Affair (Faira)

Affair (Faira)
Dia Anakku



Setelah mendapat telephon dari Ditya, wajah Faira memucat. Dia terlihat panik. Netranya yang biasa bersinar terang kini berkaca-kaca.


"Kau kenapa Faira," tanya Cintya.


"Aku tidak apa-apa, aku mau ke kamar terlebih dahulu," ucap Faira menghindari pertanyaan Cintya. Dia lalu pergi ke dalam kamarnya.


Cintya yang melihat hanya bisa membuka mulutnya. Sebenarnya apa yang terjadi. Ditya menelfon tentang apa sehingga bisa membuat Faira terlihat shock.


"Ibu, di mana Mom?" tanya Ello.


"Dia sedang ke kamarnya," jawab Cintya. Ello lalu berlari mencari Faira. Cintya yang sedang mengelap gelas lalu menghentikan kegiatannya menatap kepergian Ello.


Cintya lalu berjalan mendekati Ella dan menatapnya. Wajah Ella sangat mirip dengan ayahnya. Sedangkan Ello, dia memiliki wajah yang sangat tidak mirip dengan Faira apalagi Ditya. Wajahnya seperti keturunan orang Barat. Cintya ingin menanyakan itu pada Faira namun tidak sampai hati karena Ditya tidak mempermasalahkannya.


Cintya pernah menanyakan perihal warna manik mata Ello yang biru pada Ditya tetapi lelaki itu berkata Ello terkena penyakit albino. Tidak masuk akal, Cintya ingin menanyakan perihal ciri-ciri lainnya tetapi Ditya malah memarahi membuatnya terdiam. Semenjak saat itu Cintya tidak pernah menanyakan lagi perihal perbedaan wajah Ello dan Ella.


"Ibu, mana Ello?" tanya Ella.


"Dia sedang bersama Mommy," jawab Cintya.


Sedangkan di dalam kamar, Faira membenamkan wajahnya di bantal, terisak. Dia tidak mengira akan bertemu dengan Evan lagi setelah sekian tahun tidak melihatnya. Pria itu juga berniat mengejarnya lagi. Berita buruknya Evan bukan pria sembarangan yang bisa dia hindari. Dia pemilik perusahaan besar yang anak perusahaannya berada di seluruh dunia.


Bukankah Ditya tahu jika Evan adalah pria yang telah melakukan hal itu pada Faira tetapi mengapa dia menyetujui melakukan pertemuan dengan Mountain Inc. yang jelas-jelas adalah perusahaan yang dimiliki oleh pria itu.


"Mom," panggil Ello yang baru masuk ke dalam kamar. Faira yang mendengar suara Ello lalu mengusap air matanya. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Ello yang sudah naik ke atas tempat tidur. Faira mengulurkan tangan dan memeluk anaknya.


"Mom, ada apa?" tanya Ello. Anak itu mengusap mata Faira yang masih basah.


"Mom baik-baik saja, hanya kemasukan debu," ujar Faira.


"Mom, aku rindu padamu," kata Ello memeluk tubuh ibunya.


"Bukankah setiap hari kita selalu bertemu?" tanya Faira mengusap rambut Ello.


"Mom selalu sibuk, jarang punya waktu untukku," jawab Ello. Faira menghela nafas panjang. Jika dulu anaknya tidak pernah menanyakan hal ini namun sekarang dia mulai menanyakannya.


"Mulai besok Mom akan di rumah saja mengurangi pekerjaan di kantor," kata Faira. Dia tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Untuk itu, dia berencana keluar dari tempat kerja Ditya.


Malam harinya ketika Cintya sudah naik ke atas kamarnya dan anak-anak sudah pada tidur lelap Faira datang ke ruang kerja Ditya. Dia mengetuk pintu ruang itu sebelum memasukinya.


"Masuk," suara Ditya terdengar dari balik pintu. Faira segera masuk, berjalan hingga ke depan meja Ditya dan duduk di kursi yang berseberangan dengan pria itu.


"Apa kau sudah membuat proposal proyek kerja kita?" tanya Ditya melihat ke arah Faira dan menurunkan kaca matanya.


