Affair (Faira)

Affair (Faira)
Pesta Resepsi



Sudah satu bulan ini semua terasa mudah bagi Faira dan Evan. Sudah seminggu ini Faira dan keluarga Evan tinggal di Jakarta untuk mengurus resepsi pernikahan yang diadakan malam ini di sebuah hotel berbintang lima yang terkemuka.


"Baju ini terasa sangat ketat di tubuhku," kata Faira yang tidak nyaman menggunakan baju pengantin yang dikenakannya.


"Ini sesuai dengan ukuran tubuhmu kan?" tanya Evan mendekat.


"Tapi sepertinya ukuran tubuh istrimu berubah drastis," kata Ivan perancang baju ternama yang direkomendasikan oleh Cinta teman sosialita Faira.


"Aku juga merasa seperti itu, ukuran pakaian dalamku seperti bertambah," kata Faira setuju.


"Apakah tidak bisa diakali?" tanya Faira yang merasa sangat sesak.


"Istrimu sedang hamil mungkin," bisik Ivan pada Evan.


Evan membelalak matanya menatap Faira yang sedang dibantu oleh asisten Ivan memakai pakaiannya.


"Yea, maybe," kata Evan menganggukkan kepalanya. Mereka telah mencoba gaun itu dua Minggu yang lalu dan semuanya pas mengapa sekarang terasa sesak?


"Ganti baju saja," teriak Faira frustasi.


"Aku ada gaun pesta biasa berwarna merah mungkin bisa kita pakai," kata Ivan. "Itu jika kau mau," imbuhnya.


"Apapun itu aku mau tetapi aku tidak ingin menggunakannya. Itu sangat menyiksaku dan aku harus menggunakannya selama pesta? Lebih baik aku pingsan saja," ujar Faira.


"Pesta akan dimulai setengah jam lagi," ucap Ivan.


"Kita bisa menundanya untuk beberapa saat," kata Evan lalu mendekati Faira." Aku akan menemui para tamu terlebih dahulu. Kau bisa menyusul setelah siap," lanjut Evan mencium kening Faira. Dia teringat kata-kata Ivan. Seketika tangannya mengelus perut rata Faira.


"Mom cepat," kata Ello yang masuk ke dalam kamar Faira.


"Mom belum siap Sayang," balas Evan.


"Kata Opa, tamu sudah menunggu di luar," ucapnya.


"Kalau begitu kita turun ke bawah untuk menemui tamu." Evan lalu menggendong Ello.


"Aku sudah besar bisa jalan sendiri," kata Ello menolak. Evan lalu mengusap lembut rambut Ello. Sudah sebulan hubungan Ello dan Evan semakin dekat saja namun Evan belum ingin membuka kebenaran siapa dirinya karena takut menemui penolakan dari Ello. Padahal jauh dalam relung hatinya dia ingin dipanggil ayah oleh anaknya.


"Tuan semua sudah siap,'' kata seorang pria melalui headset yang melihat Evan keluar dari lift. "Hanya saja dia tidak bersama istrinya."


"Siap!"


Evan membawa Ello memasuki gedung aula hotel yang dikelola adik iparnya Raka. Kedatangannya disambut dengan meriah oleh para tamu undangan. Mereka menanyakan keberadaan mempelai wanita yang tidak terlihat.


Albert dan Robin menerima tamu dengan sangat ramah berdampingan dengan besan mereka Ardianto. Renata sendiri hadir namun. sebagai tamu artis yang mengisi acara. Bagiamana pun Ardianto adalah pria yang sangat mementingkan nama baik dan martabat serta harga diri.


Istri Albert enggan hadir dengan seribu alasan yang dibuat-buat. Evan sendiri tidak memperdulikannya.


Evan lalu menyapa semua tamu yang hadir. Sesekali dia melihat ke arah pintu berharap Faira segera hadir ke dalam acara ini.


"Lihatlah ratu acara ini telah sampai," beritahu pembawa acara. Tepuk tangan riuh langsung terjadi.


Evan menatap ke arah pintu ketika lampu sorot memperlihatkan Faira yang berjalan ke arahnya. Dia nampak cantik dan seksi dengan gaunnya. Entah dia harus memuji atau memaki sang pemilik gaun.


Itu adalah gaun merah panjang yang menjuntai hingga menyentuh lantai pada bagian belakangnya tetapi pendek selutut di bagian depannya. Bergelombang. Belahan dadanya panjang hingga dibawah dada memperlihatkan bentuk bukit kembarnya yang kini lebih besar dari satu bulan yang lalu Evan melihatnya. Bagian punggung terbuka lebar hingga ke bagian pinggang. Kalung berlian tersemat cantik menghias lehernya yang panjang.


Dia laksana dewi yang turun dari kahyangan. Membuat mata semua pria terbelalak menyaksikan keindahan yang ada di depannya.


Evan menyambut kedatangan Faira dengan memeluk bahunya membawa wanita itu ketengah aula dimana tersedia sebuah roti dengan tujuh sap yang tingginya melebihi tinggi tubuh manusia.


"Wah besar sekali, Om," pekik Ello senang. Dia terpukau melihat hiasan dalam kue raksasa itu. Evan menggendong Ello dan berdiri di samping Faira.


Acara dimulai pembawa acara mulai menjelaskan rentetan acara Faira dan Evan hanya tersenyum sesekali menimpali kalimat pertanyaan yang dilontarkan pembawa acara itu. Mereka juga memberi sambutan. Faira ingin acara ini singkat , potong kue dansa dan saling mengenal dengan tamu hanya itu. Dia tidak ingin ada banyak program dalam acara kali ini.


"Sekarang tiba saatnya acara potong kue pernikahan," teriak sang pembawa acara. Faira memegang pisau panjang untuk memotong kue dari yang pamit atas hingga ke bawah. Evan dan Ello ikut memeganginya bersamaan.


Di saat itu, kriet, suara aneh mulai terdengar.


"Awas!" pekik semua orang. Evan langsung melindungi Ello dan Faira dalam pelukannya saat sebuah lampu kristal raksasa meluncur cepat ke arah mereka.


Prang!


Pyar!


***


Like Vote dan komentarnya