Affair (Faira)

Affair (Faira)
Tamat End Rampung



Kali ini keluarga Ardianto benar-benar mengadakan acara syukuran pernikahan putranya dan kehamilan Intan.


"Mom, aku mau punya adik lagi?" tanya Ello.


"Ya, adik sepupu dari perut Tante Intan," ujar Faira.


"Aku kira dari perut Mom," ucap Ello santai.


"Hush aneh saja. Mengurus kau dan Enya saja sudah membuat kepala Mom pecah," ujar Faira.


"Biar tambah ramai Mom, lagi pula bukan Mom yang mengurus, paling mba nya," celetuk Ello.


Evan yang mendengar menahan tawanya seraya menggelengkan kepala. Faira menatap tajam ke arah suaminya.


"Kau yang mengajarinya?" tanyanya. Evan hanya mengangkat bahunya.


"Aku sudah besar tahu semuanya. Mom dan Dad lebih banyak berdua, aku dan Enya hanya diurus oleh Mba, terkadang kalian malah pergi berdua meninggalkan kami di rumah Kakek."


Faira memutar bola matanya malas sedangkan Evan mengusap lembut rambut Ello.


"Maafkan Dad karena sering membawa ibumu pergi menemani Dad bekerja ke luar negeri."


"No problem. Hanya saja tadi Mom mengatakan siapa yang akan mengurus adikku, aku bilang mbak. Mom cuma buat saja apa susahnya," kata Ello ringan yang belum tahu proses membuat bayi sehat.


Faira dan Evan membulatkan matanya lebar sedangkan di sekitar mereka orang yang mendengarnya menahan tawa sampai memegang mulut atau perut. Mereka masih di rumah mertua Raka dan sedang mengadakan acara pengajian.


Sedangkan Pak Ardianto dan Pak Noto yang sedang menyeruput kopinya langsung tersedak mendengar jawaban Ello. Si anak bule tampan.


"Kau benar Ello, mudah membuat adik mengapa Mom mu tidak mau." Raka dan Intan mendekat ke arah mereka.


"Satu lagi sepertinya juga tidak salah, Sayang, kalau bisa kembar," imbuh Evan. Faira menginjak kaki suaminya keras.


"Kau kira melahirkan itu tidak sakit. Aku masih mengingatnya sampai sekarang. Aku tidak mau hamil lagi," tolak Faira. Dia baru sekali melahirkan dengan cara normal karena itu tidak ingin lagi merasakannya.


"Namun, setelah itu kau senang kan karena ada Enya yang cantik dan lucu lahir ke dunia," sela Raka.


"Iya, hanya saja. Kau nanti akan tahu bagaimana istrimu bertahan untuk hidupnya dan untuk hidup anakmu ketika melahirkan."


"Itu hal paling menakjubkan seumur hidupku, aku pun rela kau Jambak dan cubit lagi jika mau memberiku satu orang anak lagi."


"Tidak!" Faira lalu meninggalkan tempat itu merajuk.


"Tinggal buat saja, Van, kalau sudah hamil wanita bisa berbuat apa hanya menerima," ucap Raka berbisik.


Mereka lalu tertawa bersama.


***


Delapan bulan kemudian.


"Ayo cepat, Kak," teriak Faira ketika Raka menggendong tubuh gemuk Intan. Intan sedang merasakan kontraksi, dia langsung dibawa ke rumah sakit.


Raka lalu membawa masuk Intan ke ruang bersalin. Tubuh Intan naik dua kali lipat selama mengandung. Dia selalu dipaksa Raka untuk makan banyak dan bergizi agar anak mereka sehat dan kuat nantinya.


Terkadang Intan mengeluh tentang bentuk tubuhnya tetapi Raka selalu mengatakan tidak apa-apa dia akan selalu mencintainya.


"Kalau sakit teriak saja seperti aku, Kak," ujar Faira yang pernah merasakan bagaimana sakitnya melahirkan. Namun, dia melihat Intan hanya meringis saja walau wajahnya terlihat pucat dan matanya memerah menahan rasa sakit. Wanita itu hanya sesekali meremas tangan Raka yang sedang menggenggamnya.


Raka malah yang lebih panik, dia terlihat berteriak agar dokter itu cepat bekerja agar istrinya tidak lama merasakan sakit itu.


"Sabar Sayang, ini perlu waktu lebih," kata Intan yang pernah punya pengalaman melahirkan dulu.


"Apakah ibunya telah pecah ketuban?" tanya Dokter yang baru datang membentangkan kaki Intan dengan lebar dan mencopot ********** tetapi belum selesai Raka mencegahnya.


"Apakah tidak ada Dokter wanita," seru Raka tidak terima jika tubuh istrinya dilihat dan dipegang pria lain.


"Dia dokter terbaik di rumah sakit ini Kak," jelas Faira. Dia adalah salah satu pasien dari Dokter itu.


"Aku tidak peduli aku ingin Dokter wanita," ujar Raka kesal.


