Affair (Faira)

Affair (Faira)
Wanita Unik



Intan tersenyum lebar bagai kuda. Dadanya berdebar dengan keras, hawa panas pun mengusik tubuhnya padahal AC dalam ruangan ini telah menyala sedari tadi.


"Sial, aku sama sekali tidak tahu jika atasan perusahaan ini adalah dia, setahuku pemilik dari Permana grup adalah bapak Ardianto Permana. Atau dia adalah anak tertua dari Tuan Permana? Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya padahal aku telah bekerja di gedung ini selama dua tahun ini," rutuk Intan dalam hati.


Tangan Raka mengetuk meja kerja menampilkan nada yang membuat jantung Intan berdetak lebih keras. Matanya yang tajam fokus membaca CV miliknya dengan serius. Pena hitam digigit oleh pria itu membuat fokus Intan tertuju pada bibir berwarna merah gelap. Tanpa sadar dia menggigit labiumnya yang berwarna orange mengingat ciuman yang mereka lakukan semalam.


Ingin rasanya Intan berguling-guling di kamar karena malu. Membayangkan apa yang terjadi tadi malam, hanya sebuah ciuman dan mereka berbasah-basah ria di bawah guyuran air mancur kamar mandi. Setelah itu, dia tidak tahu apa yang terjadi.


Intan menggelengkan kepalanya sembari bergidik ngeri membuat Raka melirik ke arahnya dan bertanya ada apa dengan bahasa mata.


Wajah Intan memerah, dia langsung menggelengkan kepala sembari tersenyum, lalu duduk dengan manis sembari menarik rok span selututnya yang ketat.


Huft


Dia mengeluarkan nafas keras. Ini seperti siksaan berat untuknya. Belum juga selesai Raka membaca map ditangannya seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu tanpa aba-aba.


Wanita itu berambut pirang dengan memakai kemeja yang menggantung di perut dan rok span pendek serta tas branded dengan bahan kulit berwarna coklat di bertengger cantik di sikunya.


Di belakang wanita itu berjalan Gesang dengan wajah yang ketakutan.


"Maaf Tuan, saya sudah melarang dia untuk masuk ke dalam namun dia tetap memaksa masuk."


Raka memberi tanda pada Gesang untuk keluar dari ruangan itu. Sedangkan sepeninggal pria itu Cindy duduk di atas pangkuan Raka tanpa rasa malu dan mengalungkan tangannya ke leher pria itu.


"Sayang, kenapa kau memecatku apakah pekerjaanku terlalu buruk sehingga kau mengeluarkan aku dari perusahaan ini."


Cindy lalu baru tersadar jika mereka tidak hanya berdua saja. Dia mengikuti arah pandang Raka.


"Ekhem...," Intan lalu pura-pura terbatuk. "Sebaiknya saya keluar terlebih dahulu."


Cindy tidak melihat lagi ke arah Intan fokusnya kini pada Raka. Dia menyentuh bibir Raka tanpa sungkan.


"Tunggu!" ucap Raka. Intan yang hendak bangkit lalu duduk kembali ke kursi.


"Biarkan dia pergi, aku ingin berbicara berdua denganmu," ucap Cindy dengan suara yang menggoda.


"Cindy ini kantor tidak sopan bagimu untuk bersikap seperti ini?" kata Raka tegas.


Cindy terkesiap sejenak dia laluberdiri di dekat Raka. Intan menahan senyumnya.


"Makanya jadi cewek jangan ganjen," ejek Intan dalam hati. Dia tahu siapa itu Cindy sekretaris Raka yang paling sok berkuasa dan menyepelekan karyawan yang lain seolah dirinya adalah Nyonya besar pemilik perusahaan ini.


"Untuk apa dia ada disini?" tanya Cindy pada Raka.


"Yang harus kutanyakan adalah mengapa kau ada di sini?" balik Raka.


"Aku ingin kau mengembalikan posisiku sebagai sekretaris utama perusahaan ini!"


