Affair (Faira)

Affair (Faira)
Hanya Milikku



Faira melihat gelagat genit seorang wanita pada Evan yang juga melihat sinis kepadanya. Seperti sedang menilainya jijik dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


Rasa-rasanya wanita itu mencoba bermain api. Jika lima tahun lalu mungkin dia akan terdiam ketika ditindas oleh orang namun masalah yang datang menerpa membuat dirinya terbiasa untuk bertahan di tengah goncangan hidup yang makin membelit.


Walau hanya masih memakai baju tidur, Faira dengan percaya diri mendekati wanita itu dan Evan. Bukan karena cemburu tetapi ingin memberi pelajaran wanita yang terlihat seperti merendahkannya.


"Di mana anak kita?" tanya Faira pada Evan.


Mendengar kata 'Kita' membuat Evan terkesiap. Dia seperti merasa terbang ke langit ke tuju. Faira sudah mengakui terang di depan orang bahwa Ello adalah anaknya. Semoga ini awal yang baik dan kata 'kita' tidak pernah hilang dari keduanya.


"Ello," gumam Evan yang masih belum sadar, dia lalu menengok ke kanan dan ke kiri dan baru sadar jika anaknya sedang ke lantai atas.


"Oh, dia bersama salah seorang pelayan mencari baju dan pernak pernik kesukaannya," jawab Evan.


Sedangkan Faira merasa senang melihat wajah terkejut wanita di sebelahnya begitu mendengar kata anak kita. Skak mat untuk ulet keket itu, memperlihatkan kedudukannya tinggi di samping Evan.


"Kalau begitu aku akan meneruskan memilih beberapa baju lagi, kau siapkan saja budget besar untukku habiskan," lanjut Faira sembari mengusap dada Evan. Senyum Faira membuat Evan tercengang.


"Milikku adalah milikmu juga," jawab Evan dengan jantung yang nyaris copot karena mendapat sentuhan Faira.


Faira berjalan melewati si ulet keket dengan menyenggol bahunya. Tania merasa kesabarannya hilang seketika.


"OPS, sorry," ucap Faira tersenyum lalu kembali lagi memilih baju. Tania, yang tadi mengejek Faira kini hanya bisa membuka mulutnya lebar tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Dia telah bertahun-tahun mendekati Evan tidak sekalipun diberi lampu kuning apalagi hijau untuk menyentuhnya sedangkan wanita itu mempunya anak dari pria ini? Kepalanya terasa pening. Dia harus mengatakan hal ini pada Lin.


Lin adalah temannya. Walaupun teman, dalam hal merebut pria bukan masalah. Ini Amerika, semua orang bisa bergerak bebas melakukan apa yang dia mau.


Sedangkan Faira benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Dia memilih beberapa baju memamerkannya pada Evan. Dia tidak berniat melakukan itu, namun melihat tingkah wanita di sebelah Evan yang terus menempel padanya membuat hati Faira panas. Dia akan membuktikan jika pandangan Evan hanya tertuju padanya bukan pada wanita itu karena sudah berani merendahkannya.


Evan terlihat risih ketika model cantik bernama Tania terus saja menempel padanya. Ini adalah waktunya bersama Faira dan dia tidak akan menyia-nyiakan tetapi jika begini maka wanita itu malah akan semakin membencinya.


Mata Evan membelalak ketika melihat Faira mengambil sebuah gaun pendek yang hampir memperlihatkan seluruh tubuhnya, punggung yang terbuka dan dada yang sangat turun. Panjangnya itu tidak lebih dari menutupi aset intinya saja yang pasti akan memperlihatkan seluruh kakinya yang cantik dan panjang.


"Ini akan bagus digunakan ke klub bukan?" tanya Faira pada pelayan itu.


"Ya, Anda akan tampak luar biasa memakainya." Faira lantas masuk ke dalam kamar ganti mencoba gaun itu.


"Bisa bercinta tanpa melepaskannya," ucap Faira terkekeh dengan sedikit keras agar Tania mendengarkannya.


"Kau nakal jika menggunakan ini," katanya pada diri sendiri.


"Ya, kau sangat nakal menggunakan itu," kata Evan masuk ke dalam ruangan itu. Faira terkejut tetapi tangan kekar pria itu memeluk Faira dari belakang.


"Apa katamu bercinta tanpa melepaskannya? Apa kau ingin menggodaku?" bisik Evan di telinga Faira hingga membuat bulu kuduk Faira meremang semuanya. Kakinya merasa lemas hingga dia merasa tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.


"Aku hanya ingin membawanya pulang dan menggoda pasanganku apakah itu salah. Yang tidak benar adalah kau memeluk wanita yang menjadi istri orang," ucap Faira tegas. Namun dadanya berdetak dengan kerasnya.


