya dipenuhi oleh derita saja.


Faira sudah lelah berenang memutari kolam ini sehingga dia pergi ke tepi. Namun, dia terkejut ketika seseorang menyembul dari dalam air dan berada tepat di hadapannya.


"Hai!" sapa Evan.


"Kau?" tanya Faira terkejut.


"Humm," jawab Evan lalu bergerak di sebelah Faira. "Rupanya dunia memang ingin kita selalu bertemu."


Faira tersenyum.


"Mungkin kita berjodoh?" ujar Evan lagi sembari memainkan kedua alisnya, menggoda Faira. Wanita itu hanya memercikkan air di wajah Evan.


"Sedang apa kau disini Fay?" tanya Evan.


"Berlibur," jawab Faira.


"Hingga kapan?" tanya Evan lagi.


"Hingga aku lelah dan ingin kembali pulang," jawab Faira. Namun, mengucapkan kata pulang membuat hatinya kembali merasa sakit.


"Baguslah, kalau begitu aku punya waktu untuk mengajakmu keluar."


Faira menghentikan kegiatannya. Pria ini terlihat antusias mengajaknya berkenalan dari pertama mereka bertemu. Faira lalu berpikir tidak ada salahnya dia mencari kesenangan di luar. Toh, Ditya juga sedang bersenang-senang dengan Cintya menikmati bulan madu dan kebersamaan mereka. Faira pun bisa melakukannya dengan pria lain.


Faira lalu melihat ke arah Evan.Tampan dan bentuk tubuhnya sangat proporsional dan **** dengan otot-otot yang keras membalut seluruh tubuhnya. Pasti akan nyaman bersandar di dada pria itu. Pikir Faira kotor.


Manik mata saphire milik pria itu menghipnotis Faira. Untuk pertama kalinya Faira mulai tersenyum cerah. "Baiklah."


"Oh yes," ujar Evan senang mengangkat satu tangannya dengan penuh ekspresif.


"Tapi jangan berharap banyak," ujar Faira.


"Oh ya, kenapa?" tanya Evan.


"Karena aku sudah menikah," kata Faira memperlihatkan sebuah cincin melingkar di jari manisnya.


"Ohw, kau menghancurkan impianku," seru Evan. Membuat Faira tertawa.


"Jangan-jangan kau kesini bersama suamiku?" tanya Evan.


"Tidak, dia sedang bersama wanita lain," jawab Faira santai membuat Evan terkejut. Seketika air muka Evan berubah drastis. Apakah itu sebab Faira terlihat menangis selama di pesawat.


"Aku hanya bercanda," jawab Faira.


"Dan pernikahanmu?" tanya Evan tidak mengerti.


"Ini hanya cincin milik ibuku, aku memakainya agar bisa mencegah pria sepertimu mendekatiku," ucap Faira berbohong.


"Kau serius?" tanya Evan setengah berharap apa yang dikatakan Faira benar adanya.


"Ini cincin tanpa pasangan karena sejatinya aku sendiri," ungkap Faira ambigu terdengar sedih.


"Maksudmu?" desak Evan.


"Jika kau banyak tanya mending kau menyingkir saja," ujar Faira berenang meninggalkan Evan. Evan tersenyum menggelengkan kepalanya. Dia lalu pergi mengikuti arah Faira berenang.


"Faira bagaimana kalau sore nanti kita habiskan waktu bersama," tawar Evan.


"Kemana?"


"Ke tempat yang kau inginkan," jawab Evan.


"Aku lebih suka pria yang mengambil inisiatif dan membuat sebuah kejutan mungkin," jawab Faira mengadu nasib. Jika beruntung dia akan menghabiskan waktunya di Bali bersama orang yang tepat. Jika tidak maka nasibnya bertambah buruk. Namun, dia yakin Tuhan tidak akan sekejam itu padanya.