Affair (Faira)

Affair (Faira)
Menunggu



Semenjak malam itu semuanya membaik. Intan dan Raka menjadi teman setiap malam tiba. Jika siang hari Intan selalu keluar rumah mencari pekerjaan dan setiap dia melakukan wawancara mereka akan selalu menolaknya dengan alasan yang tidak jelas.


Kesepakatan kedua yang mereka lakukan adalah mereka tinggal di sebuah apartemen tanpa pelayan dan penjaga. Namun, Intan tidak tahu jika seluruh unit apartemen di lantai itu di beli oleh Raka sebagai pengamanan agar tidak ada yang bisa keluar masuk ke lantai itu dengan bebas dan diawasi khusus oleh penjaga.


Intan tidak ingin tinggal bersama pelayan dan pengawal karena tidak ingin ada orang luar yang tahu tentang kehidupan mereka setelah menikah. Dia ingin sebuah privasi bagi dirinya dan Raka.


Seperti biasa Intan memasak untuk makan malam. Sebuah masakan sederhana. Hanya Ayam rica-rica dan sapo tahu lalu kerupuk yang tidak pernah ketinggalan ada di meja makan. Ini lauk adalah kesukaan Raka dan Intan baru tahu itu setelah mereka pindah kemari.


Setelah makanan sudah siap dia lalu membersihkan diri setelah itu dia menunggu Raka pulang sembari menonton televisi. Lama pria itu tidak datang hingga perasaan was-was dan curiga mulai datang.


Raka mungkin sedang bersama wanitanya. Entah mengapa hatinya merasa tidak tenang dan tidak enak memikirkannya. Intan melihat jam lagi dan ini sudah lewat waktu makan malam. Oleh karena, sangat lelah setelah seharian melakukan pekerjaan rumah dan mencari pekerjaan Intan tertidur di kursi.


Pukul sepuluh malam Raka baru pulang dari pertemuan dengan kliennya. Dia tadi sempat makan malam dan sedikit minum untuk menghormati kliennya yang datang dari Jepang. Dengan pelan dia membuka pintu rumahnya. Tidak tahu mengapa hatinya merasa was-was untuk pulang terlambat. Takut diomeli oleh istri, padahal tadi dia sampai meninggalkan kliennya di klubnya bersama dengan asisten juga para wanita penghibur.


Hati Raka merasa bersalah ketika melihat Intan tidur di depan layar televisi yang menyala. Dia meletakkan tas di meja dan menyampirkan jas di kursi sofa.


Dia lalu duduk di sebelah Intan. Lalu menyentuh pipinya yang halus, sehalus sutera. Bahkan tidak ada jerawat atau bintik satupun yang terlihat di kulitnya itu.


Intan melonjak terkejut. Dia langsung membuka matanya dan melihat Raka sudah ada di depannya. Bau alkohol bercampur parfum wanita langsung menyengat melewati hidungnya.


"Kau minum?" tanya Intan bangkit dari tidurnya.


"Sedikit."


Intan terdiam namun matanya mengungkapkan nada ketidaksukaan.


"Aku akan menyiapkan air mandi untukmu," kata Intan hendak bangkit namun tangannya di pegang oleh Raka.


"Kau sudah makan?" tanya Raka. Intan mengangguk.


"Oh, aku sangat khawatir kau belum makan tadi jadi aku cepat-cepat untuk kembali pulang."


Intan terdiam pergi meninggalkan Raka sendiri di ruangan itu. Raka sendiri lalu bangkit dan pergi ke meja makan yang terletak di sebelah ruang keluarga. Dia membuka tudung saji dan melihat masakan Intan belum terjamah sama sekali.


Hatinya merasa nyeri. Mengapa Intan sampai berbohong jika dia sudah makan jika kenyataannya dia belum makan sama sekali. Dia ingat jika wanita itu selalu menunggunya pulang baru makan bersama.


Raka lalu pergi ke kamar mereka dan melepaskan dasi yang melilit di lehernya lalu membuka kancing kemeja. Dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Intan sedang melamun di pinggir bathtub.