"Aku mau mengundurkan diri saja dan fokus mengurus Ello," kata Faira tiba-tiba. Ditya menghentikan pekerjaannya, lalu menutup map serta mencopot kaca matanya. Menyilangkan tangan di atas meja menatap Faira.


"Kenapa? Jangan katakan jika ini karena mantanmu itu!" ujar Ditya.


"Bukan karena itu, tetapi karena Ello membutuhkan aku di sampingnya." Faira terdiam menatap Ditya. Dadanya berdegub kencang karena berbohong takut jika ucapannya mengkhianati pikiran.


"Kau bisa menundanya setelah kita bisa mendapatkan kerja sama ini. Ini proyek besar Faira perusahaan kita bisa terkenal jika bekerja sama dengan perusahan Mountain.Inc."


"Kau bisa meminta karyawan lain yang melakukan presentasi itu."


"Ditya aku tidak bisa!" ucap Faira tegas.


"Mengapa? Jangan campur urusan pribadi dengan perusahaan itu tidak etis," kata Ditya pria itu lalu bangkit, memutari meja dan berdiri di dekat Faira, "Atau kau belum bisa move on dari pria itu?"


"Ditya! Aku tidak mau kau bahas masalah ini lagi!" seru Faira. Dia lalu berdiri dari kursi dan hendak melangkah pergi.


Satu tangan Ditya meraih tangan Faira.


"Faira ingat aku masih suamimu!"


Faira memejamkan matanya. "Jika kau mengingat itu, jangan biarkan aku dekat dengannya. Kalau tidak, kau akan menyesal!"


"Aku hanya ingin kau melakukan satu pekerjaan ini saja setelah itu jika kau ingin mengundurkan diri aku akan menerimanya. Kali ini saja Faira, lakukan yang terbaik untuk perusahaan yang dengan susah payah kita bangun bersama."


Faira menghela nafas panjang lalu membalikkan tubuhnya menghadap Ditya.


"Hanya kali ini aja, selanjutnya biarkan aku melakukan apa yang akan kulakukan!" ucap Faira.


"Satu lagi rahasiakan tentang Ello dari siapapun, aku tidak ingin dia tahu tentangnya barang sedikitpun apalagi melihat wajahnya," pinta Faira.


"Kalau begitu setelah ini sebaiknya kau pindah dari sini dan tinggal di tempat lain untuk bersembunyi."


Faira menyatukan dua aslinya mendekati Ditya. "Apa maksudmu?"


"Maksudku sudah jelas, cepat atau lambat Evan akan tahu jika Ello bukan anakku jika dia melihatnya. Kau harus bersembunyi jauh darinya jika ingin merahasiakan keberadaan Ello."


"Itulah yang kutakutkan," ujar Faira. Pria itu bisa saja menjadikan Ello sebagai alasan untuk mendekatinya lagi atau dia akan mengambil Ello dengan paksa dari Faira.


"Baiklah, aku akan menyiapkan proposal yang kau minta, namun setelah presentasi itu aku mau pergi dari sini secepat mungkin," jawab Faira.


"Kemana?" tanya Ditya.


"Bali," jawab Faira. ''Rumah kakak di sana di jaga ketat oleh anak buahnya aku bisa tenang jika tinggal di sana," terangnya.


"Baiklah aku bisa menemui kalian setiap Minggu di sana," kata Ditya.


"Terima kasih Ditya karena kau menerima Ello sebagai anakmu walau pada kenyataannya dia... ."


"Dia anakku Faira, sudah aku katakan beberapa kali agar kau tidak mengatakan hal itu lagi karena melukai perasaanku," potong Ditya dengan wajah menegang.


Faira tersenyum lalu memeluk Ditya.


"Terima kasih karena telah membuat semuanya baik-baik saja," ucap Faira.


"Ku mohon jangan kau katakan hal itu lagi. Ello adalah anakku sampai kapan pun dia anakku," ujar Ditya lagi.


"Maafkan aku." Ditya mengusap lembut punggung Faira.


Bagi Faira, Ditya menjadi malaikatnya ketika dia dalam keadaan terpuruk. Pria itu bahkan tidak pernah membicarakan masalah Ello pada Cintya. Dia yang menutup rapat aib yang pernah Faira lakukan dari siapapun.