
Intan tersedak. Raka menghela nafas saja tanpa membantu.
"Intan jawab pertanyaanku. Anakku perempuan atau lelaki?"
"Anak? Kita tidak punya anak!" ucap Intan berbohong.
"Kau jangan bohong aku bahkan punya semua foto saat kau sedang mengandung, foto anak kita saat masih bayi dan saat sudah besar hanya saja tidak jelas gambarnya selalu tertutup oleh tubuhmu," rutuk Raka membuat Intan terkejut. Siapa yang mengirimkan foto itu pada Raka.
"Demi Tuhan Intan, hal itu begitu menyiksaku, aku punya seorang anak namun aku tidak pernah tahu seperti apa rupanya dan aku mempunyai kalian tetapi aku tidak menyentuhnya karena kau... entah berada di belahan bumi yang mana," ucap Raka duduk di sebelah Intan dengan satu tangan menekan pelupuk matanya keras.
"Jangan tambah penderitaanku dengan kebohonganmu lagi," pinta Raka.
Intan terdiam.
"Anggap saja dia telah tiada bagimu," katanya.
Raka tertawa keras. Dia lalu mengoyak bahu Intan dengan kasar. "Kau ingin menguji kesabaranku Intan?" Raka menyeringai sinis.
"Kau menyiksaku silahkan! Atau mau membunuhku aku rela tetapi aku tidak akan mengatakan apapun," jawab Intan.
Tangan Raka menyambar lampu meja di sebelahnya dengan kasar sehingga terjatuh ke lantai.
Prang! Pyak!
Intan hanya bisa melihatnya dengan mata nanar.
"Apa kau tidak punya hati! Memisahkan anak dari ayahnya dan seorang ayah dari anaknya?"
"Apa kau punya hati ketika melakukan sesuatunya Raka? Tidak kau selalu bertindak semaumu tanpa peduli pada orang lain. Yang kau anggap benar selalu kau lakukan. Berapa nyawa yang telah hilang karena perbuatanmu? Apakah kau memikirkan perbuatanmu itu? Kau sendiri ingin dimaafkan, tetapi apakah kau pernah mencoba untuk memaafkan seseorang! Aku selalu menjadi korban dari semua perbuatan yang kau lakukan dan aku yang membayar semuanya dengan harga mahal! Aku lelah Raka!" ucap Intan lantang.
"Aku tidak akan pernah membiarkan anakku harus membayar semua yang telah kau lakukan. Tidak, cukup aku yang jadi korbannya!"
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah, jika kau mau bunuh aku sekarang silahkan bunuh! Aku tidak takut tetapi aku tidak akan membiarkanmu bertemu anakku!"
"Intan aku tidak mengerti apa yang kau katakan!"
"Kau tidak punya hati maka tidak mengerti apa yang kukatakan!"
Raka menggelengkan kepalanya lalu pergi dari kamar itu dengan perasaan dongkol. Dia melangkah ke ruang kerjanya. Namun, sebelum itu memerintahkan pelayan yang dia lihat untuk membersihkan kamarnya.
Kenan yang melihat Tuannya masuk ke dalam ruang kerjanya lalu mengikuti majikannya masuk ke dalam ruangan itu.
Di dalam Raka sedang mengambil minuman kerasnya.
"Apa yang kau dapatkan?"
"Aku telah melihat CCTV mall itu dan melihat jika Nyonya Intan datang dengan sebuah taxi kami mencari taxi yang membawanya dan bertanya pada pengemudi taxi itu tentang Nyonya Intan. Dia menjawab telah menjemput Nyonya dari sebuah rumah sakit milik Dokter Atalarik."
"Apakah Dokter sama di tempat kemarin?''
"Anda benar, Tuan!"
"Kami meminta CCTV rumah sakit itu dengan meminta bantuan POLISI karena mereka sempat menolak pada awalnya. Di sana, kami menemui fakta bahwa Nyonya Intan itu adalah Intan Dewi, istri dari Tuan Atalarik."
Raka melempar botol di tangannya dengan keras.
"Namun, artinya Laura itu adalah anakku!"
Raka menarik rambutnya ke belakang dengan mata memerah. Dadanya terasa sesak, air mukanya terlihat sangat marah dan frustasi.
