Affair (Faira)

Affair (Faira)
Buaya Buntung



Raka menyentil kening Intan membuat gadis itu mengusap keningnya yang sakit.


"Jangan berpikir macam-macam aku hanya ingin kau antar keluar dari tempat ini."


Dia mencibir dan berjalan ke arah tempat tidurnya. Pria ini membuat dia kehilangan privasi. Bahkan dengan mudah dia masuk ke dalam kamarnya tanpa dia perbolehkan.


Intan yang lelah karena pertengkaran mereka semenjak tadi duduk dengan tenang mengambil nafas.


"Aku akan membayarmu," kata Raka. Melihat ke sekeliling kamar Intan. Matanya tertuju pada banyaknya jenis produk perawatan wajah. Bukan aneka make up. Dia sudah bisa menilai jika wanita itu lebih suka tampil natural apa adanya tanpa make up tebal.


"Memang aku tukang ojek," jawab Intan.


"Dengan perawatan mahal menggantikan perawatan yang gagal kau lakukan tadi!"


Intan menyipitkan matanya sembari berpikir sejenak.


"Dari ujung kuku hingga ujung rambut?"


"Ya, tapi keluarkan aku dari tempat ini."


"Kita akan kemana?"


"Ke rumah ayahku," kata Raka.


Wajah Intan berubah menjadi pias dia ketakutan. "Aku tidak mau."


"Bukan seperti yang kau pikirkan. Ayah hanya ingin membahas masalah yang menjadi perbincangan publik sekarang. Sedikit banyak itu akan membuat posisinya tidak aman di dunia politik."


Intan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah tunggu lima belas menit lagi, aku harus bersiap," kata Intan.


"Sekarang, aku sedang tidak punya waktu,"


"Sepuluh menit atau tidak sama sekali!" kata Intan tegas dengan sikap menantang.


"Baiklah kau menang," kata Raka.


"Satu lagi, setelah ini jauh-jauhlah dari hidupku!" ujar Intan.


Raka tersenyum licik. "Aku tidak janji," ucapnya sambil berlari keluar kamar ketika Intan mengambil bantal dan akan melemparkannya ke arah Raka.


Intan keluar dari kamarnya dengan menggunakan daster yang ditutup oleh jaket. Dia juga mengucir asal rambutnya yang panjang. Sandal japit tersemat di kedua kakinya yang putih dan langsing.


Ini jauh dari ekspektasinya. Dia kira Intan akan berdandan cantik tetapi dia malah berdandan layaknya seorang pelayan dari desa. Pelayan di rumahnya saja terlihat rapi dengan seragam yang melekat di tubuh mereka.


"Kau," Raka menaikkan satu alisnya ke atas. Intan dengan cuek pergi ke dapur lalu kembali lagi dengan tas belanja yang besar.


"Pegang ini," kata Intan.


Raka menurut. Wanita itu lalu mengambil sebuah helm bergambar love berwarna pink yang besar di sematkan di kepala Raka. Menggelikan.


"Kenapa aku harus mengenakan ini?"


"Sudah diam, ikuti saja aku," kata Intan menutup kaca helm Raka. Dia lalu mengambil helm bergambar hello Kitty untuk dirinya sendiri. Mereka keluar dari rumah itu bersamaan. Intan mengunci pintu rumah.


"Aku yang didepan kau dibelakang memegang tas itu," perintah Intan.


Wartawan yang tadi mengejar Raka ke belakang rumah Intan nampak memerhatikan kepergian mereka. Dia seperti sedang menebak sesuatu.


Motor mulai dinyalakan dan keduanya pergi dari tempat itu tanpa meninggalkan kecurigaan. Intan bahkan menyingkirkan wartawan yang menghalau jalan mereka.


"Minggir, minggir inem mau belanja," teriaknya.


Ckrek! Sebuah foto diambil ketika itu sedang terjadi.


"Kenapa kau ingin kita ikuti dua orang itu?" kata teman wartawan itu.


"Hatiku menebak jika yang dibelakang adalah Raka Permana," kata wartawan itu.


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Kau benar," jawab asistennya.


"Biar aku saja yang di depan," pinta Raka. Intan lalu meminggirkan motornya dan pindah ke belakang.


"Pegangan," kata Raka pada Intan. "Aku tidak mau kau jatuh."