Raka tertawa sumbang. "Atas dasar apa aku memasukkanmu kembali ke perusahaan ini? Apa kau pemilik dari perusahaan ini atau ayahmu atasanku sehingga kau bisa memerintahku dengan seenaknya sendiri?"


"Raka, begitu mudah kau membuangku setelah apa yang kita lakukan selama ini?"


"Aku tidak pernah mengajakmu bermain cinta kau yang merayuku dan datang dalam pelukanku tidak salah jika aku melakukan hal itu?"


"Bos aku hamil?" ungkap Intan dalam khayalannya.


"Hamil? Apa kau yakin jika itu anakku? Mungkin saja itu anak pria lain?"


"Tapi aku hanya melakukan hal itu denganmu?"


"Tidak ada bukti dan waktu itu kau yang datang untuk merayuku, aku tidak bersalah dalam hal ini."


Cindy menangis keras dan berniat akan menyebar luaskan foto dan video kebersamaan mereka ke media sosial.


"Silahkan kau lakukan itu. Dapat kupastikan hari ini kau dan keluargamu akan langsung dideportasi ke negara asalmu. Aku juga akan memblacklist kau dari beberapa perusahaan rekanan ku sehingga aku dapat menjamin kau dan keluargamu tidak akan mendapatkan pekerjaan selama beberapa tahun ke depan."


"Apa karena kau menemukan penggantiku sehingga kau membuangku begitu saja?" tanya Cindy menunjuk ke arah Intan.


Intan hendak membuka mulutnya tetapi kerah bajunya sudah ditarik oleh Cindy. "Bagaimana caramu merayunya sehingga dia berpaling dariku?'' tanya Cindy emosi.


"Cindy! Hentikan dramamu dan keluar dari ruanganku" teriak Raka.


"Ini tidak adil! Kau membuangku setelah mendapatkan ja**** baru," teriak Cindy tidak terima.


Intan lalu bangkit berdiri di depan tubuh Cindy yang menjulang tinggi di depannya.


"Kenapa kau keberatan dengan hal ini? Bukankah kau dulu juga merayu Bos untuk dapat posisi ini? Kau katakan kau adalah wanita nomer satu di perusahaan ini karena kedekatanmu dengan Bos, jadi sekarang aku datang untuk merebut posisi ini. Siapa yang kuat dan cantik, dia yang akan bertahan!" ejek Intan.


Intan tidak ingin mengatakan hal ini, hanya saja dia merasa begah mendengar ucapan Cindy yang tinggi jika mereka berada di toilet bersama. Cindy selalu menghinanya dengan mangatakan jika dia hanya menjadi sekretaris dari divisi Humas yang tidak punya arti sama sekali. Ini waktunya balas dendam pikir Intan.


"Kau!" tunjuk Cindy geram.


Raka melipat tangan di dada sembari menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran melihat pertengkaran dua wanita ini.


"Sebelum kau diperlakukan buruk sebaiknya kau keluar dari ruangan ini!" ucap Intan tenang.


Cindy menatap sengit pada Raka juga Intan.


"Kali ini aku akan pergi tapi yakinlah sebentar lagi akan ada badai yang menghantam dirimu jangan panggil aku Cindy jika tidak bisa membalas perbuatan kalian!" seru wanita itu.


"Pintu ruangan ini ada di sebelah sana," kata Intan setengah geli. Cindy lalu menghentakkan kakinya ke lantai dan pergi dengan menahan murka di hati.


Sepeninggal Cindy, Raka bertepuk tangan.


"Aku kagum padamu Intan, mulai hari ini kau akan diterima menjadi sekretaris utama perusahaan ini."


Raka yakin dengan memiliki sekretaris macam Intan dia bisa menyingkirkan wanita yang mengganggunya.


Intan tersenyum sembari merapikan pakaiannya yang tidak kusut lalu mengambil tas kerjanya.


"Maaf Pak, sepertinya pekerjaan ini tidak cocok bagi saya. Saya akan mengajukan surat pengunduran diri sekarang."


Dia tidak segila itu untuk masuk ke dalam kandang buaya yang mengira dirinya adalah sepotong daging segar yang lezat.