"Bagaimana bisa aku dibohongi dengan begitu mudah oleh mereka. Sebenarnya konspirasi apa yang mereka lakukan padaku!" Raka mendekati Kenan dan menarik kerah baju pria itu.
"Apa salahku pada Intan sehingga dia melakukan tindakan kejam seperti ini," ucap Raka terisak. Dirinya merasa hancur kini. Sesuatu yang telah dia tahan selama ini akhirnya meledak juga.
"Sabar Tuan, setelah bertahun-tahun kita menemukan titik terang keberadaan mereka. Hanya perlu satu langkah lagi untuk mendapatkan putri Anda kembali," kata Kenan yang mengerti perasaan Tuannya yang sedang galau.
"Cari keberadaan Dokter Atalarik dan putriku Laura sekarang!"
"Baik Tuan, saya undur diri dulu," kata Kenan lalu pergi dari ruangan itu.
Sedangkan Raka berjalan gontai kembali ke kamarnya. Sepanjang jalan dia teringat kembali pada kebersamaannya dengan Laura, senyum manis anak itu. Pipinya chubby yang menggemaskan dan juga suaranya yang cempreng. Dia baru sadar jika tingkah laku Laura mirip dengan Intan dan sebagian wajahnya mirip dengan Faira kecil yang artinya mirip dengannya. Pantas saja dia merasa familiar dengan wajah itu.
Sesampainya di kamarnya, Raka melihat pelayan telah selesai membersihkan kekacauan yang dia buat. Raka menyuruh pelayan itu untuk keluar dari ruangan itu dan mendekati Intan.
Intan memalingkan wajahnya ke samping, enggan untuk menatapnya.
"Jadi Laura itu adalah putriku?" tanya Raka tiba-tiba. Intan memejamkan matanya sejenak. Percuma saja dia terdiam karena pada kenyataannya sangat mudah bagi Raka untuk mencari informasi jika telah menemukannya.
"Kau telah sadar akan hal itu?" Intan lalu bangkit dengan menahan rasa sakit di tubuhnya dan duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"Kau kejam Intan!"
Raka menghela nafas panjang
"Jika aku kejam kau itu apa?"
"Kau telah membuat Cindy gila dan membuangnya di jalanan, membuat orang tuanya tidak bisa menemukan keberadaannya karena mereka dideportasi dari negara ini. Apakah itu sebanding dengan perpisahanmu dengan anakmu?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku bekerja di rumah sakit selama bertahun-tahun dan tahu tentang Cindy karena warga pernah ada yang menemukannya di jalanan di kota Bangka. Aku tidak mengira kau sekejam itu, melecehkan wanita dan membuangnya seperti sampah tidak berharga!"
"Dia layak mendapatkannya karena dia menghancurkan semuanya!" bela Raka. "Dan kau turut menjadi korbannya!"
"Itulah kau tidak pernah merasa bersalah atas kejehatan yang kau lakukan. Kau selalu merasa harus menang walau itu bisa membuat penderitaan bagi orang lain!"
"Dunia itu memang kejam Intan. Siapa yang kuat dia yang akan menang."
"Kau memang tidak pernah bisa berubah!"
Mendengar ucapan Intan membuat Raka menutup mulutnya erat.
"Keadaan Cindy waktu itu sangat buruk. Trauma yang dalam membuat dia berteriak dan menangis setiap malam. Dia selalu menyebut namamu dan memakiku, terkadang dia juga menyakiti dirinya sendiri sehingga rumah sakit harus mengikat tubuhnya kuat agar tidak melakukan hal gila."
"Aku merasa sangat merasa bersalah pada wanita itu dan meminta tolong pada Arik untuk mengembalikannya kepada orang tuanya. Akhirnya kami membawa dia ke negara asalnya dan menyerahkannya pada orang tuanya."
"Kau tahu, aku takut karma itu mengenai anak dalam kandunganku, sehingga hatiku tergerak membantunya sebisa mungkin."
Terdengar ******* Intan. Raka lalu menatap Intan dengan seksama. Dia tidak tahan lagi untuk bertanya tentang Dokter Atalarik.
"Lalu bagaimana bisa kau menikah dengan Dokter Arik padahal kau sendiri masih menjadi istriku?'