Affair (Faira)

Affair (Faira)
Berdamai



Raka meminta sopir untuk balik ke klinik itu dengan cepat. Jantungnya bergemuruh keras membuat kerja otaknya sedikit melambat. Matanya memanas semoga dugaannya memang benar adanya.


"Mungkin tidak jika Laura adalah anakku?" tanya Raka pada Kenan membuat pria membuka mulutnya terkejut dan mulai berpikir.


"Tadi bukannya seorang perawat mengatakan jika Intan adalah nama istri Dokter Atalarik jika Intan itu adalah Intanku maka besar kemungkinan jika Laura adalah anakku."


Kenan diam tetapi dia mulai berpikir dan sedikit melirik ke arah Raka, menilai adakah kemiripan antara anak perempuan itu dengan Raka.


Sesampainya di klinik Raka lantas langsung saja turun dan berjalan cepat ke bagian infomasi.


"Lho bukannya tadi Bapak sudah meninggalkan tempat ini? Ada yang bisa saya bantu Pak?"


"Apakah Dokter Atalarik ada?" tanyanya.


"Dokter sedang keluar kota bersama Ibu," terang petugas yang sedang berjaga itu.


"Kalau boleh tahu siapa nama istri Dokter Atalarik?"


"Ibu Intan Dewi," jawab petugas itu.


"Apa kau tidak salah nama?"


"Tidak Pak, memang itu namanya," kata petugas itu.


"Sudah berapa lama Pak Atalarik menikah dengan Ibu Intan?"


"Kok Bapak bertanya soal itu?" Petugas itu mulai curiga.


"Ya saya curiga jika Ibu Intan ini adalah bawahan saya dulu, dia katanya juga telah menikah dengan Dokter Arik tiga tahun lalu? jawab Raka asal.


"Oh, begitu. Ibu Intan dan Dokter Arik telah lama menikah namun baru mempunyai anak tiga tahun yang lalu," jawab petugas itu.


"Telah lama menikah?"


"Ya, Dokter tadinya mengurus klinik di Jakarta bersama Ibu Intan. Klinik yang di Jakarta telah di urus oleh anak buah Dokter Arik sedangkan beliau pindah kemari bersama istrinya untuk membangun daerah terpencil ini agar bisa berkembang."


Raka mengusap keningnya. Apakah instingnya salah?


"Ya sudah. Sepertinya Intan ini bukan bawahan serta teman saya yang telah lama tidak kutemukan."


Raka lalu keluar dari tempat itu melangkah dengan gontai.


"Kau cari tahu tentang Dokter Atalarik dengan keluarganya dan wajah dari istrinya," perintah Raka pada Kenan.


"Lalu apakah kita akan kembali ke Jakarta?"


"Tidak, jika bisa kau cari alamat rumah yang dituju oleh keluarga itu di Bangka."


Raka lalu masuk ke dalam mobilnya. "Aku tidak akan pergi sebelum tahu tentang kebenarannya!"


Di malam harinya Raka kembali ke kamar hotel Raka dan menyerahkan sebuah map berisi informasi yang didapat.


"Dokter Atalarik telah menikah dengan Intan Dewi Lima tahun yang lalu. Di tahun kedua pernikahannya timbul isu perpisahan namun itu tidak terealisasi. Mereka lalu pindah ke daerah ini dan Intan Dewi melahirkan anak perempuan bernama Laura."


"Ini foto lama Intan Dewi," kata Kenan memperlihatkan wajah seorang wanita cantik dengan bingkai kaca mata tipis.


"Sedangkan semua foto barunya Intan selalu memakai masker atau pelindung wajah sehingga tidak pernah terlihat sama sekali wajahnya."


Raka mengernyitkan dahi melihat sosok wanita dengan kaca mata dan tertutup masker sebagian wajahnya. Rambut wanita itu juga berwarna merah, Intan sangat bangga dengan rambut lurus hitamnya tidak mungkin dia merubah warna rambutnya.


"Ini bukan Intan," kata Raka lemas.


"Ya, siapkan saja pesawat ke ibu kota sekarang."


"Berarti kita akan pakai pesawat jet Tuan?"


