Affair (Faira)

Affair (Faira)
Sakit



Raka lalu menonyor kepala Intan. "Sepertinya otakmu perlu diperbaiki," katanya sembari meninggalkan Intan di ruang makan.


Dia lalu pergi ke kamarnya dan mulai duduk memikirkan semua. Janji itu berat dan kini dia harus menepatinya. Intan lalu masuk ke dalam kamarnya setelah mematikan beberapa lampu yang tidak terpakai.


"Kau tidak bekerja lagi?" tanya Intan.


Raka menggelengkan kepalanya. "Aku lelah," kata Raka membuka kaosnya dan berbaring ditempat tidur dengan telungkup.


Intan lalu pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Dia lalu naik ke tempat tidur. Intan mengernyitkan dahinya tidak biasanya Raka tidur lebih awal.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Intan menyentuh bahu Raka. Badan terasa hangat.


"Kau sakit?"


"Entahlah kepalaku terasa sakit," kata Raka.


"Aku akan mencari obat untukmu," kata Intan keluar dari kamar dan mencari obat penurun panas.


Dia lalu kembali lagi membawa segelas air mineral dan obat dan satu minyak kayu putih.


"Raka bangun. Minumlah obat ini!" kata Intan. Raka lalu duduk dan meminum obat itu.


"Biar aku balur dengan minyak kayu putih tubuhmu," kata Intan khawatir.


"Aku hanya butuh istirahat dan tidur saja," ujar Raka.


"Sudah menurut saja." Intan membalikkan tubuh Raka dan mulai mengurut punggung pria itu.


"Kau terlalu giat bekerja, sebenarnya untuk apa? Kau sudah kaya, tidak perlu bertambah kaya lagi karena kau tidak berencana untuk menikah dan punya anak."


"Aku tidak berencana, hanya saja aku sudah menikah," kata Raka menikmati sentuhan Intan ditubuhnya. Terasa enak juga jika punya istri yang akan mengurus kita setiap hari. Walau dia punya pelayan dan wanita tetapi rasanya tetap berbeda.


"Tetapi ini pernikahan palsu."


"Pernikahan kita nyata Intan. Kau lihat cincin ditanganmu dan kalung itu adalah mahar dariku," ungkap Raka. Intan melihat cincin berlian ditangannya. Ini adalah perhiasan warisan ibu Raka namun pas dijari manisnya.


"Hanya saja pikiran kita yang salah," gumam Raka.


"Kita memulainya dengan salah," imbuh Intan.


"Iya, kita menikah karena dipaksa oleh keadaan."


"Apa kau menyesalinya, Raka?" tanya Intan.


"Itu artinya aku tidak tertarik dengan harta seorang pria atau ketampanannya. Aku hanya tertarik pada pria baik."


"Mantanmu itu tidak baik meninggalkanmu begitu saja," kata Raka.


"Bram pria yang baik hanya saja kami belum berjodo," bela Intan. "Seperti katamu, dia bukan pria yang baik untuk kumiliki."


"Sudah selesai, kau bisa tidur. Aku akan mengambilkanmu piyama jangan bertelanjang dada jika sedang sakit," kata Intan.


Raka lalu menuruti semua perkataan Intan dan tidur. Intan sendiri tidak bisa tidur dia mengompres pria itu dan mengecek panas pria itu setiap jamnya.


"40,5 derajat," kata Intan setelah mengambil termometer dari ketiak Raka. Tubuh pria itu juga mulai menggigil kedinginan. Piyama Raka mulai basah oleh keringat dingin.


"Raka, sebaiknya kita ke rumah sakit," ujar Intan panik sembari melepas piyama


"Tidak, jangan ajak aku ke rumah sakit. Aku tidak suka baunya," ujar Raka dengan suara gemetar.


"Tetapi kau sakit parah," bujuk Intan. Raka lalu membukanya matanya. Tangannya memegang wajah Intan yang terlihat sedih, matanya bahkan berkaca-kaca.


"Aku akan baik-baik saja kau jangan khawatir," ujar pria itu.


"Tapi... ," Raka menyentuh bibir Intan dan menggelengkan kepalanya.


"Besok pagi panggil saja Kenan untuk membawa dokter keluarga kemari," kata Raka lalu memejamkan matanya lagi.


Intan menghela nafas panjang. Menarik rambutnya ke belakang lalu menatap Raka. Tubuh tegap pria terlihat masih menggigil kedinginan dan mulai meracau tidak jelas.


Intan mengelap keringat di tubuh Raka dengan handuk. Akhirnya karena tidak tega melihat Raka yang kedinginan. Intan membuka bajunya sendiri hingga hanya menyisakan dalaman saja. Dia juga membuka baju Raka dan celananya. Setelah itu dia memeluk tubuh pria itu yang terasa panas menyengat.


Raka yang merasa ada sumber kehangatan lalu balik memeluk Intan erat dan memasukkan kepalanya dalam dada Intan. Intan merasa geli namun dia tidak bisa mencegahnya.


Tubuh pria itu mulai tenang tidak menggigil lagi. Intan yang merasa sedikit lega dia lalu ikut memejamkan matanya karena lelah menunggu Raka hingga hampir menjelang pagi.


Raka terkejut ketika mendapati dirinya tidur dengan mendekap tubuh Intan yang polos. Dia mulai mengingat apa yang terjadi kemudian tersenyum sembari memandangi Intan yang sedang tertidur pulas.


Hatinya menghangat seketika melihat perjuangan Intan untuk meredakan sakitnya semalam. Dia lalu mencium pelan dahi Intan dengan penuh kasih sayang dan mendekapnya erat.


Dia mulai berpikir jika dia mudah saja mendapatkan wanita cantik untuk memuaskan hasratnya tetapi untuk mencari istri yang tulus menyayangi dan mencintai di kala sakit ataupun dalam keadaan susah itu sangat sulit.


Dia teringat akan perkataan Evan. "Jika kau merasa dia berharga bagimu maka jangan kau lepaskan."


"Kini aku akan belajar untuk mencintaimu dengan segenap hatiku dan kau juga harus mencintaiku, karena aku tidak suka penolakan. Aku juga tidak akan pernah melepaskanmu pergi, akan kuikat kau kuat-kuat dalam diriku," ucap Raka lirih.