Tatapan mereka bertemu di cermin. Evan terlihat geram mendengar ucapan Faira namun dia masih menahan dirinya.


"Kau masih Fairaku, aku bahkan masih bisa merasakan detak jantungmu berdebar keras untukku," ucap Evan membuat wajah Faira pias seketika.


Seketika bibir Evan yang panas menyentuh kulit leher Faira membuat wanita itu seperti mati berdiri. Tangan pria itu mengusap pelan pinggangnya. Sedangkan panas tubuh pria itu terasa di punggung Faira. Dia ingin melawan tetapi tubuhnya enggan untuk bergerak.


Setelah memberi tanda merah di tengkuk wanita itu Evan menghentikannya.


"Jangan berusaha menggodaku, Faira. Jika kau menggunakan pakaian itu aku bersungguh-sungguh kita akan melakukan itu tanpa melepaskan gaunnya. Ini Amerika Faira dan semua orang bebas berbuat apapun asal suka sama suka," bisik Evan lalu menggigit kecil telinga wanita itu dan meninggalkan Faira sendiri di ruangan itu.


Sepeninggal Evan Faira tidak bisa lagi menhan bobot tubuhnya dia lalu menumpu tangannya di tembok dan mengatur nafasnya.


Wajahnya terasa panas dan memerah. Sudah lima tahun berlangsung namun sentuhan pria itu tetap mampu membuat tubuhnya bereaksi berlebih. Dia tidak bisa mengendalikan diri jika pria itu ada di dekatnya.


Faira mengusap wajahnya kasar lalu melepaskan gaun itu dan memilih baju casual yang tadi diambilnya untuk digunakan.


Sebuah kaos hitam dan celana denim dia lalu memakai sepatu kets yang dianggap nyaman.


Dia keluar dari ruang ganti itu dengan membawa semua barang yang dia pilih. Sedangkan Ello sudah selesai memilih apa saja yang diinginkannya.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Evan. Faira lalu menganggukkan kepalanya. Pria itu mulai membayarkan semua barang belanjaannya. Entah berapa jumlahnya Faira tidak peduli. Pria itu meminta pada pemilik butik untuk mengantarkan baju itu ke apartemen miliknya. Sedangkan mereka hanya membawa dua paper bag berisi pakaian yang di ambil oleh Ello karena anak itu memaksa untuk membawanya sendiri.


Tangan Evan meraih tangan Faira dan membawanya keluar membuat wanita itu terkejut tetapi merasakan kuatnya genggaman itu membuat Faira tidak menolaknya. Dia tidak ingin membuat keributan di depan semua orang.


Sedangkan Ello sudah berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya. Anak itu sangat bersemangat hari ini, Faira bisa merasakannya karena dia terus berceloteh dari tadi.



Gambar ini author carinya sampai pusing, mencari bentuk tubuh yang sama, kecil untuk si wanita dan tinggi besar untuk cowoknya.


Bukankah diceritakan dari awal jika Evan sudah mempunyai tatto. Kini tatonya bertambah banyak hingga ke tangannya. Pekerjaan author adalah halu jadi halunya tingkat keterlaluan ini. Siapa Evan asli belum ketahuannya ya, baru sedikit yang diceritakan. Masih misteri.


***


Ello memperhatikan Evan yang menggenggam tangan Faira erat.


Anak itu lalu melipat tangannya di dada sesampainya mereka di dekat mobil, melihat dua orang ini dengan tatapan tajam memperlihatkan ketidak sukaannya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Evan tanpa rasa bersalah masih tetap memegang tangan Faira.


"Kenapa Om memegang tangan Mom?" cecar Ello dengan wajah di tekuk.


"Memang tidak boleh?" tanya Evan tanpa melepaskan genggaman tangan itu. Ingin tahu reaksi Ello nanti.


"Tidak! Hanya aku yang boleh melakukannya. Mom hanya milikku!" jawab Ello jelas. Faira ingin melepaskan itu tetapi genggaman itu terasa semakin keras.


"Apakah orang lain tidak ada yang boleh menggenggamnya?" tanya Evan sembari memperlihatkan kedua tangan mereka yang bersatu.


"Tidak ada," kata Ello mendekat hendak melepaskan tangan Evan dari tangan Faira.


"Bagaimana dengan ayahmu apakah dia pernah menggenggamnya?'' tanya Evan. Anak kecil itu jujur. Dia ingin mengorek hubungan Faira dan Ditya dari mulut Ello.


***


Authornya lagi g konsen beberapa hari ini jadi kalau aneh kata-katanya, maaf.