
"Sayang," panggil Faira.
"Om kenapa gandeng Mom terus?'' kata Ello sembari melepas tangan Evan. Evan lalu melepaskan tangan itu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Rasakan, apa yang kau tabur sekarang kau tuai," ujar Raka berbisik di telinga Evan.
"Kakak ipar lucknut kau!" kata Evan.
"Tidak mudah bagimu untuk mendekati Faira, bukan aku atau Ditya halangannya tetapi anakmu sendiri," ujar Raka menyesap minumannya dan terkekeh, lalu meninggalkan Evan dengan semua drama pertama rumah tangganya.
Akhirnya mereka bertiga menemui keluarga Alberth yang berdiri di pojok ruangan dekat jendela kaca besar.
"Dia masih memanggilmu Om?" sindir Alberth.
"Perlu waktu lebih, Dad, tapi aku tidak akan menyerah untuk mencuri hatinya," kata Evan.
"Siapa namamu, Nak," tanya Lisa hendak memegang Kepala Ello namun disingkirkan.
"Jangan sentuh aku!" seru Ello dalam gendongan Faira.
"Maaf dia bukan anak yang suka bergaul dengan dunia luar," kata Faira merasa tidak enak.
"Apa kau tidak mengajarkannya tentang budaya dan sopan santun. Aku kira orang dari negaramu mementingkan keramahan, nyatanya yang kulihat berbeda. Kau dan anakmu itu terlihat orang yang tidak punya sopan santun."
Faira menarik nafas dalam. Ini baru awal pernikahan mereka tetapi badai rupanya sudah memberi tanda.
"Dad, kau tidak bisa mengatakan itu pada istriku!" seru Evan. Faira memegang tangan Evan dan menggelengkan kepalanya.
"Kami menjunjung tinggi kesopanan dan menghormati orang tua namun ketika nama kami di cemarkan dan harga diri kami diinjak maka kami tidak segan untuk membalas hal itu setimpal dengan yang mereka lakukan. Orang mendapat apa yang mereka layak dapatkan jika ingin dihormati maka hormati dulu orang lain."
Faira lalu menundukkan wajahnya. "Permisi sepertinya Ello ingin berada di ruang yang tenang dan nyaman, di sini terasa panas dan penat."
Faira membalikkan tubuhnya dan pergi dari keluarga Evan. Evan tersenyum samar, sedangkan Alberth mengerat giginya dan wajah Lisa menegang.
"Wanita yang unik," kata Robin, Evan melihat ke arah adik tirinya itu.
"Itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Jika wanita itu biasa saja maka akan kuserahkan padamu seperti Kayla dan Lin, namun Faira berbeda, dia wanita luar biasa yang memegang kesetiaan dan cintanya."
Evan tersenyum penuh kemenangan dan pergi meninggalkan mereka.
"Huh, untuk apa kita kemari jika tidak dihargai," rutuk Lisa sepeninggal Evan.
"Aku tidak mau ketegangan keluarga kita terlihat oleh umum, tenangkan dirimu satu jam lagi kita baru akan pergi dari sini."
"Kau lihat tingkah Ayahmu?" tanya Lisa.
"Berita ini pasti akan masuk dalam majalah, Ayah terlihat memalukan dengan celana kolornya yang bergambar bunga-bunga warna warni. Kenapa Evan atau Marry tidak memakannya pakaian yang pantas."
"Jas yang dia gunakan senilai 500.000 ribu dolar hanya bagian celana panjangnya dia tidak memakainya. Kita bisa berdalih ini model tren terbaru," kata Robin tenang.
Alberth mengerang tidak senang. "Tren terbaru apanya, kita bahkan akan menuai malu esok pagi."
"Nikmati saja pestanya Dad, Mom jangan terlalu tegang," kata Robin mulai bergerak meninggalkan orang tuanya. Dia mendekati beberapa wanita teman relasi bisnisnya.
Dia memang bukan pria baik yang akan berjalan lurus seperti Evan. Kemarin dia sempat merayu Lin Dan tidur bersamanya, dia kira Evan tahu masalah itu, yang menyebabkan kandasnya hubungan mereka. Sebenarnya tanpa Faira datang pun, Evan tidak menyukai Lin hanya menjadikannya pion penting dalam kedudukannya.
Namun, nasib masih berpihak padanya setelah Robin mendekati wanita itu dan mencuri hatinya nyatanya dia masih belum bisa menduduki jabatan penting dalam perusahaan itu. Dia selalu kalah dari Evan dan mendapatkan bekasannya. Dia bosan menjadi yang kedua.
"Hai," sapa Robin pada wanita cantik dengan wajah keindoan. Sangat cantik.
"Oh, hai juga," jawab Intan.
"Sendiri?" tanya Robin memulai aksinya.
"Iya," jawab Intan tersenyum manis. Senyuman yang membuat luluh hatu Robin sekali memandang.
"Apakah kau datang dari pihak wanita?" tanya Robin.
"Ya, bisa dibilang begitu," jawab Intan sembari menyesap sirup blueberry.
"Apakah kau masih sendiri?"
"Maaf?" Intan terlihat terkejut.
"Ya sendiri, belum menikah?"
"Oh, aku wanita lajang dan bebas," jawab Intan.
"Siapa namamu?" tanya Robin mengulurkan. tangannya.
"Aku Intan Lavanya," jawabnya membalas uluran tangan Robin.
"Namaku Robin Winston, adik dari mempelai pria. Senang berkenalan dengan wanita secantik dan semenarik dirimu," kata Robin mencium tangan halus dan putih milik Intan. Intan tersenyum malu-malu.
"Anda pintar sekali merayu," ujarnya dengan wajah memerah.
Sedangkan di sudut ruangan lain ada mata yang menatap kedua insan itu dengan tajam.