Affair (Faira)

Affair (Faira)
Mommy Faira dan Ibu Cintya



Visual Ditya



"Faira kau sudah pulang?" tanya Ditya ketika melihat Faira ada di hadapannya. Faira berdiri menatapnya lalu beranjak pergi tanpa mengatakan apapun juga.


"Mom," teriak Ello ketika melihat ibunya datang. "Mom kau pergi ke rumah kakek dan meninggalkanku."


"Maaf, Sayang, ada hal penting yang harus Mommy bicarakan pada kakekmu."


"Mom jahat meninggalkan aku sendiri," seru Ello kecewa.


"Maaf ... Maaf anak Mom jangan marah seperti itu," bujuk Faira.


Ello berlari meninggalkan Faira membuat wanita itu terpaku melihat kekecewaan di mata anaknya. Cintya yang berdiri di depan Faira hanya terdiam.


"Terima kasih karena telah mengurus anakku dengan baik, Ya," ucap Faira.


Cintya tersenyum. "Tidak apa-apa karena kita itu satu keluarga," ujarnya.


Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya terdalam dia sering merasa cemburu. Ditya selalu membawa Faira pergi kemanapun sedangkan dia berstatus istrinya namun tidak ada hak untuk mengenalkan diri di muka umum jika dia itu adalah istri sah Ditya.


Semua orang hanya tahu jika istri Ditya adalah Faira. Dirinya hanya istri kedua yang statusnya di sembunyikan walau dalam rumah itu dia punya hak yang sama. Uang dan waktu yang diberikan. Bahkan setiap malam Ditya selalu bersamanya namun semua masih terasa kurang untuknya. Dia butuh pengakuan Ditya yang mengatakan pada semua orang bahwa dia juga istrinya tanpa rasa malu.


Faira bekerja bersama Ditya setiap hari sedangkan dia hanya berada di rumah mengurus anak-anak Ditya dan mengurus rumah. Pembagian pekerjaan yang adil atau tidak dia tidak faham. Dia hanya menekan perasaan cemburunya jika melihat dua orang itu pergi bersama saat bekerja.


Sesekali Cintya pergi ke kantor Ditya namun semua orang tahunya jika dia itu adalah adik dari Ditya bukan istrinya. Sungguh ironi. Sebenarnya permainan apa yang Faira dan Ditya lakukan padanya dan dengan bodohnya dia masih bertahan walau hatinya tersakiti.


Ello memang dekat dengan Faira namun dia lebih dekat dengan Cintya karena sehari-hari yang menemani anak Faira adalah Cintya. Cintya pun tidak pernah membedakan kasih sayang antara anaknya dengan anak Faira. Begitu pula Faira dia juga memperlakukan sama anaknya dan anak Cintya mereka membesarkan anak mereka berdua bersamaan dan Ella juga Ello pun merasa bahwa mereka mempunyai dua ibu yang berbeda peran namun keduanya hebat.


"Ello pasti pergi ke rumah belakang," ucap Cintya.


"Aku akan ikut Mom kebelakang," kata Ella.


"Ella tolong bantu ibu membawakan kue ini untuk Ayah sayang," kata Cintya menahan Ella agar tidak mengikuti Faira dia ingin membuat ruang antara Faira dan Ello.


Faira lalu berjalan masuk ke paviliun yang terletak di belakang rumah. Paviliun itu sengaja dibuat untuk membuat ruang tersendiri bagi Cintya mengeluarkan hobi lukis. Di sana beberapa lukisan hasil karyanya di pajang dan ada juga lukisan yang belum jadi. Faira yang mengusulkan hal ini pada Ditya dan disambut dengan baik oleh Ditya.


Ello sangat suka berlama-lama di ruangan itu mencorat-coret kertas dengan banyak warna. Setahu Faira dirinya tidak hobi melukis tetapi coretan tangan Ello memperlihatkan bakat yang muncul dari diri anak itu.


"Ello," panggil Faira sembari masuk ke dalam rumah itu. Tidak ada sahutan. Faira melihat ke seluruh pojok ruangan mencari keberadaan Ello.


