
Untung saja pesawat yang mereka naiki adalah pesawat sewaaan yang akan membawa mereka terbang ke bandara Halim Perdanakusuma dari sana penerbangan akan dilanjut dengan pesawat jet milik Evan yang di siapkan khusus untuk mereka.
Setelah sampai di bandara Halim Perdanakusuma Kusuma dan setelah melalui berbagai pemeriksaan akhirnya Raka dan Intan pergi menuju pesawat jet milik Evan.
Intan yang baru pernah menaiki pesawat jet berdecak kagum melihatnya. Dia mengambil handphone dan foto di depan badan pesawat. Dia tidak malu dikatakan kampungan kenyataannya dia bangga jadi orang kampung.
"Ini milik calon suami adikmu?" tanya Intan tidak percaya.
Raka malas untuk meladeni pertanyaan berulang dan tidak perlu dari Intan, dia langsung masuk ke dalam badan pesawat. Intan yang melihat memanggil nama Raja dan berlari mengikutinya.
Langkah kaki Raka terhenti ketika melihat seseorang di dalam pesawat
"Kau," kata Raka sebal ketika melihat Ditya dan Cintya. Dua orang itu hanya melihat datar pada Raka. Mereka sangat tahu perangai Raka yang akan mengejek atau menghina setiap kali bertemu mereka.
"Kak Ditya," teriak Intan dari belakangnya. Ditya berdiri dan tersenyum, sedangkan Intan berlari kearah Ditya, lalu memeluk kencang bahkan hingga tubuhnya terangkat.
"Sial! Ada hubungan apa mereka?" rutuk Raka dalam hati.
"Aku sangat merindukanmu," ujar Intan. Dia lalu menoleh pada Cintya yang sedang memangku Ella. "Hai, Kak ipar," sapanya pada Cintya.
"Hai, adik manis," jawab Cintya.
Intan mencium pipi Cintya lalu bergantian mencium Ella, "Oh, ponakan Tante masih tertidur. Nanti Tante goda kalau sudah bangun," ucap Intan gemas.
"Kau ini sukanya membuat Ella menangis," ujar Ditya menjewer telinga Intan.
"Aww, sakit Kak!" teriak Intan.
"Mana kembaran bulenya?" tanya Intan pada Ditya serta Cintya. Dua orang itu lantas saling pandang.
Intan lalu melihat ke arah Raka. "Jangan bilang jika Faira adiknya Raka adalah Kakak ipar pertama?"
"Ya Tuhan. Bagaimana itu bisa terjadi?" lanjutnya sembari memegang kedua pipinya.
Ditya melihat ke arah Raka.
"Kau pun bagaimana bisa mengenalnya dan maunya berhubungan dengannya?" tanya Ditya tidak senang.
Intan menyipitkan mata menoleh ke arah Raka dan menatap tajam.
"Dia menjebakku dalam situasi ini," tunjuk Intan pada Raka. Sedangkan pria itu menghembuskan nafas keras lalu memilih duduk melihat drama apa lagi yang akan terjadi. Dia tidak tahu jika Evan mengundang Ditya dan keluarganya. Membuatnya merasa malas satu pesawat dengan mereka.
Raka bahkan tidak tahu jika Intan adalah adik Ditya, tetapi orang tua Ditya bukan orang tua Intan. Intan adalah anak bungsu, satu kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal di Malaysia.
Belum juga Ditya bertanya lebih lanjut, Ardianto masuk ke dalam pesawat.
"Oh, kalian sudah berada di sini?" tanya pria itu lalu memilih tempat duduk sendiri.
"Om," panggil Intan pada Ardianto.
"Panggil aku Ayah," katanya sembari mengusap kepala Intan.
Intan tersenyum malu, "Maaf aku lupa.''
"Ditya, kau ikut juga bersama kami," tanya Ardianto.
"Iya, Pak. Evan yang mengundangku secara pribadi dan aku tidak enak menolaknya."
"Dia pasti punya alasan mengapa ingin kau menghadiri pernikahan putriku."
Ditya menganggukkan kepalanya.
Pramugari segera menutup pintu pesawat dan memberi tahu pada semua awal pesawat jika pesawat akan terbang sebentar lagi. Para penumpang diharap memakai sabuk pengaman.
Raka lalu menarik Intan duduk di dekatnya.
"Kau itu kasar sekali," omel Intan. "Mana ada wanita yang mau menikahi pria kasar sepertimu."
"Ish, itulah bodohnya diriku. Lagi pula ini hanya pernikahan sandiwara, aku akan mencari pria yang lebih baik darimu."
"Tidak ada yang sepertiku kemanapun kau mencarinya," ujar Raka penuh percaya diri.
Intan menatap tajam ke arah Raka. "Percaya diri sekali, aku yakin jika ada pria yang melebihi dirimu, walau tidak sekaya dirimu tetapi dia punya adab yang baik, yang menghormati wanita, yang memuja mereka, eh bukan mereka, tetapi pasangannya," Ralat Intan. "Yang mencintaiku apa adanya dan mencintaiku melebihi cintaku padanya."