"Kau kenapa? Biasanya mengajak bicara. Apa sedang tidak enak badan?" tanya Raka.


Intan menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum sedih lalu mematikan keran setelah dirasa air itu cukup memenuhi bathtub itu.


Intan lalu keluar tanpa mengatakan sesuatu. Hal itu membuat Raka pusing tuju keliling. Dia lebih baik dimarahi oleh wanita itu karena terlambat dari pada melihatnya diam seperti itu. Terasa aneh. Dia terbiasa beradu pendapat dengan wanita itu dan kini terasa ada yang kurang.


Intan lalu berbaring di kamarnya menarik selimut dan memejamkan mata. Sebuah panggilan masuk ke handphonenya.


"Hai, Arik," sapa Intan.


"Apa kau sudah tidur," ucap suara dari seberang sana.


"Aku belum tidur," jawab Intan.


"Aku ingin mengajakmu bergabung di klinikku," ajak Arik.


"Kau mau menerimaku sebagai karyawanmu, itu kabar yang menyenangkan, bisa bersamamu lagi."


"Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi dan tidak menyangka seorang istri dari Raka Permana mencari pekerjaan."


"Aku mengerti, kalau begitu datang besok ke klinik aku menunggumu," kata Arik


"Kita bertemu di sana. Bye." Intan mematikan teleponnya. Di saat itu dia melihat Raka sudah selesai mandi dan menatapnya tajam. Intan menaikkan kedua matanya bertanya kenapa?


"Siapa yang menelfonmu?" tanya Raka.


"Teman SMU dulu di kampung. Dia melanjutkan sekolah di kota ini dan sudah menjadi seorang Dokter."


"Namanya?"


"Atalarik, aku memanggilnya Arik."


"Hanya teman?'' tanya Raka penuh selidik.


"Ya, kami hanya berteman baik. Namun, kami dulu sempat berpacaran di sekolah," ujar Intan terus terang.


"Jadi dia mantan pacarmu?''


"Hummm," jawab Intan malas dia lalu berbaring lagi setelah meletakkan handphonenya di nakas.


"Intan kau sudah makan atau belum?"


"Sudah," jawab Intan.


"Tetapi makanan masih utuh."


Intan terdiam. Raka lalu duduk di tepi ranjang.


"Aku tadi makan sedikit di restauran, kau mau temani aku makan?''


"Aku akan hangatkan makanan dulu," kata Intan bangkit dan berjalan lebih dahulu. Raka tidak tahu apa salahnya apa karena dia telah makan terlebih dahulu atau dia terlambat pulang tetapi demi Tuhan didiamkan istri itu terasa tidak enak.


Raka memakai bajunya setelah itu dia turun ke bawah dan melihat Intan berdiri di dekat microwave sembari melamun. Ingin sekali dia membaca pikiran wanita itu dan mencari tahu sebab kediamannya itu.


Raka duduk di kursi dan menuang segelas air mineral. Intan datang dengan membawa dua menu yang tadi dipanaskan keatas meja. Mengambilkan sepiring nasi untuknya.


"Kau tidak menemaniku makan?" tanya Raka.


"Aku kenyang," jawab Intan datar. Demi Tuhan dia ingin sekali menangis tetapi dia tidak bisa melakukannya.


"Tadi aku pergi ke klub setelah makan malam untuk menemani klien dari Jepang minum. Setelah dia di sana dan terlihat nyaman aku pulang ke rumah," terang Raka. Intan tetap terdiam.


"Rasa masakanmu sangat asin, coba ini," kata Raka menyuapi Intan. Intan menautkan dua alisnya dan menerima suapan Raka.


"Ini sudah pas," kata Intan.


"Pa lagi ayam ini terasa hambar," kata Raka menyuapi Intan lagi.


"Tidak ini sudah pas asin dan pedasnya. Lidahmu yang salah sehabis minum mungkin?" ujar Intan.


"Sepertinya lidahmu yang salah, coba lagi," Intan nampak berpikir tetapi dia menerima suapan Raka.


Raka tersenyum. "Kau belum makan kan dari tadi? Jika aku pulang malam, tidak usah menungguku hingga malam. Langsung saja kau makan."