
Ditya dan Cintya membawa Ello ke rumah sakit. Ello sudah tahu jika Evan adalah ayahnya. Ditya memberitahu semua itu dengan pelan. Awalnya Ello tidak mengerti hanya saja Cintya membantu Ditya menerangkannya dengan bahasa anak.
Ini hari ke tujuh Evan berada di rumah sakit. Keadaannya sudah membaik kata Faira walau masih merasa pusing berlebih. Mungkin hanya butuh waktu untuk memulihkan kondisinya.
Pintu ruang rawat inap Evan diketuk secara perlahan. Ada bayangan yang mendekati pintu dan pintu mulai terbuka.
"Ello," panggil Faira senang. Dia lalu mengambil Ello dari gendongan Ditya.
"Mommy," sapa Ella tersenyum manis. Faira memegang pipi Ella lalu menciumnya.
"Anak Mom bertambah cantik saja," puji Faira. Ella tertawa senang.
"Tetapi dia bertambah ompong, lihat gigi depannya sudah hilang dimakan tikus, karena tidak sikat gigi," tunjuk Ello pada dua gigi Ella yang geripis.
"Ello!" teriak Ella kesal. Ello adalah singkatan dari Marcello sedangkan Ella singkatan dari Marcella. Itu nama yang Faira dan Cintya rancang dari masa kehamilan mereka. Jadi kedua anak itu dari kecil seperti anak kembar selalu bersama.
"Apakah itu Ello, Fay!" teriak Evan dari dalam kamarnya.
"Iya," jawab Faira. "Ayo kita masuk Mas Ditya, Cintya."
Mereka lantas masuk ke dalam kamar rawat Evan. Di sana Evan sedang duduk dengan bersandar pada tempat tidur yang dinaikkan separuh.
"Ello, Ditya," panggi Evan tersenyum lebar ketika melihat buah hatinya. Walau mereka tidak bertemu selama beberapa hari namun terasa lama.
Ello yang melihat Evan langsung memerah matanya. Wajahnya seperti menahan tangis dia memeluk leher Faira erat.
Ello teringat kejadian sewaktu Evan menjadikan tubuhnya sebagai alat untuk melindunginya. Akhirnya suara tangisnya pecah.
"Kenapa, Sayang?" tanya Faira. Evan yang melihat khawatir namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Ditya lalu meminta Ello pada Faira. Setelah menggendongnya dia berjalan mendekat ke arah Evan. Lalu, mendudukkan Ello di dekat Evan.
"Beri salam Ello," perintah Ditya pada Ello. Ello lalu melihat Evan. Nafasnya tersengal-sengal. Dia menyeka air matanya. Ello melihat tubuh Evan penuh dengan luka dan kepalanya di perban penuh.
"Apakah sakit?" tanya Ello serak. Mata Evan berkaca-kaca memandangi Ello. Dia lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Ello melihat ke arah Ditya yang memberi tanda. Lalu menatap ke arah Evan.
"Daddy terimakasih karena telah menolongku," kata Ello lirih dan serak. Semua terdiam mendengar kata-kata Ello. Evan hanya mengedipkan matanya dan mengira semua hanya mimpi.
"Kau panggil dia siapa, Nak?" tanya Faira.
"Ayah menyuruhku memanggil Om, Daddy karena dia ayahku," kata Ello.
Evan lalu duduk tegap memeluk Ello tanpa mengatakan apapun juga. Hanya Isak tangis penuh syukur saja yang terdengar.
Semua orang ditempat itu menyeka air matanya. Merasakan keharuan yang sangat.
"Om, aku sesak," kata Ello. Dia lalu menutup mulutnya setelah melihat Ditya membelalakkan matanya. "Daddy."
"Terima kasih, Sayang," ucap Evan ketika melepaskan pelukannya, dia lalu mencium pucuk kepala Ditya.
"Terima kasih Ditya, berkatmu aku bisa memperoleh anak dan istriku," ucap Evan.
Ditya lalu membantu Evan berbaring lagi.
"Berkat Faira aku juga terbantu, aku bisa membangun usahaku dan mempunyai istri serta anak yang mencintaiku," ucap Ditya.
Faira mendekat ke arah Ditya dan memeluknya. "Bagiku kau sudah seperti Kak Raka."
"Kau juga seperti adik yang tidak pernah kumiliki."
"Apakah ada yang tidak kuketahui?" gurau Cintya.
Ditya lalu melepaskan pelukannya pada Faira dan mendekati Cintya.
"Aku sampai lupa meminta maaf padamu karena membuat kau terluka, mengira jika aku dan Faira punya hubungan lebih," ungkap Ditya pada Cintya.
"Tidak apa-apa semua sudah terjadi. Yang terpenting semua kini sudah kembali baik."
"Evan aku punya kabar buruk atau baik bagimu aku tidak tahu. Hanya saja tadi Raka menyuruhku menyampaikan ini padamu."
"Kabar apa?" tanya Evan penasaran.
***
Baca Gadis Untuk Presiden ya dan masukkan ke favorit.