
Semua orang langsung berlari ke arah tiga orang yang tergeletak di lantai. Mereka mengangkat lampu kristal raksasa itu bersama-sama.
"Siapapun selidiki cepat kejadian ini dan jangan ada yang mengambil gambar apa yang telah terjadi." Respon Raka cepat. Dia memerintahkan pada para sekuriti memeriksa orang yang ada dalam gedung ini khususnya aula dan menutup semua pintu untuk sementara. Dia akan melakukan penyelidikan terhadap semua tamu yang hadir.
Terdengar suara tangis keras dari Ello, Ardianto langsung menarik tubuh Ello dan menggendongnya sedangkan Raka membantu yang lainnya menyingkirkan pecahan beling di punggung Evan yang berada di atas tubuh Faira.
"Evan," cicit Faira mencoba menggerakkan tubuh suaminya. Satu tetes darah dari kepala Evan mengenai pipi Faira. Faira cemas dan ketakutan. Bibirnya bergetar. "Evan," panggil Faira lagi.
"Bahkan aku akan melindungi kalian dengan raga dan jiwaku," ucap Evan kala itu.
Hati Faira mendesir sakit, tangisnya pecah. "Evaaaan... ," teriaknya keras membuat semua yang ada di sana melihat dengan miris pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahannya.
Satu jam kemudian Evan sudah dilarikan ke rumah sakit dia kini berada di atas brankar yang sedang didorong menuju ruang penindakan.
"Ada apa ini?" tanya Dokter spesialis yang baru datang ketika ditelepon oleh pihak rumah sakit sebelumnya untuk datang secepatnya ke rumah sakit.
"Dia terkena cidera parah di kepalanya Dokter," ucap dokter jaga yang bertugas, dia telah memeriksa keadaan Evan dan melakukan pertolongan pertama sembari menunggu kedatangan Dokter spesialis yang sudah dipanggil tadi.
"Dia menantu Pak Ardianto?"
"Ya!"
Dokter itu lalu melihat luka di kepala Evan. Dia menghela nafas.
"Tolong suami saya dokter," kata Faira dalam pelukan Raka.
"Cepat bawa ke ruang operasi," perintah dokter Fariz
"Baik, Dok!" kata para perawat.
"Kita berdoa saja semoga lukanya tidak sampai dalam."
Kaki Faira terasa lemas ketika tubuh Evan dibawa ke dalam ruang operasi. Dia memeluk Raka dengan erat.
Kemeja pria itu bahkan sudah basah dari tadi karena tangisan dari adiknya. Dia sudah tidak memperdulikan masalah pelik yang sedang menimpanya saat ini yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Faira.
Lama mereka menunggu di depan ruang operasi. Ditya dan Cintya untuk sementara merawat Ello karena mereka yang sudah dekat dengan anak itu. Ardianto sendiri sedang menyelesaikan penyelidikan di hotel mereka dan mencari tahu tentang semua yang terjadi pada anak dan mertuanya.
Bibi Marry serta Kakek Evan sudah diungsikan di tempat yang aman. Berbeda nasibnya dengan Alberth dan Robin mereka berada di ruangan yang penuh pengawasan tanpa sepengetahuan mereka.
Mereka salah jika meremehkan keluarga Ardianto karena Ardianto punya akses penuh di negara ini karena dia adalah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat di negeri tercinta ini.
Lampu kamar operasi telah dimatikan. Faira yang duduk bersandar pada kakaknya langsung berdiri menuju ke pintu.
Di saat yang sama Dokter Fariz keluar ruangan sembari melepas masker yang menutupi wajahnya.
"Bagaimana keadaan suami saya dokter?'' tanya Faira harap-harap cemas.
"Anda harus banyak bersabar Nyonya," ucap Dokter itu membuat kaki Faira lemas dia memegang erat lengan Raka.
Seketika buliran Kristal turun melewati kulit wajahnya yang putih bersih seperti pualam.
"Jangan katakan jika... ," serak Faira tidak bisa menahan kesedihannya.
"Kami sudah mencoba segala cara daya dan upaya hanya saja," ucapan dokter itu terhenti melihat ke arah Raka sembari menghela nafas.
"Hanya saja apa dok?'' teriak Faira tidak sabar mendengar kelanjutan ucapan dokter itu.