Affair (Faira)

Affair (Faira)
Ada yang Berbeda



"Kalian sudah ada di Indonesia tetapi tidak menghubungiku?" tanya Raka ketika dia tiba ditempat kejadian.


"Bagaimana mau memberitahu jika Kakak menyembunyikan diri dengan istri kakak?" ujar Faira kesal.


"Itu... ," Raka terdiam tidak tahu harus menjawab apa.


"Sudahlah yang penting kita semua selamat," kata Evan. Dia adalah pria yang tidak suka pertengkaran dan permusuhan. Baginya hal itu terasa sangat menyakitkan.


"Ini tidak bisa dibiarkan kita harus mengejar pemilik truk itu. Untuk bertanya apakah ini ada unsur kesengajaan atau tidak?" kata Raka duduk di depan Faira. Mereka telah menyerahkan masalah ini pada polisi yang bertugas dan menceritakan semua kejadiannya lengkap. Setelah itu mereka memutuskan duduk dulu di salah satu warung tenda pedagang sembari menunggu hasil pemeriksaan.


"Unsur kesengajaan?" ulang Faira.


"Kau jangan berpikir macam-macam Faira," kata Evan menenangkan istrinya dan dia menatap tajam ke arah Raka. Raka sendiri melihat ke arah lain.


"Tuan ini bukannya Raka Permana yang sedang viral itu ya?" tanya seorang pedagang membawakan mereka secangkir kopi hitam.


"Viral kenapa?" tanya Faira menatap pedagang itu. Raka hanya menyugar rambutnya ke belakang sembari menundukkan kepalanya. Matilah dia. Adiknya pasti akan tahu apa yang terjadi. Ini adalah aib yang dia pun malu jika orang-orang membicarakan hal itu.


Pedagang itu melihat Raka yang menatap tajam ke arahnya. Pedagang itu lalu mengusap tengkuknya dan tertawa garing.


"Viral karena pidatonya di depan media tentang masalah negara ini," kata pria itu takut jika dia akan dipenjara oleh Raka karena membicarakan masalah ini. Pria ini bukan orang biasa dan sering jadi juru bicara yang ditunjuk oleh partainya untuk menghadapi masyarakat.


"Oh, kukira viral karena dia telah menikah?" celetuk Faira.


"Memang berita pernikahan itu benar, Tuan?" tanya para pedagang yang mengerumuni keluarga Permana itu.


Raka hanya bisa mendengus kesal dan Faira menatap kakaknya dengan tajam. Kakaknya sudah mulai berbohong padanya. Dia kecewa.


Wartawan mulai berdatangan Raka dan Faira sudah merasa tidak nyaman. Mereka lalu menyerahkan kartu nama pada para pedagang itu untuk datang ke perusahaan. Mereka akan memperoleh ganti rugi di sana.


Para pengawal memberi jalan pada mereka agar bisa melewati kerumunan dan masuk kembali ke dalam mobil.


"Sebetulnya kau menikahi siapa Kak?" desak Fakta kesal karena tidak dijawab oleh kakaknya.


"Intan," jawab Raka. "Namun baru siri kami belum meresmikannya," terang Raka.


"Jangan kau bilang dia itu Intan sepupu dari Ditya?" Raka hanya terdiam mendengar pertanyaan Faira.


"Wah, kau benci kakaknya dan telah menikahi adiknya."


"Kalian menikah sirikan? Berarti dia belum sah menjadi milikmu dan masih bisa dimiliki oleh pria lain?" ledek Faira


"Maksudmu," kata Raka menghentikan laju kendaraannya karena terkejut.


"Kalian menikah bukan secara resmi dan tidak tercatat. Jadi mudah baginya untuk meminta berpisah," kata Faira membuat takut Raka. Pria itu mulai melanjutkan perjalanannya.


"Kami akan meresmikannya setelah kau melakukan resepsi," kata Raka.


"Aku takutnya Ditya balas dendam dan melarang Intan meneruskan pernikahan ini denganmu," Faira mulai melancarkan godaannya pada Raka.


"Secara selama ini kau selalu mengejek dia karena kau adalah kakakku, sekarang statusnya berubah, kau membutuhkan restunya untuk menikahi Intan secara resmi."


