Affair (Faira)

Affair (Faira)
Maaf!



Pagi harinya Faira terkejut karena melihat tanda merah yang persis kissmark di lehernya. Bagaimana tanda itu bisa ada?


Faira menutup mulutnya. Dia lalu kembali ke tempat tidurnya untuk menciumi tempat tidur. Dia memang benar mencium bau parfum Evan di bantalnya.


Berarti Evan memang berada di sini semalam. Dan mimpi itu benar adanya. Dia sempat minat Evan memeluk dan menciumnya. Dia kira itu hanya bagian dari mimpi dan memejamkan mata lagi.


Faira memegang dahinya. Oh, ini tidak benar. Bagaimana dirinya bisa kecolongan seperti ini. Bagaimana bisa para penjaga itu tidak tahu ada penyusup di kamarnya. Haruskah dia berteriak marah-marah. Namun, jika itu dia lakukan maka Raka akan tahu jika pria itu adalah Evan.


Ini tidak baik. Dia memang harus segera pergi dari rumah ini sebelum Evan kembali lagi. New York kota yang besar pria itu tidak akan menemukan keberadaannya di sana.


"Mom, benarkah kita akan pergi ke luar negeri?" tanya Ello yang masuk ke dalam kamar Faira.


"Siapa yang mengatakannya?" tanya Faira.


"Om Raka barusan saja mengatakan hal itu." Faira lalu menghela nafas panjang.


Dia lalu berjalan keluar dari kamarnya dengan menggendong Ello.


"Kakak, dari mana kau tahu aku akan pergi ke New York?" tany Faira.


"Kau lupa siapa aku?" balik Raka. "Seharusnya kau mengatakan hal ini padaku terlebih dahulu, Faira."


"Kak, aku hanya tidak ingin menambah masalahmu," ungkap Faira.


"Kau itu seperti dengan siapa saja," kata Raka.


"Aku akan ke New York siang nanti, Mas Ditya sudah membelikanku tiket dan dia akan menemuiku di bandara," ujar Faira.


"Aku lupa jika kau sudah mempunyai suami jadi tidak membutuhkan diriku lagi," sindir Raka.


"Kak, aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja."


"Aku tahu, Faira. Seharusnya kau memang meminta tolong pada suamimu dalam hal apapun," kata Raka


Faira tersenyum kecut.


"Carilah kebahagiaanmu disana, doaku selalu menyertaimu," lanjutnya.


Evan yang baru masuk ke dalam pesawat lalu melihat berjalan menuju kamar dalam pesawat itu.


"Di mana wanita itu?" tanya Evan.


"Dia ada di dalam Bos," jawab Kendrick.


Evan lalu masuk ke dalam kamar itu dan melihat Faira dengan satu anak lelaki sedang tertidur pulas. Dia memang tahu jika Faira mempunyai anak dari Ditya namun dia tidak pernah melihatnya.


Deg!


Rambut anak itu terlihat coklat tidak seperti warna rambut anak pribumi. Dan kulitnya berbeda dengan warna kulit orang sini asli.


Wajah anak itu tidak terlihat karena dalam posisi meringkuk dekat dengan ibunya. Evan lalu mendekat dan menyibak rambut coklat anak itu dengan hati yang berdebar dan tanpa bernafas.


Seketika matanya merebak dan kemerahan. Dia mengigit tangannya sendiri.


"Dia... dia ... ," tunjuk Evan pada Kendrick.


"Dia anak yang waktu itu Anda tolong, Bos."


"Kalian keluarlah aku ingin bersama mereka," kata Evan.


"Pesawat sebentar lagi akan lepas landas, Bos!"


"Cepat kau bawa pesawat ini segera ke negara kita," perintah Evan. Dia kini tidak peduli pada status Faira yang masih menjadi istri orang.


Pintu kamar kembali ditutup setelah orang-orang Evan keluar. Evan lalu duduk di dekat tempat tidur berbaring di sisi Ello dan merengkuh tubuh kecil itu dalam pelukannya.


Seketika suara erangan seperti harimau kesakitan keluar dari mulutnya. Dia tidak menyangka jika Faira telah melahirkan anaknya.


"Maafkan aku, Nak," kata Evan sembari mencium anaknya. "Maafkan aku karena telah mengabaikan kalian selama ini. Andai saja aku tahu, aku sudah mencari kalian dari dulu."


"Mulai saat ini aku berjanji tidak akan pernah membiarkan kalian pergi lagi dari hidupku," ucap Evan dengan tubuh bergetar. Dia menyesali tindakannya yang telah meninggalkan Faira dahulu seharusnya dia mengecek terlebih dahulu berita dari dengan mencari tahu seperti apa wajah anak Faira bukannya malah mengira jika dia telah hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.


Nyatanya setelah bertahun-tahun melihat Faira kembali dia tidak bisa menahan rasa rindunya yang teramat dalam. Hidupnya hampa tanpa ada Faira.