
Beberapa saat sebelumnya.
Faira sedang menyuapi Ello ketika pintu ruangan Evan terbuka secara tiba-tiba. Ada dua orang pria masuk ke dalam ruangan itu. Satu berumur setengah baya dan satunya lagi berumur lebih muda dari Evan. Wajah kedua pria itu hampir mirip perbedaan usia saja yang membuatnya berbeda.
Seulas senyum culas terbit dari wajah pria paruh baya itu, namun Faira bisa melihat wajah kecemasan dan ketakutan dari Hana yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Dia adalah Tuan Albert, ayah dari Tuan Evan," bisik Hana. Faira lalu berdiri merapikan bajunya, lalu memasang senyuman termanis. Dia tahu siapa yang dihadapinya dan dia mempersiapkan diri untuk ini.
Hana lalu meminta ijin untuk keluar dari tempat itu. Suasana berubah menjadi tegang dan udara terasa mendingin seketika.
"Mom, aku sudah kenyang," kata Ello. Dia lalu kembali bermain handphone yang diberikan oleh Evan padanya untuk mengusir kejenuhan.
"Iya, Sayang." Dua pria tadi melihat ke arah Ello dan bisa langsung menebak jika Ello adalah anak dari Evan.
"Hallo Tuan Albert senang berkenalan dengan Anda," sapa Faira terlebih dahulu mengulurkan tangannya.
"Senang juga berkenalan denganmu," balas Alberth. "Ini Robin anak bungsuku," imbuhnya lagi. Faira lalu menyalami Robin.
"Faira," ucap Faira memperkenalkan dirinya.
"Jadi engkau wanitanya Evan," kata Albert dengan nada setengah mengejek.
"Well, apakah itu buruk?" tanya Faira.
"Tidak hanya saja aku terkejut ketika mendengar Evan lebih memilih kau ketimbang Nona Xie Mei Lin."
"Cinta itu tidak memandang sesuatunya karena itu datang secara tiba-tiba," balas Faira.
"Oh ya, cinta aku mengenalnya. Tetapi jika kalian mencintai mengapa kalian berpisah hingga sampai anak kalian besar?" tanya Albert yang sudah terlebih dahulu mencari tahu tentang Faira.
Sejenak mata Faira memperlihatkan tentang keterkejutannya namun dia tersenyum tenang di detik kemudian.
"Takdir yang mempermainkan kami hingga sampai akhirnya kami dipertemukan kembali setelah lama berpisah," ujar Faira.
"Lalu suamimu?"
"Saya sudah bercerai dengan suami saya selama bertahun-tahun lamanya, hanya saja hal pribadi 'bukan konsumsi khalayak umum', tidak perlu di gembar-gemborkan," balas Faira dengan menggerakkan jari telunjuk dan tengah bersamaan di akhir kalimat.
Pembawaannya yang tenang membuat Albert kagum. Pantas saja jika Evan membuang Lin yang manja dan memilih wanita ini. Pikir Evan.
"Jadi dia anak diluar nikah?" pertanyaan Albert terasa menohok diri Faira. Ingin rasanya dia mencabik pria tua didepannya. "Yakin jika dia anak Evan?"
"Aku tidak pernah meminta anak Anda untuk mengakui anakku. Dia yang datang sendiri dan yakin jika Ello adalah putranya. Jika pun dia tidak mengakuinya itu tidak masalah karena selama ini aku membesarkannya sendiri. Anda tidak perlu khawatirkan masalahku ini, Sir," ucap Faira.
***
"Kau tidak apa-apa?" tanya Evan dengan suara yang khawatir. Sepeninggal Albert yang meradang karena diusir oleh anaknya keluar dari ruangan itu.
"Aku baik-baik saja," jawab Faira lalu memalingkan wajah dan menghembuskan nafas lega.
"Om, apakah kita akan tetap berada di sini atau kelaut jalan-jalan?" tanya Ello yang mulai mematikan handphonenya dan menatap Evan.
"Om, ada pekerjaan sedikit bagaimana jika kau pergi berputar mengelilingi gedung ini dengan Om Kendrick, asisten Om, kau boleh meminta apapun dengannya," kata Evan. Kendrick mengangkat dua alisnya terkejut tetapi dia lalu tersenyum penuh paksaan.
Okey, dia tidak pernah mengasuh anak kecil sebelumnya tetapi dia akan berusaha melakukan demi pekerjaan.
"Baiklah," jawab Kendrick tetapi dalam hati dia merajuk tidak ingin. Dia belum pernah mengatasi anak kecil sendirian. Sepertinya dia butuh bantuan sekretarisnya untuk menyelesaikan masalah ini.
Ello lalu pergi dengan Kendrick keluar dari ruangan itu. Faira mengikuti namun oleh Evan dicegah.
"Aku ingin berbicara denganmu?" pinta Evan membuat langkah kaki Faira terhenti. Dia membalikkan tubuh ke arah Evan dan menatap mata manik biru pria itu hal yang selama mereka bertemu kembali dia hindari. Takut tenggelam dan terlena dengan hipnotis serta aura yang keluar dari warna saphire yang terang.
"Ingin bicara masalah apalagi?"
"Apa yang ayahku katakan padamu tadi?" tanya Evan khawatir tahu dengan pasti seperti apa watak Alberth.
Faira tersenyum. "Tidak mengatakan apa-apa dia hanya terkejut melihat ada anak kecil dan aku di ruanganmu."
"Hanya itu?" tanya Evan tidak percaya.
"Terserah jika kau tidak mempercayainya," jawab Faira tenang.
"Faira, aku tahu jika aku memasukkanmu ke tengah masalah pelik. Setelah tadi aku berpikir sejenak ada baiknya jika kau mengenal kakekku terlebih dahulu setelah itu kau bisa memutuskan untuk pulang kembali ke negaramu atau ... ," Evan menelan katanya kembali. Ini terasa sulit baginya melihat Faira dan Ello yang akan menemui masalah jika tetap bersamanya.
"Atau?" Faira ingin mendengar lanjutan.
"Melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius." Evan menatap penuh harap pada Faira.
***
Jangan lupa vote, like dan komentarnya ya.
Ada juga novel bagus dari temanku kak Echa Wartuti, judulnya 'Pernikahan Beda Usia'. Mampir sembari menunggu up, bagus lho ceritanya.