"Aku tidak akan pernah melakukan ini. Yang penting Intan dan keluarganya setuju. Ditya soal lain," ujar Raka menganggap enteng masalah itu.


"Terserah. Intan adalah wanita baik-baik, dia sebenarnya tidak cocok mendapatkan pria sepertimu. Namun, aku suka jika dia yang menjadi kakak iparku karena aku sudah mengenalnya dengan baik," ucap Faira.


"Dia sangat judes sekali, Ra," ujar Raka pada Faira.


"Pantas dia selalu menjaga jarak denganku," ungkap Raka sedih teringat kata-kata wanita itu selama ini.


"Jika dia menjaga jarak denganmu lalu bagaimana kalian bisa menikah?"


"Kecelakaan, kau tahu itukan?" ujar Evan agar Raka tidak bingung menjelaskannya pada Faira.


Faira menutup mulutnya.


"Kau melakukan itu terlebih dahulu dengan Intan? Biasanya juga seperti itu tetapi mengapa kau mau bertanggung jawab dengan menikahinya ini terdengar lucu. Kau selalu dingin pada wanita dan selalu mengabaikan mereka setelah kau bosan. Apa kau telah jatuh cinta padanya?" tuduh Faira.


"Aku tidak tahu! Hanya saja aku tahu dia wanita baik yang selalu menjaga dirinya." Raka mengatakannya dengan kesal karena sedari tadi Faira selalu menyudutkannya.


"Kalau begitu kita temui kakak ipar terlebih dahulu," pinta Faira.


"Kita ke rumahku saja. Aku akan membawanya nanti. Saat ini aku ada pertemuan dengan dewan direksi."


"Memangnya kau tinggal di mana, Kak?"


"Di apartemen daerah Kuningan," jawab Raka


"Kalau begitu kita kesana saja," pinta Faira.


"Dia sedang lelah dan capai, jadi aku tidak ingin ada yang mengganggunya," ujar Raka. Mereka telah sampai ke rumah Raka.


"Kemarin kita sudah kemari hanya saja kau tidak ada lantas aku harus kembali ke rumah ayah dan melihat wajah Renata yang menyebalkan itu. Entah mengapa ayah tetap saja membiarkan wanita itu tinggal di sana," ujar Faira sengit.


"Dia sebagai penghibur ayah di saat ayah sedang sendiri. Lagi pula kita tidak bisa selalu menemani ayah sekarang. Ayah akan merasa kesepian jika tidak punya teman hidup."


"Jika seperti itu mengapa ayah tidak menikahinya?"


"Kita tidak tahu pikiran Ayah, Faira, hanya saja kita harus menghormati setiap keputusannya."


Faira terdiam. Evan memandang ke arah istrinya yang mulai sering mengomel beberapa hari ini. Semua terasa salah bagi wanita itu. Padahal, setahunya Faira adalah wanita pendiam. Ini terasa aneh.


Mereka lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Faira pergi ke kamar yang biasa ditempatinya bersama dengan Ello. Sedangkan Evan dan Raka berbincang sedikit di ruang tamu.


"Adakah yang kau curigai, Van?" tanya Raka sambil menyalakan rokoknya.


"Entahlah, pikiranku kacau, Ka," ungkap Evan. "Jika aku sendiri yang terluka maka itu tidak masalah. Namun, jika anak dan istriku yang terluka itu seperti tadi itu, membuatku hampir tidak bisa bernafas."


"Kau tenang saja aku akan memberikan penjagaan yang berlapis pada kalian." Raka menepuk bahu Evan.


"Apakah pikiran kita sama jika ini adalah?" kata Raka lalu melihat ke balkon atas takut Faira sedang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Mungkin, tetapi keluargaku masih ada di Amerika."


"Tadi aku mendapat pesan jika nomer truk yang menabrak kalian itu palsu," ucap Raka.


"Aku tidak terkejut," kata Evan.


"Aku berjanji jika sampai kalian terluka maka aku akan membunuh pelakunya," ujar Raka.


"Mereka orang yang licik Raka," kata Evan menepuk pundak Raka.


"Ini adalah negaraku dan aku tidak takut pada mereka!"