Affair (Faira)

Affair (Faira)
Harapan



Evan duduk diatas kursi roda ketika datang ke pemakaman Albert dan Robin. Kakek Antonio berdiri saja dari acara dimulai sampai selesai. Dia tidak mengatakan apapun. Tidak pula terlihat sedih.


Sedangkan Lisa terlihat paling terpukul dia berteriak keras ketika potongan mayat Robin dimasukkan ke liang lahat. Bertindak seperti orang kesurupan, marah pada Evan dan hampir melukainya untung pengawal yang berjaga langsung mengamankannya. Sedangkan Bibi Marry terlihat tenang. Mungkin setelah ini hidupnya bisa damai dan bahagia. Alberth telah menyiksa jiwa dan batinnya selama puluhan tahun. Menekan dan mengancamnya selama ini. Hingga dia takut untuk melangkah mencari kebahagiaannya sendiri.


"Semoga surga menolakmu dan api neraka menarikmu dalam pelukannya," batin Marry.


Acara pemakaman itu telah selesai. Faira dan Evan beranjak dari tempat itu. Antonio di papah oleh Bibi Marry berjalan menuju mobil mereka.


"Setelah ini apa yang akan kalian lakukan? Tanya Ardianto.


Evan melihat ke arah Faira. "Jika boleh aku ingin membawanya kembali ke negaraku."


"Kau tidak perlu meminta ijinku karena kau adalah suaminya. Semua keputusan ada ditangan kalian," ucap Ardianto.


"Tapi hari ini kalian kembali lagi saja ke rumah kita, Faira. Aku ingin bersama kalian," perintah Ardianto.


"Baik, Yah," kata Faira.


"Dimana Kak Raka Yah?" tanya Faira.


"Entah dia sedang kemana, ayah juga kurang tahu," kata Ardianto. Dia lalu menghela nafas memikirkan masalah yang Raka alami.


"Sebaiknya kita kembali ke rumah," kata Ardianto.


"Kakek, kita kembali ke rumah saya jika Anda berkenan," kata Ardianto pada Kakek Antony. "Kita bisa saling mengenal lebih dalam sampai keadaan Evan membaik untuk menempuh perjalanan panjang."


Antony hanya terdiam. Semenjak kabar meninggalnya Alberth Kakek lebih banyak melamun.


"Baiklah jika kau memaksa," jawab Marry sopan sembari tersenyum manis.


***


Faira menata tempat tidur untuk Evan ketika mereka sudah berada di rumah ayahnya. Sebenarnya Faira enggan untuk tinggal di sini karena keberadaan Renata istri siri ayahnya namun dia begitu terkejut karena Renata ternyata sudah pergi setelah acara pernikahannya.


Sewaktu sedang terjadi pengecekan semua sisi TV di hotel ini ayah tidak sengaja melihat Renata sedang berciuman dengan artis lain sehingga membuat ayah murka. Dia lalu mengusir Renata dari rumah ini. Padahal walau wanita itu menyebalkan Faira senang mendapati ayahnya ada yang mengurusnya. Namun, jika wanita itu hanya memanfaatkan ayahnya saja Faira lebih suka dia pergi sejauh mungkin dari ayahnya.


Setelah sudah siap tempat Evan untuk berbaring Evan berdiri dan berjalan ke sana sembari berbaring.


"Apakah kepalamu masih sakit?" tanya Faira khawatir.


"Sedikit tapi jika kau ada di dekatku itu akan membaik," ucap Evan.


"Kau sakit tetapi masih saja suka membual."


Evan lalu memegang tangan Faira. "Itu memang kenyataannya. Tanganmu itu ajaib membuat rasa sakit ini berkurang ketika kau menyentuhnya.


Faira lalu duduk di sebelah Evan dan menyentuh pipinya lembut. Menatap dengan penuh cinta. "Bukan karena tanganku yang ajaib tetapi karena merasa tenang dan nyaman jika aku ada."


"Mungkin," ujar Evan. Faira lalu bangkit lagi.


"Duduk di sini saja temani aku," kata Evan.


"Evan kau harus makan tepat waktu. Agar kau cepat sehat dan pulih kembali seperti sedia kala. Untuk itu aku akan menyiapkannya. Kau belum bisa makan sembarangan harus dengan menu anjuran dokter," kata Faira.


"Aku beruntung memiliki istri sepertimu," kata Evan.


"Kau sangat sering mengatakannya. Kini giliran aku yang mengatakan jika aku beruntung memiliki suami sepertimu," ungkap Faira mencium kening Evan.


"Aku begitu takut kau meninggalkanku ketika melihat kau terkapar tidak berdaya di atasku. Namun, aku bersyukur kau masih diberi kesempatan lagi untuk hidup, untuk menemaniku hingga kita tua dan mati," kata Faira memeluk Evan.


"Aku kembali karena teringat akan janjiku padamu untuk menemanimu selalu. Jika kau ingin aku melepaskan perusahaanku agar aku selalu berada di sisimu, aku akan melakukannya," ungkap Evan.


"Jangan, nanti Kak Raka akan mengejekku," kata Faira yang trauma mendengar ejekan Raka pada Ditya.


"Lho!"


"Sudah jangan dibahas lagi. Selama ini Kak Raka ingin aku punya suami yang lebih dari dia jika kau keluar dari perusahaanmu maka tidak ada kebangganku," ungkap Faira.


"Karena itu dia selalu menggerutu tentang mantan suamimu?"


"Ya, seperti itu. Dia terkadang memang menyebalkan karena terlalu posesif padaku."


"Karena dia menyayangimu," lanjut Evan.


"Ya, dia sangat menyayangiku hingga dia berpikir dia tidak bisa mencintai wanita karena cintanya sudah diberikan padaku semuanya," kata Faira.


"Dia hanya belum menemukan cintanya," ujar Evan.


"Semoga saja, aku lelah melihat dia gonta ganti wanita terus. Istri yang bisa mendampinginya itu harus wanita tegas yang galak pada kakakku agar kakak tidak berani main wanita lagi." Evan yang mendengar hal itu menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang berani pada kakakmu, sepertinya tidak ada, semua takluk padanya," kata Evan. Dia tahu benar dengan sifat Raka yang tidak pernah mau kalah dengan siapapun. Dia selalu mendominasi. Berpikir ada wanita yang bisa menaklukkannya itu terdengar mustahil. Yang ada wanita itu yang akan menyembah cinta pada Raka.


"Lihat saja pasti ada yang seperti itu."


"Aku penasaran dengan wanita itu. Jika tidak ada bisa-bisa kakakmu akan membujang seumur hidupnya."


"Nah, itu yang kutakutkan. Apapun wanita itu, entah kaya tau miskin, entah cantik atau tidak, tidak tahu dari mana asalnya, jika dia baik dan setia aku akan menerimanya jadi kakak ipar ku."


"Kau terlihat sangat ingin melihat kakakmu menikah," kata Evan.


"Sangat, aku ingin dia merasakan kebahagiaan yang kita rasakan. Mempunyai keluarga utuh yang mencintainya."


Evan menganggukkan kepalanya.


"Semoga saja, kita hanya bisa berdoa."