Affair (Faira)

Affair (Faira)
Bukan Milikku



Sejak saat itu Faira hanya mengurung diri dalam kamarnya. Menata hatinya kembali. Sakit hati karena perlakuan Evan membuatnya sulit merelakan kejadian itu.


Bayangan Evan selalu menghantui pikiran, datang ke dalam mimpi dan menyiksa batinnya. Evan brengsek, dia benar-benar pria paling jahat yang dia temui. Pantas saja jika selama ini kakak dan ayahnya menjaga dirinya dengan sangat protektif. Mereka tidak ingin hal buruk menimpa dirinya.


Kini setelah kedua orang terpenting dalam hidupnya tidak menjaga dia lagi maka, Faira melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal dan menghancurkan hidup juga masa depannya.


Dia lalu bangkit dari tempat tidur dan mendengar suara pintu diketuk dari luar. Faira terdiam, itu pasti Cintya yang akan membawakan makan atau juga Ditya yang akan memintanya berbicara.


Faira lalu berjalan menuju meja riasnya dan duduk mengambil pelembab wajah.


"Faira, bolehkah aku masuk," panggil Cintya.


Faira masih enggan untuk menjawab. Dia hanya memperbolehkan Mbok Nah yang masuk ke kamar.


"Faira kita harus berbicara!" teriak Cintya. Nun, Faira masih tetap membisu tetap mengoleskan kosmetik ke seluruh wajahnya. Di luar sana Cintya masih mengatakan sesuatu, Faira tetap tidak mengindahkannya.


Setelah terlihat rapi dia mengambil tas miliknya dan mulai berjalan membuka pintu kamar. Di depannya nampak wajah Cintya yang basah oleh air mata.


"Faira, aku!"


"Cukup Cintya, aku sudah memaafkanmu dan Ditya jadi jangan katakan apapun mengenali masa lalu jika masih ingin bicara denganku.


Faira lalu melewati Cintya dan berjalan keluar rumah. Dia melihat Ditya sedang duduk sembari memegang koran di tangannya. Pria itu meletakkan korannya dan berdiri, namun Faira tetap melewatinya tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Bahkan tanpa melihat ke arah Ditya.


"Faira, kita harus bicara," kata Ditya mengikuti arah kaki Faira yang berjalan menuju garasi mobil.


Faira tidak mengacuhkan perkataan Ditya, dia lalu membuka pintu mobil tetapi lengannya di tarik oleh Ditya sehingga wajah mereka saling berhadapan.


"Faira!" panggil Ditya.


"Kau menyakitiku Ditya," kata Faira.


"Maaf," Ditya melepaskan pegangan tangannya.


"Aku hanya ingin berbicara denganmu," kata Ditya.


"Apa yang harus dibicarakan semua sudah jelas bukan! Aku akan mengajukan surat cerai secepatnya karena aku sudah lelah tinggal bersama kalian!" ucap Faira. Dia tangan Ditya bertumpu pada mobil dan diantara itu ada Faira di tengah.


"Faira dengarkan aku, aku minta maaf!" kata Ditya pelan.


"Aku sudah memaafkanmu lama," jawab Faira.


"Sebagai sahabat seperti dulu namun kesempatanmu untuk memperbaiki hubungan ini telah lewat."


"Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk tahu kebenarannya kau malah menggiringku untuk selalu berpikiran negatif tentangmu," ucap Ditya lembut. Menatap Faira.


"Andai saja kau jujur dari awal," kata Ditya.


"Aku tidak ingin jika kepercayaan dirimu hancur, Ditya," jawab Faira.


"Tetapi apa yang kau lakukan juga sudah menghancurkan kepercayaan diriku. Aku berpikir apa yang membuat kakakmu marah dan selalu menghinaku setelah semua yang kulakulakukan itu tidak terlihat apa-apa di hadapannya. Kini aku mengerti jika aku bukan apa-apa tanpamu."


"Itu juga hasil kerja kerasmu."


"Maafkan aku Faira," pinta Ditya.


"Aku sudah memaafkanmu, namun aku bukan Faira yang dulu lagi."


"Bisakah kita memulai awal yang baru! Bukan sebagai sahabat, walau itu tampaknya tidak mungkin tetapi sungguh aku tidak ingin kita berpisah. Kenapa? Kau takut pada ancaman Kakak?" tanya Faira.


"Jangan berpikir negatif terlebih dahulu!" ujar Ditya melepaskan kungkungannya.


"Aku tidak bisa aku tetap akan mengajukan cerai, jangan halangi aku untuk mencari kedamaian dan kebahagiaanku," pinta Faira.


"Andai saja masih ada kesempatan Faira," kata Ditya.


"Kau jangan khawatir karena kita bertiga tetap akan jadi sahabat dan aku masih akan tetap tinggal di sini hingga ketuk palu menyatakan hubungan kita telah berakhir." Ditya memandang Faira dengan tatapan sayu.


"Itu juga kau memperbolehkan aku menganggu hubunganmu dengan Cintya di rumah ini," ucap Faira tersenyum.


Ditya tiba-tiba memeluk tubuh Faira erat. "Maaf ... ," ucapnya lagi dengan suara yang berat dan bergetar.


Faira menelan salivanya. Dia dapat mendengar ucapan tulus Ditya.


"Ditya, aku harus pergi," kata Faira. Ditya lalu merenggangkan pelukan itu. Faira bisa melihat bekas air mata di pelupuk mata Ditya walau lelaki itu berusaha menghapusnya. Hal itu membuat keduanya canggung.


Faira lalu masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengeluarkan dari bagasi setelah itu keluar dari pintu gerbang. Ditya memandangi kepergian Faira hingga tidak terlihat lagi.


Cintya lalu datang menyentuh lengan Ditya dan tersenyum. Ditya tidak mengindahkannya lalu masuk ke dalam rumah.


"Kau telah berubah Ditya, aku tahu jika hatimu bukan milikku lagi dari awal pertemuan kita," gumam Cintya, mendesah.