
Evan melihat ke arah Faira dan menautkan kedua alisnya. Dia tidak bisa membawa mereka ke kantor di tengah kisruhnya masalah yang terjadi tetapi tidak bisa menolaknya karena akan membuat kepercayaan Faira menurun karena dia tidak memenuhi janjinya akan menemani mereka hingga satu bulan ini.
Di lain sisi, dia juga tidak mau mengecewakan hati Ello. Ini terasa berat untuknya. Dia harus membuat keputusan yang tepat.
Membawa Faira berarti memperkenalkan pada dunia bahwa dia telah mempunyai pasangan dan seorang anak. Itu sama artinya dengan memberitahu keluarga besarnya jika dia telah menentukan sikap dengan siap menjalin hubungan serius bersama seseorang. Bukan dirinya yang ragu, dia takut Faira menolaknya.
"Bolehkah Om mengajak bicara Mom terlebih dahulu?" tanya Evan pada Ello.
Ello menganggukkan kepalanya lalu netranya kembali pada layar pipih di tangan.
"Fay, Faira," panggil Evan. Faira menoleh seketika. Tidak menjawab hanya menaikkan alisnya ke atas.
"Aku ingin bicara," kata Evan.
"Apakah masalah yang penting? Jika kau keberatan tinggal katakan saja pada Ello," jawab Faira santai sembari mengganti channel TV.
"Aku tidak keberatan hanya saja apa kau mau ikut bersamaku ke sana dengan semua risiko yang ada?" tanya Evan ambigu.
"Kita hanya mengunjungi gedung perusahaanmu bukan membuat keributan," kata Faira santai.
Kedua tangan Evan menepuk pelan pahanya sambil menarik nafas panjang.
"Baiklah kita lihat apa yang akan terjadi. Kalian bersiaplah pakai baju yang terbaik," kata Evan bangkit.
"Aku tidak membawa baju kantor, semua bajuku kau tinggal di Jakarta dan ... ," ucap Faira namun terpotong ucapan Evan.
"Kemarin kita sudah berbelanja dengan membeli hampir setengah isi toko, apakah tidak ada pakaian yang pantas untuk di bawa pergi ke kantor?"
"Aku lupa," kata Faira.
Mereka sudah mengirimkan semua pakaian itu dan diletakkan di kamar tamu, lantai bawah."
"Lalu kamar yang aku tempati?"
"Itu kamarku," ucap Evan dengan seringai licik."
"Baiklah aku akan pindah ke kamar tamu mulai sekarang."
"Tidak usah biar petugas kebersihan yang membawakannya ke atas kalian hanya perlu mempersiapkan diri saja."
Dalam hatinya Faira berpikir sekaya apa Evan hingga bisa membeli semua baju itu tanpa pikir panjang. Pasti banyak uang yang dia keluarkan. Satu juta dolar, sepertinya tidak cukup. Faira lalu mengipasi dirinya sendiri.
Dia kira belanjaan yang mereka bawa saja yang akan dibayarkan oleh pria itu ternyata semuanya benar-benar menjadi miliknya dan Ello. Wow amazing.
Dia memerlukan handphone untuk mencari tahu tentang Evan Winston terutama kekayaannya. Salah langkah saja bisa membuatnya masuk ke dalam jurang penyesalan yang dalam.
"Rumah?'' beo Faira.
"Ya, rumah keluarga turun temurun," kata Evan. "Di sana tinggal kakekku yang telah sedikit pikun dan adik dari ayah, Tante Bella," kata Evan.
"Itu jika kau sudah siap?" tanya Evan hati-hati.
"Aku tidak mengerti," jawab Faira.
"Siap masuk ke dalam duniaku," jawab Evan terus terang.
"Jika belum kita bisa tetap tinggal di sini hingga satu bulan ini," kata Evan tersenyum kecut. Dia tidak ingin mendengar kata penolakan dari Faira.
"Sekarang bersiap saja."
"Ello, kau ingin mandi bersama Om atau ibumu?" tanya Evan.
"Ello lalu mengangkat wajahnya dari layar pipih itu dan melihat ke arah Evan."
"Apa, Om?"
"Kau mau mandi bersama siapa?" tanya Evan sekali lagi.
"Bersamamu," kata Ello, "tetapi Om juga ikut mandi kan? Karena kita bisa saling menggosok badan."
"Baiklah, sekarang letakkan handphone itu dan kita membunuh kuman dengan busa ajaib sabun," ujar Evan menggotong tubuh Ello lalu membawanya ke kamar.
Kendrick menunduk sebentar ke arah Faira lalu membalikkan tubuhnya hendak pergi sebelum Faira memanggilnya.
"Kau, siapa namamu, aku ingin bertanya denganmu?"
"Namaku Kendrick, adakah yang bisa saya bantu Nyonya," tanya Kendrick sopan.
"Aku hanya ingin tahu siapa saja anggota keluarga Tuanmu?
"Tuan punya satu orang kakek yang berumur 80 an bernama Sir Antony Winston. Seorang ayah bernama Albert Winston. Ayahnya menikah lagi dengan mantan artis bernama Barbara dan mereka mempunyai anak bernama Robin. Tuan Evan bukan anak dari hasil pernikahan sah jadi statusnya sangat riskan, sedangkan Tuan Robin adalah anak sah dari Ayahnya. Jadi saya harap Anda bisa membantunya dalam segala hal," ucap Kendrick. Faira mengangkat satu alisnya ke atas.
"Aku pikir ada maksud dari kata-katamu," kata Faira.
"Hanya itu yang bisa saya sampaikan, untuk selebihnya Anda bisa tanyakan pada Tuan Evan sendiri."
Faira menggerakkan kedua bahunya sedikit ke atas. "Adakah masalah yang berat yang dipikul oleh Evan, mengapa ini terasa menantang untukku gali?" batin Faira.