"Ya, kita pakai pesawat milik Evan untuk menjemputku di bandara terdekat."


"Baik Tuan."


***


Semenjak pertemuan dengan Laura, Raka selalu dibayangi oleh wajah anak itu. Bahkan anak itu selalu hadir dalam mimpinya, menghantui kemanapun dia pergi. Raka berpikir mungkin dia terlalu berharap mendapatkan anak seperti Laura sehingga sampai membuatnya seperti ini.


"Pak, Peter sedang menunggu di dalam hotel ditemani oleh Pak Surya," terang Kenan ketika mereka berjalan ke arah lift. Di depan mereka ada beberapa orang yang telah lebih dulu masuk ke dalam lift. Lift hendak tertutup ketika tangan Raka mencegahnya.


Raka langsung masuk ke dalam lift itu. Tidak memperdulikan dengan sekitar. Namun, aroma tubuh seseorang membuat dadanya berdetak lebih cepat. Kepala Raka mencari asal bau ini. Ternyata itu aroma dari seorang wanita yang berada di depannya.


Tepatnya jarak mereka terhalang oleh dua orang di depannya. Raka tidak bisa melihat wajahnya dari pantulan dinding lift karena wanita itu menunduk. Rambut wanita itu bergelombang besar dan berwarna merah menyala. Warna sama dengan foto wanita yang Kenan berikan.


Dia semakin gila saja memikirkan istri Dokter Atalarik sebagai istrinya. Itu tidak mungkin bukan?


Namun, aroma ini memang membuat pikirannya bercabang tidak menentu. Dia yakin jika ini adalah aroma dari Intan. Mungkin ada wanita yang memakai aroma yang sama tetapi dengan bau khas, dia yakin akan sangat berbeda.


Raka lalu hendak maju sedikit dan mencondongkan tubuhnya untuk melihat wajah wanita itu namun lift terbuka dan wanita itu keluar dengan cepat.


Otak Raka berhenti sejenak. Itu memang Intan, batin Raka mengenali cara jalan istrinya. Raka berjalan cepat mengejarnya, namun wanita itu terlihat bergerak tergesa-gesa dia bahkan melepaskan sepatunya dan berlari dengan cepat tanpa melihat ke belakang. Dia sempat mendorong tubuh seseorang yang menghalangi jalannya. Hingga akhirnya wanita itu hilang dalam satu lorong.


"Pak, Anda sedang mengejar apa?" tanya Kenan.


"Aku sedang mencari istriku," kata Raka. "Coba kalian ketuk setiap kamar di lorong ini dan cari adalah wanita dengan rambut berwarna merah terang."


Kenan dan anak buah Raka hanya terdiam tidak mengerti maksud majikannya.


"Ayo cepat cari wanita dengan rambut berwarna merah!"


Kenan lalu mengetuk setiap kamar di lorong itu dan menanyai adakah wanita berambut merah dalam kamar itu.


Seorang pria berkulit hitam dengan tubuh tinggi besar terlihat marah. Dia lalu memanggil kekasihnya yang berambut berwarna merah untuk mendekat.


"Sayang lihat! Ada pria yang mencarimu apakah kau mempunyai pria lain selain diriku?" tanya pria itu pada seorang wanita yang datang mendekat.


"Aku tidak mengenalnya!" ucap wanita itu bergelayut manja pada pria berkulit hitam.


Raka lalu melihat wanita itu dan berdecih lirih lalu meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal, marah dan tertipu.


Sedangkan Kenan menyampaikan permintaan maafnya karena telah mengganggu kebersamaan mereka dan mengatakan jika ada kesalahpahaman.


Setelah Kenan pergi dari kamar itu. Pintu segera ditutup dan dikunci rapat. Wanita itu lantas membuka rambut palsu di kepalanya.


Intan keluar dari persembunyiannya.


"Hampir saja ketahuan," katanya memegang dada.


"Sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Kayla pada Intan.


"Entahlah, mungkin hingga dia menikah dengan wanita lain baru aku akan merasa tenang."


Kedua orang itu lantas menghela nafas berbarengan dan saling memandang.


"Intan kau sangat keras kepala. Berdamailah dengan keadaan!"