Benar saja Raka melajukan kendaraannya di tas rata-rata membuat Intan mau tidak mau memeluk pinggangnya sembari mengomel sepanjang perjalanan.


"Kau itu mau membuat mati kita berdua dengan mengendarai motor seperti orang kesetanan," teriak Intan. Wajahnya kerap kali disembunyikan di punggung Raka ketika Raka menyalip kendaraan besar di depannya."


"Hentikan! Aku belum kau mati karena masih ingin punya suami yang kaya dan anak yang lucu," teriak Intan tapi tidak dipedulikan oleh Raka hingga mereka sampai di ujung jalan rumah Ayah Raka.


Raka mulai memelankan kendaraannya melewati wartawan yang sedang berjaga di depan rumah. Pria itu turun dari kendaraan dan mengetuk pintu gerbang yang tertutup rapat. Penjaga membuka lubang sedikit untuk melihat siapa yang datang. Raka mendekat.


"Buka pintunya!" ucap Raka pelan. Penjaga itu langsung mengenali suara tuannya.


Seketika gerbang di buka sedikit. Raka kembali naik motornya dan masuk ke dalam. Setelah gerbang ditutup Raka dan Intan turun dari motor. Intan yang gemetar membonceng Raka langsung duduk lemas di lantai.


"Kau hampir saja membuat kita mati," cetus Intan. Raka lalu berjongkok dan melepas helm Intan.


"Kau masih hidup dan bisa menikah lalu punya anak-anak yang lucu."


"Raka kau sudah datang!" panggil Ardianto yang baru keluar dari rumah. "Siapa dia?"


Intan yang pikirannya masih ngeblank hanya melihat pria paruh baya dengan perawakan tinggi dan besar itu tanpa mengatakan apapun.


"Dia teman yang menolongku keluar dari rumah tanpa ketahuan oleh wartawan," jawab Raka.


Namun Ardianto nampak tidak percaya.


"Aku bukan temannya. Aku adalah korban dari keegosiannya," ucap Intan.


"Korban?" balik Ardianto.


"Ya, dia selalu mengganggu hidupku dan mencuri milikku," kata Intan bangkit.


"Mencuri?"


"Ya. Dia ... ."


Mulut Intan langsung dibekap oleh Raka. Kaki Intan lalu dihentakkan dengan keras di tas kaki Raka.


"Aww!!!," teriak Raka kesakitan sembari memegang kakinya yang sakit.


"Rasakan! Dari kemarin kau selalu membekap mulutku terus, kau pikir aku apa! Sudahlah aku mau pulang," kata Intan memakai lagi helmnya.


Ardianto yang melihat pertengkaran dua orang itu tertawa geli. "Tunggu Nak, Ayo, masuk dulu ke dalam dan minum air dulu. Masa sudah sampai sini langsung pergi begitu saja."


"Maaf Tuan, saya ada pekerjaan penting lainnya yang membuat saya harus pergi sekarang," kata Intan sopan.


"Kau itu kan baru saja menganggur, jadi tidak punya pekerjaan sekarang," ujar Raka membuat Intan menoleh ke arahnya dan menatap tajam.


"Kau sendiri yang bilang kan kalau kau mau pergi mencari pekerjaan," kata Raka tanpa rasa bersalah.


Intan memegangi dahinya sejenak menarik nafas panjang. "Melawan orang aneh harus dengan sabar," gumamnya.


"Terserah apa yang kau katakan. Aku juga berhenti karenamu!" ujar Intan.


"Aku menawarimu menjadi sekretaris utama dan kau malah menolaknya."


"Aku gila jika mau jadi sekretaris pria me-sum sepertimu sama saja masuk ke kandang buaya buntung," ujar Intan.


"Kau mengataiku buaya?" ujar Raka tidak percaya.


"Memang begitu kenyataannya, kerjaanmu itu hanya memasukkan wanita ke kamarmu setiap malamnya. Setelah bosan dibuang ke negeri antah berantah. Seperti Cindy mantan sekretarismu kemarin."


"Sabar, Nak. Tidak usah mengurusi buaya buntung itu. Ikut Om saja ke dalam lalu minum segelas air baru kau boleh pulang kembali ke rumahmu," kata Ardianto menepuk punggung Intan.