
Evan lalu mengambil kotak obat yang tersimpan dalam nakas dekat tempat tidur. Berjalan kembali mendekati Faira dan menariknya ke kursi dekat sofa dengan sangat hati-hati. Banyak pecahan kaca yang berceceran di tempat itu.
"Aku bisa sendiri!" geram Faira menarik tangannya tetapi Evan malah memeganginya dengan kuat.
"Kau ingin pergi tetapi seperti inilah yang akan kulakukan," ucap Evan. "Jangan memberontak nanti akan terasa sakit."
"Mudah sekali kau katakan! Kau kira aku sebuah mainan yang bisa kau buang dan ambil kembali ketika kau sedang butuh."
Sejenak Evan menutup matanya. Tetapi, detik kemudian dia terlihat tidak peduli dengan ucapan Faira mulai membersihkan luka kecil itu dan menempelkan plester luka di pergelangan tangan Faira.
Setelah itu, dia mencium tangan Faira yang terluka, namun Faira langsung menariknya.
"Maaf!"
"Mudah mengucapkan tetapi tidak akan pernah bagiku untuk menerimanya. Sekarang bukankan pintu kamar!" ucap Faira kesal.
Evan lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar, mulai memencet tombol untuk membuka pintu itu. Pintu mulai terbuka sedikit. Faira lalu berjalan hendak keluar namun dengan gerakan cepat Evan menahan Faira dengan tubuhnya. Mengungkungnya di tembok.
"Faira, aku tidak bisa menceritakan alasanku meninggalkanmu waktu itu, tetapi sungguh aku menyesalinya. Waktu terus berjalan dan rasa cintaku padamu membuatku terus bertahan, agar aku bisa berada di sisimu suatu saat nanti," ujar Evan.
"Bullshit! Aku tidak peduli denganmu dan kehidupanmu bagiku kau tidak ada dan tidak pernah ada," jawab Faira penuh kebencian.
Evan meninju keras tembok sebelah Faira membuat wanita itu terkejut dan memalingkan wajahnya ke sebelah.
Kejutan lain Faira dapatkan ketika Evan menyesap kulit lehernya dalam.
"Evan!" seru Faira namun pria itu tidak peduli hingga dia melepaskan Faira setelah yakin aksinya akan membuat noda merah di leher putih dan jenjang wanita itu.
Tangan Faira langsung menampar wajah pria itu dengan keras.
"Kurang ajar, beraninya kau melakukan ini padaku! Aku tahu kau pengusaha kaya yang berkuasa tetapi kau tidak berhak menyentuh tubuhku, barang satu inci pun!" seru wanita itu mendorong tubuh Evan keras dan keluar dari rumah besar pria itu dengan derai air mata.
Faira menolak mobil Evan ketika hendak keluar dari rumah itu. Selanjutnya dia perang adu mulut dengan penjaga pintu gerbang yang tidak mau membuka pintu gerbang sebelum tuannya memerintahkan.
"Buka sekarang!" seru Faira menunjuk pintu gerbang itu.
"Nona, Tuan melarang Anda pulang tanpa diantar mobil kami!" jawab penjaga itu.
"Buka atau aku akan membuat kekacauan," murka Faira berapi-api. Netra Faira melihat remote yang dipegang oleh penjaga itu dan merebutnya."
"Faira pulanglah dengan diantar sopirku," ucap pria itu.
"Kau tidak perlu mengaturku," ucap Faira mulai memencet tombol remote dan pintu gerbang mulai terbuka. Evan menyuruh sopir untuk mendekatkan mobilnya.
"Pulang dengan sopirku atau aku akan mengantarkanmu."
Faira menatap Evan dengan tajam lalu melemparkan remote ke arahnya. Dia bergegas berlari keluar pintu gerbang. Lalu berjalan cepat menjauh dari rumah pria itu.
"Sial!'' batin Evan kesal. Wanita itu jika sedang marah terlihat menakutkan.
Evan lalu mengejar Faira. Menangkapnya di depan rumah dan menggendongnya di pundak masuk kembali ke rumah. Selanjutnya dia memasukkan wanita itu dengan paksa ke dalam mobil dan ikut masuk ke dalam mobil.
"Kemana Tuan?" tanya sopir Evan.
"Antarkan kami ke rumahnya di Menteng," jawab Evan.
Faira memunggungi Evan dan melihat ke arah luar kaca jendela. Tubuhnya mulai gemetar, Isak kecil mulai terdengar. Evan menoleh. Hatinya ikut sakit mendengar tangis Faira. Tangannya lalu membelai rambut Faira namun ditepis oleh wanita itu.
"Kenapa kau harus kembali ke hidupku!" ucap Faira.
"Karena aku mencintaimu," jawab Evan. Faira memejamkan matanya.
"Sedetik mengatakan cinta, sedetik kemudian pergi entah kemana! Kau memang pembohong ulung," ujar Faira.
"Faira aku sungguh mencintaimu," ujar Evan.
"Sayangnya aku membencimu dan kau pun tahu jika aku sudah bersuami jadi tinggalkan aku karena banyak wanita yang ingin bisa bersamamu," ucap Faira tanpa mau melihat ke arah manik mata biru yang dulu membuatnya terpesona.
Evan lalu menyandarkan diri di sandaran kursi mobil mereka sama-sama terdiam hingga mobil sampai di depan pintu gerbang rumah Faira.
Pintu mobil terbuka dan Faira keluar dari mobil setelah sopir membukakan pintunya.
"Ra, aku tidak akan berhenti sampai di sini," ujar Evan mengatakannya lewat jendela kaca.
"Kau boleh mengatakan apapun tetapi aku tidak akan pernah menjadi milikmu selamanya!" ucap Faira berjalan masuk ke dalam rumah.
"