Affair (Faira)

Affair (Faira)
Janji



Setelah melangsungkan pernikahan Faira lalu diajak ke gedung milik Evan. Mereka menaiki mobil bersama. Ello masih terlihat marah dan dibawa oleh Raka ke mobil satunya. Anak itu tidak suka ketika Evan mencium Faira di depan semua orang. Dia merajuk dan tidak mau berbicara dengan orangtuanya.


"Maaf atas sikap Ello," kata Faira. Evan menoleh menatapnya dan memegang tangan Faira.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Dia butuh waktu banyak untuk mengenalku dan dekat denganku."


Tangan Evan diletakkan di bahu Faira dan ditarik agar wanita itu bersandar di dadanya.


"Bagiku menikahimu saja sudah anugerah terbesar dalam hidup." Evan mengusap lengan Faira perlahan.


Faira mendongakkan kepalanya menatap Evan namun Evan malah mendekati bibirnya dan mengulum pelan bibir itu. Faira sedikit membalasnya dan melepaskan tautan bibir mereka.


"Ohw, kau bisa merusak riasanku," ujarnya mencari tas yang berisi make up miliknya.


"Kau tetap akan terlihat cantik," ujar Evan. Faira melihat pria itu dan mengusap bekas lipstik yang masih tertempel di bibir pria itu.


"Kau sering mengatakan itu. Namun, apakah kau akan mengatakan itu jika kita telah lama bersama dan kau mulai bosan terhadapku," tanya Faira.


"Bagiku kau adalah wanita tercantik dalam hidup. Adam mempunyai banyak bidadari di sisinya dan ditemani oleh para malaikat tetapi hidupnya terasa belum sempurna ketika hawa belum hadir dalam hidupnya."


"Jadi bagaimana banyak pun wanita cantik yang mengelilingiku, bagiku kau tetap yang terbaik dan tercantik. Selamanya," bisik Evan.


"Walau aku sudah tua dan keriput?"


"Aku juga akan tua dan tidak sekuat sekarang, apa kau juga masih mencintaiku?" balik Evan.


Faira terdiam.


"Kau sama sekali belum pernah menyatakan kesukaanmu padaku atau berkata kau mencintaiku," kata Evan.


"Aku butuh waktu untuk mengenali perasaanku," ujar Faira melepaskan diri dari dekapan pria itu.


"Hingga kapan? Apa hingga nafasku habis baru kau mengatakannya?"


"Kau akan berumur panjang dan masih banyak waktu untuk mengatakannya," ucap Faira.


"Kita tidak tahu tentang besok Faira," ujar Evan. "Bisa saja esok nyawaku telah tiada." Faira menoleh ke arah Faira karena terkejut dengan perkataan pria itu.


"Aku tidak akan membiarkan kau pergi secepat itu setelah menikahiku, kau harus menemaniku hingga akhir hidupku," balas Faira tersenyum.


" Sungguh Faira aku akan mati jika tidak mendapat cintamu. Bagiku kau adalah nafas kehidupan yang membawaku kembali dari kematian. Ungkapan cintamu bagaikan sebuah oase di padang tandus. Aku akan mencarinya hingga mendapatkannya."


"Cinta itu tercermin dari perbuatan dan tingkah laku, aku ingin melihat keseriusanmu dulu baru aku akan mempercayai setiap kata-katamu," ucap Faira mengakhiri pembicaraan ini.


"Apa kau belum percaya padaku?"


"Aku tidak percaya pada takdir. Aku takut jika aku berencana mencintaimu, takdir akan membawamu pergi dariku lagi." ungkap Faira sendu. "Seperti dulu."


Mata Evan mencari sesuatu dalam mobilnya. Dia lalu meminta sopir untuk membuka laci dashboard dan mengambilkan gunting yang ada di dalamnya.


"Untuk apa Evan?" tanya Faira. Evan tidak menjawabnya tetapi ujung runcing gunting itu dia torehkan di telapak tangannya membuat Faira terkejut melihat luka dan darah.


"Evan hentikan!" seru Faira hendak meraih tangan pria itu namun oleh Evan mengelak dia tetap menggoreskan ujung gunting itu hingga membentuk huruf 'F'.


Dara menetes deras.


"Tissue," teriak Faira pada Sopir. Sopir itu juga terlihat khawatir. Dia berkali-kali melihat ke belakang melalui kaca spion.


Faira menangis sembari mengusap tissue ke telapak tangan Evan.


"Kau gila melakukan ini?" tanya Faira mulai melihat luka Evan yang berbentuk huruf F yang terpampang jelas di depan matanya.


"Aku menulis dirimu dalam takdirku," kata Evan.


Terasa nyeri di dada Faira. Dadanya terasa sesak. Air mata merangsek keluar tidak dapat dibendung lagi.


"Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri, lebih besar dari cintamu padaku, hingga suatu hari walau tubuh ini telah termakan cacing cintaku padamu tetap abadi."


"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku pergi hidup sendiri di dunia ini," pinta Faira.


"Aku berjanji akan tetap bersamamu, hidup bersamamu dan sampai tubuh kita menua dimakan usia. Aku tetap bersamamu. Selalu."


"Hingga kita menua dan mati bersama," imbuh Faira mencium tangan Evan yang berdarah, membuat Evan terdiam menatap Faira. Lalu tersenyum.


"Hingga kita mati bersama," lanjut Evan.


"Aku mencintaimu," kata Faira mencium bibir Evan .