Akhirnya mereka memanggil bidan yang bertugas dan Dokter itu hanya mengarahkan saja. Dia paham karena ada beberapa pria yang tidak ingin jika istrinya di pegang oleh dokter pria.


Faira sendiri memilih menunggu Intan di ruang tunggu.


"Dok, adakah cara agar istri saja tidak merasakan sakit seperti itu?" tanya Raka tidak tega pada Dokter tadi yang kini berdiri di samping Intan.


"Bukaan berapa Sus," tanya Dokter itu.


"Sembilan," jawab suster itu.


"Bukaan apanya?" tanya Raka. Dokter itu tersenyum.


"Anak pertama ya Pak?" tanya Dokter itu.


"Anak kedua," jawab Intan.


"Oh, mungkin yang pertama sesar?"


"Aku mengerti." Dokter itu lalu menjelaskan jika mereka tidak akan melakukan prosedur lainnya karena sang ibu sudah siap melahirkan secara normal.


Intan terlihat mengeliat lagi dan memegang tangan Raka erat. Wajahnya memucat.


"Akh!" erang Intan.


"Kepalanya sudah mulai terlihat, Dok!" ucap Bidan.


"Kepala," gumam Raka.


"Anak Anda akan segera lahir. Ayo semua siapkan alat-alatnya sekarang," teriak Dokter itu.


"Tidaka apa-apa ini saya membantu kelahiran istri Anda?" tanya Dokter itu membuat Raka yang panik dan gelisah menganggukkan kepalanya. Pikirannya hilang seketika itu juga. Dia hanya membiarkan Intan memegang tangannya erat.


"Lihat aku, kau akan baik-baik saja. Tarik nafas keluar nafas huft," Raka malah yang terlihat panik sedangkan Intan terlihat lebih tenang dan mengikuti semua arahan sang dokter. Setengah jam kemudian anak itu sudah lahir.


Suara bayi terdengar membuat Raka menatapnya takjub.


"Wah, jagoan kecil," kata Dokter itu meletakkan bayi mungil yang masih berlumur air ketuban ke atas dada ibunya.


Raka menyeka air matanya dan tersenyum senang. Dia lalu mencium kening istrinya lalu anaknya.


"Terimakasih, Sayang, kau selalu saja memberikan kebahagiaan untukku."


Empat jam kemudian Intan terkejut ketika masuk ke dalam ruang perawatan bersama bayi mereka.


Ruangan itu telah di sulap dengan indah ada beberapa buket bunga di kamar itu. Vas besar dengan bunga Lily kesukaan Intan. Lalu kamar itu sudah di dekor dengan apik. Bagaimana bisa Raka menyiapkan semua itu dengan cepat.


"Baguskan Kak aku yang melakukannya dengan kilat," ujar Faira tersenyum.


"Bersama kami tentunya," kata Ardianto memeluk tiga cucunya.


"Apakah aku tidak masuk," ucap Evan membawa buket bunga besar.


"Selamat atas kelahiran si kecil," ungkap Evan tersenyum lebar.


"Wah, akhirnya aku punya teman juga," celetuk Ello melihat bayi Raka itu lelaki.


"Itu adikku," kata Laura antusias mendekati si kecil. Raka yang sedang menggendong bayi itu menundukkan tubuhnya agat Laura dan Enya bisa menjangkaunya. Dua anak itu bergantian mencium sang baby.


"Siapa namanya Kak?" tanya Faira.


"Arjuna Prawiro," jawab Raka.


"Selamat datang Arjuna." Ardianto menyentuh pipi anak itu. Sang anak tersenyum.


"Akhirnya kebahagiaan keluarga kita sudah lengkap."


"Ya Yah kita harus bersyukur semua sudah menemui kebahagiaannya. Tinggal Ayah yang belum menemukan kebahagiaan itu," uajr Raka tidak ingin egois karena ayahnya masih hidup sendiri.


"Bagi Ayah kebahagiaan kalian adalah hal yang terpenting. Ayah senang bisa membesarkan kalian hingga menjadi seperti ini."


"Kami pun bangga punya Ayah seperti Ayah, kami sangat menyayangimu." Peluk Faira.


"Aku sangat beruntung memiliki Ayah sepertimu yang mendahulukan kepentingan anaknya dibandingkan dengan kepentingan sendiri."


"Aku pun tidak menyangka mempunyai seorang mertua sebaik dirimu yang menyayangi ku seperti putri kandungnya sendiri."


"Aku juga merasa mempunyai ayah kandung ketika bersama Ayah." Evan memeluk tubuh Ardianto.


Ardianto tersenyum melihat keluarganya telah bahagia. Kini beban hidupnya telah berkurang.


"Terima kasih istriku karena telah memberikan anak-anak yang hebat dan saling menyayangi seperti mereka." Batin Ardianto


---- *** Tamat ***---


Jangan lupa ke karyaku yang lainnya ya.


1 Rahim Sewaan


2 Gadis Untuk President



Mencintai Calon Kakak Ipar


4.One Night With My CEO


5.Billionary Married Skandal


Cinta Yang Dewasa