"Kau itu egois sekali, mau dipuja, mau dicintai tetapi tidak mau mencintai dengan besar? Lihat dulu kelakuanmu pada suamimu, tidak menghormati, tidak menurut, mana ada yang mau menikahimu nanti. Para pria itu akan takut jika kau bertindak seperti ini pada mereka."
Intan meniup keras rambut yang ada di depannya.
"Pernikahan ini hanya sandiwara kan dan aku tidak ingin bersandiwara menjadi istri yang baik untukmu. Kau pun tidak perlu bersandiwara untuk menjadi suami yang baik untukku. Kau boleh pergi mencari wanita lain untuk kau ajak tidur karena aku tidak ingin kau sentuh lagi seperti semalam."
"Aku berhak melakukannya karena kau itu istriku, dan kau juga harus memberikan hakku," jawab Raka.
"Ish menyebalkan!" ujar Intan sewot, lalu terdiam. Untuk sesaat mereka tidak bicara sama sekali.
"Apa hubunganmu dengan Ditya?" tanya Raka tiba-tiba dengan nada tidak senang.
"Ayah itu tiga bersaudara dan ayah adalah anak tertua. Ibu Ditya adalah adik ayah nomer dua dan Bibi Hana adalah adik ayah nomer tiga. Jadi Kak Ditya itu adalah kakak sepupuku. Karena kak Ditya itu adalah tunggal maka dia sangat sayang padaku, karena aku adalah adiknya paling cantik, imut dan ... ."
"Cerewet serta menyebalkan," potong Raka.
"Kau itu tidak mengenalku, jika tahu siapa aku kau akan jatuh cinta."
"Pacarmu saja meninggalkanmu. Sedangkan aku tidak pernah ditinggalkan wanita karena aku yang mengusir mereka terlebih dahulu," kata Raka.
Intan lalu menundukkan wajahnya. Air mukanya yang tadinya riang kini berubah seratus delapan puluh derajat. Teringat pada pengkhianatan Bram.
"Kau benar, aku hanya memiliki satu kekasih dan dia meninggalkanku." Intan lalu menyeka air matanya yang terlanjur keluar.
Demi langit dan apa yang ada di sana, Raka tidak suka melihat Intan menangis. Namun, rasa gengsi yang bersemayam dalam dadanya melarang untuk meminta maaf atau sekedar menenangkannya.
"Intan," panggil Ditya dari belakang kursi wanita itu.
Intan yang duduk di belakang langsung menoleh. Ditya mengajak Intan untuk duduk di belakang dan berbicara. Intan menurut tanpa melihat ke arah Raka yang bermuka masam.
Dari semua orang kenapa harus Ditya yang jadi kakak Intan? Padahal demi apapun Raka sangat membenci pria itu. Untung saja ini hanya pernikahan karena kesepakatan jadi dia tidak perlu restu dari Ditya.
Setelah dua orang itu duduk di belakang mereka mulai berbicara. Ditya bertanya pada Intan bagaimana bisa dia terlibat skandal dengan Raka.
Intan lalu bercerita panjang lebar tentang apa yang terjadi sehingga Ditya terlihat kesal pada Raka karena telah menjebak adiknya dalam situasi ini. Ditya tahu benar sifat Raka yang akan menggunakan segala cara agar keinginannya bisa tercapai. Bahkan dia mengorbankan masa depan adiknya demi keuntungan pribadi.
"Jadi kau akan menikah dengannya secara resmi?" tanya Ditya. Intan menganggukkan kepalanya.
"Aku harus bagaimana Kakak? Bram meninggalkanku dan aku tidak bisa bercerita jika rencana pernikahan kami batal pada orang tuaku. Karena Pak e dan Mak sangat menunggu momen itu. Setelah itu, masalah ini datang, kami melakukan hal ini, dan kabar buruknya Raka sudah diterima baik di keluarga bahkan di masyarakat. Kakak bisa bayangkan apa yang terjadi, jika aku tidak menikah dengannya? Pak e sama Mak bisa hancur hatinya. Aku tidak mau melihat mereka marah lagi."
Ditya menghela nafas dan melihat ke arah kursi Raka.
"Dia pria berbahaya Intan," ujar Ditya.
"Aku tahu," ungkap Intan lesu. "Ini hanya pernikahan kesepakatan dan dia berjanji akan membantuku menemukan seorang pria yang baik untuk menikah denganku kelak."
"Aku tidak yakin," kata Ditya.
"Kenapa?"
"Kau bisa saja jatuh cinta padanya terlebih dahulu sebelum kau menemukan pasangan yang tepat . Sayangnya, kau hanya akan hidup menderita jika bersamanya. Kau akan dibuang setelah dia bosan padamu."
"Ha ... ha ... setidaknya aku jadi janda kaya karena mendapatkan harta gono gini darinya," gurau Intan. Tetapi mendapat sentilan dari Raka.
"Aww sakit, Kak," ujar Intan memegang dahinya yang sakit.
"Pernikahan itu bukan sebuah permainan
Harus di perjuangkan hingga titik darah penghabisan. Jangan sepertiku yang pernah merasakan sakitnya gagal dalam pernikahan dan menyesalinya kemudian."