
"Hallo, dad?" sapa Evan ketika baru masuk ke dalam ruang rapat. Semua orang yang mengira jika Evan masih di Indonesia melonjak terkejut namun tidak bagi Albert dan Robin juga Tuan Xie.
"Ada apa ini? Mengapa melakukan rapat tanpa sepengetahuan saya?" tanya Evan pura-pura tidak tahu.
"Silahkan duduk Tuan Evan," kata Tuan Xie mempersilakan Evan untuk duduk di kursi kebesarannya. Albert yang tadinya duduk di kursi itu akhirnya menyingkir digantikan anaknya. Wajahnya terlihat mengeras dan memerah.
Evan lalu duduk di kursi itu melihat ke arah semua orang lalu tersenyum mematikan.
"Okey, katakan apa yang terjadi," kata serius. Suasana dalam ruangan ini kelihatan menegang.
"Apakah tidak ingin ada yang berbicara atau mengatakan sesuatu padaku?" tanya Evan lagi dengan nada lebih tinggi.
Seorang pria bertubuh tambun dengan perut buncit berdiri.
"Saya sudah mengatakan jika saya lebih setuju dengan kepemimpinan Tuan Evan. Terbukti dalam waktu dua tahun ini penjualan meningkat drastis karena kualitas produk kita ditingkatkan dan diawasi setiap saat. Harga saham juga meningkat. Kita sebagai investor diuntungkan dengan kejadian ini jadi untuk apa kita mengganti pimpinan yang sudah ada," kata pria itu memulai pembicaraan.
Evan masih terdiam menunggu penolakan dari setiap orang. Tuan Xie berdiri merapikan jas dan dasinya lalu melihat kepada semua orang sembari tersenyum culas.
"Saya kira Tuan Albert lebih berpengalaman dalam hal ini, perusahaan ini akan lebih maju berada di tangannya," ujar Tuan Xie lemah lembut tapi menikam.
Evan hanya menaikkan alisnya ke atas menatap semua orang dengan santai, baginya berada di kursi kepemimpinan atau tidak itu sama saja. Tanpa berada di sini pun dia masih bisa mendapatkan pundi-pundi uang dari saham yang diberikan kakeknya.
Jadi separuh saham kakeknya yang 70 persen di bagi dua pada Evan dan Alberth karena Robin pasti yang akan mewarisi harta Albert. Sedangkan 5 persen lagi Evan beli dengan hasil kerjanya selama bertahun-tahun di perusahaan itu ditambah saham milik bibinya 5 persen, jadi dia hanya butuh lima persen lebih suara untuk mendukungnya tetap berada di kursi ini.
Wajah Alberth sudah terlihat masam. Dia sangat membenci anaknya ini, dia heran mengapa ayahnya selalu mementingkan Evan dari pada dirinya. Antony, kakek Evan, yang membawa Evan datang ke rumahnya dan memperkenalkan pada semuanya jika Evan adalah anak Albert yang dia tinggalkan dulu.
Ibu Evan adalah seorang artis pada masanya dan dia pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki dibelakang Albert, membuat pria itu tidak pernah mengakui jika Evan adalah anaknya walau tes DNA membuktikan jika anak itu adalah dagingnya. Rasa sakit karena dikhianati oleh ibu Evan, membuat Albert terus membenci Evan hingga saat ini. Ditambah lagi dengan perilaku Antony yang selalu membelanya dan menyerahkan separuh kekayaannya pada Evan membuat Albert makin meradang dibuatnya.
"Jika Daddy ingin duduk di kursi ini aku tidak keberatan asal semua dengan persetujuan lebih dari 50 persen pemilik saham di perusahan ini," terdapat nada sindiran dalam suara Evan.
"Saya pemilik saham lima persen, lebih memilih Tuan Evan," kata pria bertubuh tambun tadi.