"Dia melihat Ello sedang bersembunyi di belakang kursi kayu jati yang panjang menekuk kaki ke depan dada dan menyembunyikan wajahnya ke dalam lutut.


"Ello," panggil Faira lirih melihat anaknya yang sedang menangis. Faira lalu duduk berjongkok di sebelah anaknya.


"Maafkan Mom karena meninggalkanmu," pinta Faira.


"Maaf!"


"Mom selalu mengatakan maaf tetapi lagi-lagi Mom meninggalkanku sendiri," kata Ello tersedu-sedu.


Faira tidak bisa mengatakan apa-apa dia hanya bisa memeluk anaknya erat.


"Mom tidak akan meninggalkanmu lagi.Mom janji." Faira memang merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan sering meninggalkan Ello di rumah. Cintya memang memberi perhatian pada Ello tetapi tetap saja terasa berbeda bagi anak itu.


Ello bisa dibujuk kali ini tapi dia tidak tahu dengan lain kali. Seharian ini dia menemani Ello bermain di rumah bersama Cintya. Dia terlihat sangat bahagia. Sedangkan Ditya pergi bekerja sendiri ke kantor.


"Apa sebaiknya aku harus mengurangi pekerjaanku di kantor Cintya?" tanya Faira pada madunya.


"Itu pilihanmu Faira, aku tidak bisa memberi masukan," jawab Cintya bijak.


Faira menghela nafas panjang dan melihat Ello yang terlihat riang bersama Ella. Dia bertingkah sangat manja jika Faira ada di rumah.


"Tetapi saat ini Ello memang terlihat membutuhkan perhatian lebih darimu," lanjut Cintya. Faira melihat ke arahnya.


"Kau terlihat sangat sibuk pergi ke sana kemari bersama Ditya dan sering meninggalkan Ello sendiri. Walau Ello bersamaku tetapi akan sangat berbeda ketika dia bersama kau ibu, kandungnya."


"Akhir-akhir ini pekerjaan kantor memang sangat menguras energi dan waktuku. Aku akui sulit sekali mempunyai waktu eksklusif untuk Ello. Saat aku pulang dia sudah lelah baru sebentar kami bertemu dia pergi tidur pagi harinya aku harus kembali lagi berangkat kerja. Terkadang seperti semalam pertemuan dengan relasi bisnis membuat waktuku bersama Ello banyak yang terlewatkan."


"Bukan aku iri tetapi sedikit kurangi waktumu di kantor dan sesekali temani Ello ke sekolah atau bermain di rumah."


"Aku ingin, hanya saja aku tidak bisa!"


"Kenapa?" tanya Cintya tidak mengerti.


Karena wajah Ello mengingatkannya pada sosok Evan. Mata Ello sama dengan mata Evan membuat hatinya sakit bila memandangnya terus menerus. Walau dia sangat mencintai anaknya tetapi dia tidak bisa terus menerus terpuruk dalam masa lalu yang menyakiti hatinya dan sempat membuat jiwanya tertekan.


Ditya yang mengajaknya bekerja agar dia tidak fokus memikirkan Evan terus menerus. Dia butuh pelarian dan itu adalah pekerjaannya.


"Mom, Ella ingin sekali pergi ke rumah Om Raka," kata Ello. Faira lalu melihat ke arah Cintya.


"Sayang kita tidak bisa ke rumah Om Raka saat ini karena Om Raka sedang ada di luar negeri," kata Faira berbohong tidak ingin menyakiti hati Ella dan Cintya dengan penolakannya. Raka pasti tidak ingin jika anak Cintya datang ke rumahnya. Bagi Raka, Cintya dan Ditya itu sama-sama biang penderitaan Faira.


"Sayang sekali karena aku ingin mengajaknya ikut kesana Mom," kata Ello.


"Nyonya ada telepon dari Bapak," kata pelayan tiba-tiba.


Faira lalu menjawab telepon itu sembari melihat ke arah Cintya.


"Faira akhirnya kita bisa bekerjasama dengan Mountain Inc. Mereka ingin melihat proposal kerja kita. Kau harus mempersiapkannya untuk pertemuan esok hari." Terang Ditya lewat sambungan telepon. Tubuh Faira membeku seketika.