"Jika saya pemilik dari sepuluh persen saham ingin Tuan Albert yang menduduki jabatan ini," kata Tuan Xie tersenyum lebar pada Aberth dia yakin dua orang pemilik saham dua dan tiga persen itu akan memilih Albert.
"Kami sebagai pemilik saham terkecil tidak menyangka jika suara kami menjadi paling penting dalam masalah ini," ujar Salim seorang saudagar dari Arab.
"Tentu saja suara Anda sangat berharga untuk kami, benar begitu bukan? Ha ... ha ... ," tawa Tuan Xie penuh kemenangan. Sebelum ini dia sudah melobby tuan Arab itu untuk memilih Albert . Kali ini dia yakin jika mereka akan seri tinggal meminta para pejabat eksekutif perusahaan memilih siapa yang lebih layak untuk menjabat.
Nama baik anaknya dipermainkan oleh Evan dengan memutuskan pertunangan secara sepihak dan tanpa penjelasan. Dia tidak terima jika anaknya dibuat seperti itu.
"Saya memutuskan untuk tetap berpihak pada Tuan Evan. Bagaimanapun perusahaan mengalami kemajuan yang pesat ditangannya."
Evan tersenyum lebar, lega. Dia lalu berdiri sembari membenahi menarik jasnya ke bawah.
Albert langsung mendorong kursinya ke belakang dan pergi dari ruangan itu tanpa mengatakan satu patah katapun. Sedangkan Robin menepuk bahu kakaknya dan tersenyum.
"Selamat, Van," katanya. Evan menganggukkan kepalanya.
"Tuan Xie saya minta maaf karena masih tetap menduduki jabatan ini," sindir Evan. Pria itu lalu meninggalkan ruangan dengan wajah tegang dan muka memerah, sejenak menatap tajam pada saudagar dari Arab itu.
Dia lalu keluar dari ruangan itu diiringi oleh para asisten yang mengejarnya.
Evan tersenyum pada semua orang yang masih ada di tempat itu.
"Tenang saja Tuan Evan jika Tuan Xie menjual sahamnya karena kecewa maka saya yang akan membelinya," kata Salim. Evan menganggukkan kepalanya.
Setelah semua urusan itu beres Evan kembali ke ruangannya. Dia melihat ada yang tidak beres ketika menatap air muka tegang dari Hana.
"Tu-an," Evan tidak mengatakan apa-apa hanya masuk ke dalam ruangan miliknya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Evan dengan nada tinggi pada Albert serta Robin.
"Aku hanya ingin menyapa menantu dan cucuku, hanya itu saja. Apakah itu salah?"
Evan melihat ke arah Faira yang duduk dengan tenang dan Ello yang sedang asik dengan pizzanya.
"Anakmu sangat menggemaskan sama seperti kau masih kecil," kata Albert hendak memegang pipi Ello namun anak itu menghindar.
"Aku tidak suka disentuh oleh orang asing," ujarnya.
"Kau lihat baginya kau itu orang asing," ejek Evan.
"Anak dan ayahnya sama saja tidak punya adab," kata Albert.
"Kau benar sifat anak menurun dari ayahnya," balik Evan membuat wajah Albert meradang.
"Kau itu?" tunjuk Albert pada Evan, tetapi telunjuk pria itu diturunkan pelan oleh Evan.
"Aku bukan anak kecil lagi, Dad-dy," cicit Evan mengeluarkan smirknya.
"Kakak, tidak seharusnya kau berbuat seperti itu, hargailah dia sebagai ayahmu!" ujar Robin.
"Aku yang paling tahu apa arti kata memghargai karena aku hidup dari caci maki. Jadi aku akan menghargai siapa yang menghargaiku dan menyayangiku dengan tulus," jawab Evan.
Faira tetap duduk dengan tegak sembari tersenyum samar layaknya seorang ratu di kerajaannya. "Jadi seperti ini keluarga Evan? Kita ikuti permainannya.''